
Menteri BUMN Erick Thohir saat konferensi pers terkait penyelundupan motor Harlery Davidson dan sepeda Brompton menggunakan pesawat baru milik Garuda Indonesia di Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (5/12/2019). Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu
JawaPos.com - Virus korona mulai menjadi momok yang begitu menakutkan bagi semua negara di dunia. Saat ini saja, tercatat sudah ada 910 orang yang meninggal dunia karena virus yang muncul di Wuhan, Tiongkok itu.
Hal ini pun membuat Asia dipandang sebelah mata oleh bangsa di benua lain dan bahkan mirisnya Asia disebut sebagai benua penyakitan.
"Virus korona ini bukan hanya ancaman kesehatan, tapi juga ancaman bahaya bagi perekonomian. bahkan yang paling menyedihkan, sudah mulai banyak negara yang menyebut virus ini sebagai disebut penyakit Asia. Bagaimana kita sekarang bangsa Asia itu dianggap penyakitan," ujar Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Tohir di Jakarta, (10/2).
Untuk menepis pandangan tersebut, ia meminta agar masyarakat Indonesia menjadi lebih perhatian lagi dengan kesehatan tubuh. Salah satunya yang dilakukan oleh Indonesia adalah dengan konsolidasi rumah sakit BUMN di mana perusahaan induknya akan diajak lebih peduli dengan kesahatan.
"Health security sangat penting dalam menanggulangi sebuah wabah atau penyakit, kita lakukan konsolidasi RS dan ada holding farmasi yang bisa jadi benteng atau pertahanan kita sebagai bangsa," ungkapnya.
Erick juga pun mengajak kepada seluruh sektor BUMN, khususnya farmasi, alat kesehatan dan rumah sakit untuk meningkatkan kinerja dalam pencegahan penyakit epidemik.
"Kita mesti tunjukkan ke dunia, khususnya Indonesia, kita negara yang kuat, hebat bukan hanya jadi market," tutup dia.
Korona Bayangi Kurs Rupiah
Sementara itu, nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih dibayangi oleh kekhawatiran wabah virus korona dengan mencatat pertambahan orang yang terinfeksi dan yang meninggal akibat virus ini. Mengutip yahoofinance saat ini rupiah mulai lemah melawan dolar di posisi Rp 13.704.
Sebagai informasi, hingga pukul 05.00 GMT, Senin, terdapat 40.235 kasus yang dikonfirmasi dilaporkan di Tiongkok dan 909 kematian akibat virus tersebut, serta 319 kasus di 24 negara lain, termasuk satu kematian.
“Ini berpotensi menekan rupiah,” kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra kepada Jawapos.com, Selasa (11/2).
Namun di sisi lain, tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS yang turun lagi di bawah 1,6 persen bisa menahan pelemahan rupiah dan mungkin mendorong penguatan rupiah terhadap dolar AS.
Disamping itu, kabar bahwa Bank Sentral Tiongkok yang kembali menyuntikan dana ke pasar sebesar 100 milyar yuan dapat memberikan sentimen positif ke pasar aset berisiko termasuk rupiah.
“Potensi rupiah hari ini di 13.670-13.720 terhadap dolar AS,” tuturnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
