
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ajak seluruh stakeholder kesehatan menyatukan langkah dan harmonisasi mewujudkan sistem layanan kesehatan yang tangguh.
JawaPos.com–Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa ajak seluruh stakeholder kesehatan menyatukan langkah dan harmonisasi mewujudkan sistem dan layanan kesehatan yang tangguh serta peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Gubernur Khofifah menjelaskan, lima poin bidang kesehatan yang perlu diperkuat dalam Program Prioritas Kesehatan 2023. Yakni penurunan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), stunting, pencegahan dan tindakan penyakit tuberkulosis paru (TBC), serta penyakit katarostropik.
”Penurunan AKI, AKB, dan stunting, merupakan prioritas pembangunan kesehatan sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024,” terang Khofifah.
Upaya pencegahan AKI dan AKB juga diikuti dengan sosialisasi masif mengenai stunting. Ketiga komponen tersebut merupakan satu kesatuan prioritas penanganan yang tidak terpisahkan.
”Kami juga berupaya meningkatkan partisipasi masyarakat untuk hadir ke posyandu yang menjadi salah satu intervensi untuk mendeteksi masalah balita stunting,” kata Khofifah.
Selain pencegahan AKI, AKB, dan stunting, Pemprov Jatim menaruh perhatian serius terhadap penyakit tuberkulosis paru (TBC). Jatim menduduki posisi kedua di tingkat nasional dalam penemuan kasus TBC untuk menuju eliminasi TBC pada 2030.
Menurut dia, strategi temukan obati sampai sembuh (TOSS) merupakan langkah yang tepat dalam memutus rantai penularan TBC di masyarakat. Itu dilakukan melibatkan seluruh sektor kegiatan investigasi kontak TBC dan skrining mandiri gejala TBC melalui aplikasi e-tibi yang dilakukan masyarakat.
”Upaya tersebut diharapkan mampu menemukan kasus TBC sedini mungkin dan pasien TBC segera mendapatkan pengobatan yang bermutu di seluruh fasilitas layanan kesehatan di Provinsi Jawa Timur,” tutur Khofifah.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga berperan aktif dalam mewujudkan upaya penataan sistem rujukan penyakit katarostropik di. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menginisiasi penyusunan clinical guidelines penyakit prioritas level provinsi dengan menjadikan rumah sakit milik provinsi Jawa Timur sebagai percontohan. Pemprov juga menggandeng organisasi profesi serta asosiasi sebagai evaluator.
”Clinical guidelines dapat diadaptasi seluruh stakeholder kesehatan dan disesuaikan dengan kemampuan atau kompetensi di faskes masing-masing dengan dinas kesehatan sebagai pembina,” terang Khofifah.
Gubernur menambahkan, capaian yang baik di bidang kesehatan akan membangun quality of life berseiring dengan perkembangan industri manufaktur di Jatim yang cukup signifikan. Industri manufaktur akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat selanjutnya diikuti dengan derajat kesehatan yang baik.
”Industri manufaktur makin tinggi dan kesejahteraan tinggi, quality of life juga makin tinggi. Dengan begitu, hadirnya pelayanan kesehatan yang makin kualitatif dan merata menjadi sangat penting,” papar Khofifah.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
