Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 Oktober 2024 | 16.07 WIB

Debat Publik Pilgub Jatim Sesi Pertama: Para Calon Saling Adu Data, Ada Guyonannya

SAMPAIKAN VISI-MISI: Tiga pasangan calon gubernur Jatim kompak mengenakan pakaian adat dalam debat publik Pilgub Jatim 2024 di Graha Unesa tadi malam (18/10). (DIPTA WAHYU/JAWA POS) - Image

SAMPAIKAN VISI-MISI: Tiga pasangan calon gubernur Jatim kompak mengenakan pakaian adat dalam debat publik Pilgub Jatim 2024 di Graha Unesa tadi malam (18/10). (DIPTA WAHYU/JAWA POS)

JawaPos.com – Ragam warna tersaji dalam perhelatan debat publik Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur (Pilgub) Jatim 2024 yang berlangsung di Graha Unesa tadi malam (18/10).

Seluruh pasangan calon (paslon), yakni Luluk Nur Hamidah-Lukmanul Khakim, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak, serta Tri Rismaharini-KH Zahrul Azhar Asumta (Gus Hans), beradu argumen dan data. Selingan guyonan juga membuat suasana debat makin meriah.

Saling unjuk kemampuan sudah terasa sejak sesi awal debat. Salah satunya ketika mereka diminta membahas pertanyaan bernomor 6C yang bertema soal melemahnya kohesi sosial yang berpotensi memicu disharmoni di masyarakat.

Menanggapi pertanyaan itu, Khofifah menyebut bahwa di Jatim sudah banyak program untuk menjaga harmonisasi di masyarakat yang sarat perbedaan. ”PR saat ini adalah gadget yang mengganggu pola interaksi anak-anak muda,” katanya. Karena itu, Khofifah menyebut bahwa solidaritas sosial perlu dilakukan.

Dari jawaban Khofifah, Risma punya pandangan lain. Dia menyebut kohesi sosial dipengaruhi ketahanan ekonomi serta akses publik. Selain itu, banyak anak muda yang tidak paham tentang wawasan Nusantara. ”Mereka belum mengerti pentingnya toleransi,” ucapnya.

Luluk juga punya argumen lain soal itu. Dia menyebut disharmoni bisa diatasi jika semua pihak konsisten menerapkan Pancasila. ”Yang juga penting adalah dialog. Jangan sampai keberagaman memicu disharmoni,” katanya.

Menanggapi jawaban Risma dan Luluk, Khofifah mengatakan bahwa solusi masalah tersebut sudah diterapkan. ”Jawa Timur adalah satu-satunya provinsi yang memiliki asrama Nusantara untuk menampung mahasiswa luar daerah. Jatim paling banyak terima afirmasi dari anak-anak Papua. Jadi, kita sudah melakukan,” ungkapnya.

Adu argumen antara ketiga kandidat juga terjadi di hampir semua tema yang dibahas.

Nuansa sama terasa saat para calon wakil gubernur (cawagub) diberi kesempatan untuk unjuk gigi. Meski debat berlangsung sengit, selingan guyonan masih tersaji.

Salah satunya ketika para cawagub dimintai pandangannya perihal mengembangkan kekayaan budaya Jatim menjadi potensi wisata. Sebuah guyonan disampaikan Gus Hans menanggapi argumen dari Lukman-Emil. ”Terima kasih Mas Lukman, Mas Emil. Kalau saya jadi, sepertinya cocok saya jadikan konsultan,” kata Gus Hans.

Debat pertama kemarin mengambil tema Transformasi Sosial dan Peningkatan Produktivitas Sumber Daya Lokal untuk Kesejahteraan Masyarakat. Panelis membaginya dalam tujuh subtema. Tak hanya meriah, nuansa Jawa Timuran juga begitu terasa. Seluruh paslon kompak mengenakan baju adat Jatim. (hen/c6/ris)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore