Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 Mei 2021 | 02.23 WIB

KIPI Beberkan Kronologi Pemuda yang Wafat Usai Disuntik AstraZeneca

Vaksin covid astrazeneca. (Reuters) - Image

Vaksin covid astrazeneca. (Reuters)

JawaPos.com - Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Hindra Irawan Satari memaparkan kronologi kasus meninggalnya Trio Fauqi Firdaus, 22 tahun, usai disuntik vaksin AstraZeneca. Hindra mengatakan, cerita ini ia dapatkan dari ibu korban.

Kala itu, kata Hindra, Trio mendapatkan SMS dari perusahaan tempat dia bekerja untuk jadwal vaksinasi di Gelora Bung Karno (GBK). "Sampai di sana (GBK-Red) mereka (Trio dan teman-temannya, Red) divaksin," ujar Hindra dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Kamis (20/5).

Setelah divaksin tersebut, Trio merasa tidak enak badan. Ia pun meminta izin kepada atasannya untuk pulang dan beristirahat guna memulihkan kondisinya setelah divaksin.

"Oleh bosnya diperkenankan untuk pulang. Sampai rumah 15.30 WIB ketemu sama ibunya," katanya.

Setelah sampai di rumah, Trio menuturkan kepada ibunya ia merasa pusing. Sang ibu menawarkan Trio untuk meminum paracetamol, namun ditolaknya.

"Nggak mau ah, karena aku baru divaksin," kata Hindra menirukan ucapan Trio.

Hindra melajutkan, Trio juga tidak pergi ke dokter atau klinik atas keluhan tersebut. Padahal, suhu tubuhnya kala itu naik hingga 39 derajat Celcius. Trio bahkan tetap menjalankan ibadah puasa dan hanya meminum air putih untuk berbuka lantaran ia tidak mau makan.

Karena kondisinya yang terus memburuk, Trio akhirnya dibawa ke klinik terdekat. Sayang, klinik tujuan tidak beroperasi kala itu. Trio pun akhirnya kembali dibawa ke rumah. "Terus minta dipijat. Ketika dipijat, dia lalu kejang," tuturnya.

Trio pun dilarikan ke rumah sakit. Sayang, nyawanya tidak tertolong. "Diagnosisnya death on arrival," katanya.

Dari kronologi tersebut, Hindra menjelaskan sampai saat ini pihaknya belum mengetahui dengan jelas penyebab kematian Trio. Pasalnya, belum ada laporan mengenai rekam medisnya sebelum dan setelah disuntik vaksin tersebut.

"Sulit untuk menentukan penyebab kematiannya. Karena nggak ada hasil lab, nggak ada rontgen, nggak ada CT scan kepala, jadi sulit untuk mengatakan ini terkait sama vaksinasi," pungkasnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore