Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 April 2025 | 23.53 WIB

Donald Trump Naikkan Tarif Impor, Legislator Dorong Pemerintah Kurangi Ketergantungan Perdagangan dengan AS, Cari Pasar Lain

Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan mendorong pemerintah mengantisipasi dampak kebijakan tarif impor baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Istimewa) - Image

Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan mendorong pemerintah mengantisipasi dampak kebijakan tarif impor baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Istimewa)

JawaPos.com - Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan mendorong pemerintah mengantisipasi dampak kebijakan tarif impor baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Salah satunya dengan mengurangi ketergantungan perdagangan dengan AS dan mencari pasar baru.

Marwan menyarankan pemerintah mengadopsi langkah-langkah strategis guna memitigasi dampak negatif dari kebijakan tarif timbal balik AS. Salah satunya, mendiversifikasi pasar ekspor, mengurangi ketergantungan pada AS dengan memperluas hubungan dagang dengan negara-negara lain.

"Perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara potensial dapat menjadi salah satu solusi untuk mengamankan pasar alternatif bagi produk-produk ekspor Indonesia," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (3/4).

Selain itu, lanjutnya, kebijakan insentif pajak dan subsidi dapat diberikan kepada industri-industri yang terkena dampak. Tujuannya untuk meningkatkan daya saing dan menjaga stabilitas sektor manufaktur.

Di sektor keuangan, dia memandang stabilitas nilai tukar rupiah juga perlu dijaga melalui kebijakan moneter yang adaptif. Menurutnya, Bank Indonesia dapat mengoptimalkan cadangan devisa dan menerapkan kebijakan intervensi pasar guna menghindari gejolak yang berlebihan.

"Dalam forum bilateral, pemerintah Indonesia juga dapat bernegosiasi dengan AS untuk memperoleh pengecualian tarif bagi beberapa produk ekspor utama atau memperbarui program Generalized System of Preferences (GSP) guna mempertahankan akses istimewa ke pasar AS," katanya.

Marwan menambahkan risiko yang ditimbulkan dari kebijakan Trump ini masih dapat dikelola dengan langkah-langkah mitigasi yang tepat meski membawa tantangan baru bagi ekonomi Indonesia.

"Dengan pendekatan yang mencakup diversifikasi pasar, kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif, serta diplomasi perdagangan yang proaktif, saya yakin Indonesia dapat tetap menjaga stabilitas ekonomi dan mempertahankan pertumbuhan di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompleks," pungkas Marwan.

Pasalnya, jika tak diantisipasi, penerapan tarif ini berpotensi memengaruhi dinamika perdagangan internasional dan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap ekonomi Indonesia.

"Kami mendorong pemerintah segera mengantisipasi dampak perang tarif ini, sekaligus mencarikan solusi-solusi mengantisipasi dampak perang tarif ini," kata Marwan.

Dia mengakui, kebijakan Trump ini menimbulkan kekhawatiran bagi ekonomi Indonesia. Sebab dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah, harga emas, dan neraca perdagangan dengan AS.

Menurutnya, berbagai produk ekspor utama Indonesia seperti mesin dan peralatan listrik, garmen, lemak dan minyak nabati, alas kaki, serta produk hewan air bisa mengalami penurunan daya saing akibat meningkatnya tarif impor di pasar AS.

"Padahal, industri pengolahan yang banyak bergantung pada ekspor ini menyerap sekitar 13,28 persen tenaga kerja Indonesia pada tahun 2023, sehingga dampak dari kebijakan ini dapat dirasakan oleh jutaan pekerja di sektor tersebut," imbuhnya.

Di sisi lain, Marwan menilai riset yang dilakukan oleh Economist Intelligence Unit (EIU) memperkirakan dampak kebijakan Trump terhadap Indonesia tidak akan sebesar dampak yang dirasakan oleh negara-negara Asia Pasifik lainnya seperti China, Jepang, dan Vietnam.

Da pun menjelaskan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Amerika Serikat mengalami defisit neraca perdagangan dengan Indonesia pada tahun 2023 dan 2024 berturut-turut sebesar 11,97 miliar dolar AS dan 16,08 miliar dolar AS, yang masih lebih kecil dibandingkan dengan defisit yang dialami AS terhadap China, Jepang, dan Vietnam.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore