Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Juli 2021 | 20.16 WIB

Dokter Eva Ungkap Banyak Nakes Resign karena Insentif Belum Cair

Tenaga Medis dengan sigap Merawat pasien positif Covid-19 di IGD Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (2/7/2021). Melonjaknya kasus COVID-19 membuat tenaga medis RSU Kabupaten Tangerang bersigap menangani pasien. Hal ini guna menghindari pe - Image

Tenaga Medis dengan sigap Merawat pasien positif Covid-19 di IGD Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (2/7/2021). Melonjaknya kasus COVID-19 membuat tenaga medis RSU Kabupaten Tangerang bersigap menangani pasien. Hal ini guna menghindari pe

JawaPos.com - Ketua Dokter Indonesia Bersatu, dokter Eva Sri Diana Chaniago mengatakan banyak tenaga kesehatan yang resign dari rumah sakit (RS) dan memilih profesi lain di masa pandemi Covid-19. Dokter Eva mengatakan, mereka memilih berhenti karena beban kerja yang berat. Kemudian ditambah insentif dari pemerintah yang cairnya sangat lama.

"Jadi semua karyawan tetap yang bukan PNS (Pegawai Negeri Sipil) sudah banyak yang resign. Karena beban kerja yang berat dan insentif," ujar dokter Eva kepada JawaPos.com, Sabtu (17/7).

"Banyak yang berhenti dan saya tanya karena beban kerja yang banyak, pasien banyak, dan gaji enggak imbang belum lagi insentif enggak turun-turun. Daripada bertempur perang mending cari makan yang lain buat anak istri," tambahnya.

Menurut dokter spesialis paru ini, bukan hanya para tenaga medis yang mengundurkan diri. Menurutnya ada juga relawan yang memilih untuk berhenti. Karena jumlah tenaga kesehatan dan relawan tidak sebanding dengan banyaknya jumlah pasien Covid-19.

"Jadi ada relawan lama enggak dibayar. Beban kerja yang berat, pasien makin banyak, nakes makin dikit," katanya.

Dokter Eva menambahkan para perawat juga banyak yang mengundurkan diri lantaran diminta suaminya. Karena pekerjaan mereka sangat berisiko menularkan Covid-19 di tengah penularan yang semakin mengganas.

"Banyak perawat yang disuruh berhenti sama suaminya, karena pulang telat, sampai di rumah bawa penyakit Covid-19. Karena saat ini jarang hanya nakes yang kena. Pasti suaminya kena," tegasnya.

Bahkan menurut dokter Eva, banyak juga dokter-dokter baru yang juga mengudurkan diri memilih kembali sekolah lagi. Hal ini lantaran jumlah tenaga kesehatan tidak sebanding dengan banyaknya pasien Covid-19.

"Kalau dokter-dokter juga begitu mendingan mereka sekolah daripada mereka kerja mati-matian dan gajinya kecil dan jam kerjanya banyak. Masalahnya kalau gajinya dibanyakin kalau tenaganya terlalu capek juga enggak bisa," ungkapnya.

Saat ini banyak tenaga medis yang masih bertahan hanya karena tidak punya pilihan lain. Karena di situasi saat ini sulit mencari pekerjaan lain.

"Ada yang baru sebulan sudah keluar, jadi mereka yang bertahan itu karena enggak punya pilihan. Enggak punya pilihan mau cari lagi kerja di mana," katanya.

Oleh sebab itu, dokter Eva meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk bisa mencairkan insentif dan membayar klaim tagihan RS. Sebab RS akan tidak bisa membayar gaji pegawainya jika belum ada pembayaran dari pemerintah.

"Jadi kalau Kemenkes lama-lama bayar utang, masalah klaim BPJS, dan RS itu enggak ada duit, kalau enggak ada duit enggak bisa gaji karyawan," pungkasnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore