Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 Oktober 2018 | 23.58 WIB

Ratna Sarumpaet Akui Tak Pernah Dianiaya: Saya Pencipta Hoax Terbaik

Ratna Sarumpaet akhirnya mengakui tak pernah dianiaya dan telah berbohong. - Image

Ratna Sarumpaet akhirnya mengakui tak pernah dianiaya dan telah berbohong.

JawaPos.com – Polemik mengenai benar tidaknya Ratna Sarumpaet dianaya berakhir, Rabu (3/9). Setelah bungkam sejak dugaan penganiayaan itu mencuat Selasa (2/9), sore tadi Ratna akhirnya buka bicara. Secara mengejutkan, Ratna mengakui tidak ada penganiayaan terhadap dirinya. Dia meminta maaf telah membuat hoax.


Dalam konferensi pers yang digelar rumahnya kawasan Kampung Melayu Kecil, Ratna Sarumpaet mengatakan lebam wajahnya bukan akibat penganiayaan. Tetapi, karena melakukan sedot lemak di bagian pipi kiri di Rumah Sakit Khusus Bedah Bina Estetika. Klop seperti yang diungkap polisi.


Dalam konfrensi pers selama 13.26 menit itu, Ratna menyampaikan permohonan maafnya sambil menahan tangis yang keluar dari matanya. Dia meminta maaf sebesar-besarnya kepada semua pihak kecewa akibat hoax yang dia ciptakan. Terutama, pada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais.


Berikut ini adalah petikan Ratna Sarumpaet ‎menyampaikan permohonan maafnya ke publik:


Pada saat saya merasa telah melakukan kesalahan, kalian tidak menjauh. Saya mohon apa pun yang saya sampaikan hari ini (menjadi) sesuatu yang berguna. Yang membuat kegaduhan dalam dua hari terakhir ini mereda dan membuat kita semua bisa saling memafkan.


Tanggal 21 September, saya mendatangi RS khusus bedah. Menemui dr Sidik, ahli bedah plastik. Kedatangan saya ke situ karena kami sepakat beliau akan menyedot lemak di pipi kiri saya. Dokter Sidik adalah dokter bedah plastik yang saya percaya. Saya sudah 3-4 kali ke sana.


Tapi setelah operasi dijalankan pada tanggal 21 September, dan 22 September pagi saya bangun, saya lihat muka saya bengkak secara berlebihan. Tidak seperti yang dialami biasanya. Dokter Sidik saya tanya, ini kenapa begini? Dia bilang itu biasa. Intinya begitu. Jadi, apa yang saya katakan ini menyanggah bahwa ada penganiayaan.


Bahwa betul saya ada dari dr Sidik hari itu. Dan pulang dari sana setelah saya dijadwalkan pulang. Lebam-lebam di muka saya masih ada. Seperti ada kebodohan yang tidak pernah saya bayangkan bisa saya lakukan dalam hidup saya. Saya pulang seperti membutuhkan alasan pada anak saya di rumah, kenapa muka saya lebam-lebam. Dan memang saya ditanya, kenapa? Saya jawab dipukuli orang.


Jawaban pendek itu dalam satu Minggu ke depannya terus dikorek karena namanya juga anak. Lihat muka ibunya lebam-lebam, kenapa? Saya enggak tahu kenapa dan saya tak pernah membayangkan bahwa saya akan terjebak dalam kebodohan seperti ini.


Saya terus mengembangkan ide pemukulan itu dengan beberapa cerita seperti yang diceritakan. Dan ada kebenarannya dengan apa yang saya katakan pada anak-anak saya. Jadi, selama seminggu lebih sebenarnya cerita itu hanya berputar-putar di keluarga saya dan hanya untuk kepentingan saya berhadapan dengan anak-anak saya.


Tidak ada hubungannya dengan politik. Tidak ada hubungannya untuk keluar. Tapi setelah sakit di kepala saya mereda dan saya mulai berhubungan dengan pihak luar, saya enggak tahu bagaimana saya memaafkan ini kelak. Tapi saya kembali melakukan kesalahan itu. Saya kembali dengan cerita itu, bahwa saya dipukuli. Mohon jangan saya dikira mau mencari pembenaran, enggak, ini salah.


Apa yang saya lakukan adalah sesuatu yang salah. Ketika ketemu Fadli Zon datang ke sini, cerita itu yang sampai ke dia (bahwa dia dipukul). Iqbal (anaknya) saya panggil ke sini juga cerita itu yang berkembang di dalam percakapan. Dan hari Selasa, tahu-tahu foto saya sudah beredar di medsos, saya enggak sanggup baca itu.


Saya ada beberapa peristiwa yang membawa saya ke Pak Djoksan (Djoko Santoso), lalu ke Pak Prabowo. Bahkan di depan Pak Prabowo, orang yang saya perjuangkan, orang yang saya cita-citakan memimpin bangsa ini ke depan, mengorek apa yang terjadi kepada saya, saya juga masih melakukan kebohongan itu.


Sampai kita keluar dari lapangan Polo kemarin, saya tetap diam, saya biarkan semua bergulir dengan cerita itu. Di lapangan Polo sebenarnya saya merasa betul ini salah. Waktu saya berpisah dengan Pak Prabowo dan Amien Rais, saya tahu sebenarnya di hati ini saya salah. Tapi saya tidak mencegah mereka. Itulah yang terjadi.


Jadi tidak ada penganiayaan. Itu hanya cerita khayal yang diberikan entah oleh setan mana ke saya dan berkembang seperti itu. Saya tidak sanggup melihat bagaimana Pak Prabowo membela saya dalam sebuah jumpa pers.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore