Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 5 Juni 2025 | 17.06 WIB

Mendagri Tito Karnavian Sebut Perekonomian NTB Minus Akibat Tambang, Minta Gubernur Gerakkan Sektor Lainnya

Mendagri Tito Karnavian, dalam Musrenbang RPJMD 2025–2029 dan RKPD 2026 Provinsi NTB di Hotel Lombok Raya, Rabu (4/6). (Kemendagri)

JawaPos.com-Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menyoroti pertumbuhan ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 5 Mei 2025, pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut menyentuh angka -1,47.

Tito menyatakan, kondisi perekonomian daerah perlu menjadi perhatian berbagai pihak agar dapat kembali tumbuh positif. Ia tak menginginkan, angka ini berdampak pada perekonomian nasional.

"Kalau pertumbuhan ekonominya minus, satu, dua, tiga daerah provinsi minus, itu akan membuat angka pertumbuhan nasional menjadi menurun," kata Tito dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029 dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2026 Provinsi NTB di Hotel Lombok Raya, Rabu (4/6).

Ia menduga, rendahnya pertumbuhan ekonomi Provinsi NTB disebabkan oleh pengembangan smelter di Pulau Sumbawa yang belum rampung. Ia tak memungkiri, perekonomian NTB masih sangat bergantung pada sektor tambang.

"Saya tahu Pak Gubernur sudah bekerja keras untuk menyampaikan agar dilakukan relaksasi smelter," ucap Tito.

Mantan Kapolri itu menegaskan pentingnya menjaga pertumbuhan ekonomi seluruh daerah di Indonesia. Sebab, capaian pertumbuhan ekonomi nasional merupakan agregat dari kinerja semua daerah.

Karena itu, ia akan berkoordinasi dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia agar persoalan di NTB terkait masalah pertambangan dapat segera diselesaikan.

Tito juga mengimbau, pentingnya daerah untuk mengendalikan inflasi sebagai upaya menumbuhkan perekonomian. Pasalnya, inflasi berkaitan dengan kenaikan harga barang dan jasa yang akan memengaruhi beban hidup masyarakat.

“Kalau inflasinya tinggi, harganya mahal, ya rakyat akan teriak. Nyari beras mahal, nyari telur mahal. Ini poin sangat penting, ini menyangkut masalah perut, masalah beban hidup,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, menargetkan kontribusi tambang terhadap perekonomian di NTB ke depan akan diperkecil. Ia memastikan, efek luas tambang akan kalah oleh pariwisata maupun pertanian.

"Kita harapkan dari pertanian, kehutanan, perikanan dapat memberikan 21,45 persen distribusi PDRB sesuai lapangan usaha," tegasnya.

Ia mengungkapkan, berbagai sektor unggulan Provinsi NTB dapat mendukung pertumbuhan ekonomi, seperti pertanian dan perkebunan, peternakan, perikanan, pariwisata, serta pertambangan energi.

“Harapan kami, ke depan kami dapat melakukan diversifikasi sehingga kontribusi tambang dapat kita perkecil dengan meningkatkan kontribusi dari sektor-sektor lainnya,” paparnya. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore