
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Rio de Janeiro, Brasil. (Tim Media Presiden Prabowo)
JawaPos.com - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno menampik isu soal dugaan penetapan tarif bea masuk produk-produk impor dari Indonesia yang cukup tinggi oleh Amerika Serikat (AS) berkaitan dengan debut Indonesia di ajang BRICS Brasil. Menurutnya, banyak negara yang bukan anggota BRICS juga mengalami kondisi yang sama.
Hal ini terlihat dari daftar negara yang dikirimi surat oleh Presiden AS Donald Trump baru-baru ini. Dia mencontohkan, Jepang dikenakan 24 persen, Korea Selatan 25 persen, Myanmar 44 persen, Laos 48 persen, South Afrika 37 persen, Thailand 36 persen, Kamboja 49 persen, Bangladesh 37 persen, Bosnia 35 persen, Tunisia 28 persen, hingga Serbia 37 persen.
“Nggak tuh. Ini kan banyak juga negara yang bukan anggota BRICS. Jadi nothing to do with that,” ungkapnya ditemui usai rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Kompleks Senayan, Jakarta, Selasa (8/7).
Pemerintah sendiri masih akan mencoba jalur negosiasi terkait penetapan tarif ini. Sebab, kata dia, masih ada waktu sampai 1 Agustus 2025 yang bisa digunakan untuk melakukan negosiasi atas penetapan tarif impor 32 persen pada barang-barang dari Indonesia.
“Tadi saya juga sudah konsultasi dengan Pak Airlangga, Pak Menko, beliau masih di Brazil. Jadi masih ada waktu untuk negosiasi,” ungkapnya.
Ditanya soal tidak maksimalnya proses negosiasi sebelumnya hingga gagal menekan besaran angka bea masuk yang ditetapkan oleh AS, Havas menegaskan, bahwa negosiasi masih berproses. Ada peluang untuk negosiasi lebih lanjut dilihat dari surat yang disampaikan oleh Trump. Tak ada sesuatu yang spesifik. Kalimatnya semua sama, tinggal ganti angka saja.
(Seberapa optimis negosiasi berhasil?, red) Ya tergantung di negosiasinya. Nanti tempatnya, timnya Pak Airlangga. Yang jelas kita sudah menyampaikan beberapa tawaran,” papar Mantan Dubes RI untuk Jerman tersebut.
Havas mengaku tak bisa menyampaikan secara spesifik tawaran yang telah disampaikan. Termasuk besaran angka yang dinego terkait biaya impor ini. Sebab, dalam proses negosiasi tidak bisa semua hal disampaikan secara terbuka.
Dia turut menekankan, bahwa terkait negosiasi ini semua di bawah komando Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. “Ya ada angkanya lah. Tapi saya nggak bisa buka. Ada tawaran-tawaran yang kita sampaikan. Terus juga ada yang kita inginkan juga secara spesifik. Jadi itu kira-kira,” ungkapnya.
Sementara itu, disinggung soal ada tidaknya rencana percepatan pelantikan calon duta besar Indonesia untuk AS yang sudah lulus uji fit and proper test menyusul adanya surat dari Trump ini, Havas mengungkapkan, bahwa itu kewenangan Istana. Sehingga, belum bisa dipastikan. “Kan proses pelantikan itu ada detail-detailnya. Biasanya ada prosesnya,” sambungnya.
Havas pun menekankan, bahwa secara umum peran AS hanya berperan sekitar 18 persen dalam perdagangan global. Sementara sisanya, berada di luar AS. Karenanya, yang digarisbawahi olehnya adalah upaya Indonesia untuk terus membuat diversifikasi mitra perdagangan. Tidak hanya dengan Amerika, tapi juga dengan pasar-pasar yang lama. Kemudian, memperbaiki pasar di Uni Eropa atau membuka peluang lebih besar di pasar-pasar yang baru seperti Afrika dan di Latin Amerika.
Di Asia Tenggara sendiri, menurutnya, juga masih ada potensi. Karenanya, perlu ada suatu tinjauan dalam konteks perdagangan di Asia Tenggara untuk melihat kembali apakah ada barrier yang bisa dihilangkan atau diturunkan. Sehingga bisa meningkatkan perdagangan.
Dia mencontohkan, ketika dirinya mengunjungi Sabah, Malaysia beberapa bulan lalu. Di sana, dia melihat adanya aktivitas perdagangan antara negara bagian Malaysia dengan Indonesia. Dan, itu bisa diekspand. Dengan begitu, aktivitas perdagangan ini tidak hanya melibatkan wilayah Kalimantan saja yang langsung bertetangga, tapi juga wilayah Sulawesi.
“Jadi perdagangan antara provinsi kita dengan negara bagian itu di Malaysia misalnya, itu harus ditingkatkan. Supaya kita bisa menciptakan suatu resiliensi ekonomi. Sehingga kita tidak mudah shock kalau ada faktor-faktor eksternal,” tegasnya.
Disinggung soal peluang outbound investment, wamenlu menyebut sudah cukup banyak, dan tidak hanya di AS saja. Ini tergantung dari market dan supply chain, resource, dan lainnya. Adapun untuk AS sendiri sektor yang menjanjikan adalah migas.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
