Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 Maret 2021 | 19.14 WIB

Setahun Covid-19 di Indonesia, dari 2 Kasus di Kemang Hingga 1,3 Juta

Ilustrasi: Dunia kini merasakan dampak ekonomi langsung dari pandemi Covid-19. (EurActiv). - Image

Ilustrasi: Dunia kini merasakan dampak ekonomi langsung dari pandemi Covid-19. (EurActiv).

JawaPos.com - Tepat 2 Maret 2020 lalu, Presiden Joko Widodo mengumumkan dua orang pertama terinfeksi Covid-19 di tanah air. Mereka adalah ibu dan anak yang berprofesi sebagai penari, asal Depok, Jawa Barat. Kasus kali pertama ditemukan di Kemang, Jakarta Selatan. Setahun sudah berlalu, kini kasus Covid-19 di tanah air mencapai 1.341.314 orang terkonfirmasi positif hingga Senin (1/3).

Virus Korona SARS-COV-2 pertama kali dilaporkan muncul di Wuhan, Tiongkok, sejak Desember 2019. Virus mematikan itu, muncul awalnya dari Pasar Basah Wuhan. Semula gejala klasiknya adalah demam, batuk, dan sesak napas. Namun seiring berjalannya waktu, pasien mengalami gejala lainnya seperti gangguan pencernaan, kehilangan bau, masalah kulit, dan gangguan organ lainnya.

Indonesia pertama kali mengumumkan kasus Covid-19 ditemukan di tanah air melalui pemeriksaan dengan metode tes PCR. Ketika itu pada 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus tersebut.

Baca Juga: 3 Keluhan Ini Bisa Terjadi Pada Mata Saat Terinfeksi Covid-19

Presiden Jokowi mengklaim sejak awal pemerintah serius dan sangat ketat mengikuti protokol kesehatan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berkaitan dengan virus Korona dan juga bekerja sama dengan perwakilan WHO di jakarta. Ketika ada kasus di Wuhan, Hubei Tiongkok, pemerintah juga mempersiapkan mengevakuasi 241 WNI.

Pemerintah juga mengevakuasi WNI di kapal World Dream yang dekat Batam, Singapura, yang berjumlah 188 WNI sesuai dengan prosedur protokol kesehatan yang ketat. Mereka pun dibawa ke Pulau Sebaru Kecil. Indonesia juga mengevakuasi 69 orang kru kapal Diamond Princess juga dievakuasi dengan protokol yang ketat lewat bandara Kertajati di Provinsi Jawa Barat. Presiden Jokowi mengklaim penanganan ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani persoalan yang ada berkaitan dengan virus Korona.

Kini Indonesia sudah melakukan tes Covid terhadap 7,2 juta orang di tanah air dengan jumlah spesimen sebanyak 10,8 juta spesimen. Sudah ada 1,1 juta orang sembuh dari Covid-19. Dan sudah 36 ribu jiwa lebih meninggal dunia akibat Covid-19 per Senin (1/3).

Catatan Epidemiolog

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono menjelaskan perkembangan 1 tahun perjalanan Covid-19 di tanah air, banyak data yang bisa dicatat. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian yakni testing, tracing, treatment, isolasi mandiri, karantina, hingga engagement community.

Testing

Tes perlahan meningkat dari awal hanya 1 laboratorium, lalu 6 laboratorium, dan sekarang ada ratusan laboratorium. Pemeriksaan terhadap spesimen juga naik dari awal hanya puluhan, ratusan, hingga 20 ribu dan 30 ribu sesuai target Presiden Joko Widodo. Bahkan sempat juga mencapai lebih dari 70 ribu tes sehari.

Meski begitu, semakin lama dalam beberapa pekan terakhir, testing justru semakin menurun. Terakhir pada Senin (1/3) testing hanya 18 ribu orang. Sehingga angka positivity rate melonjak jadi 35 persen di atas standar WHO yakni 5 persen.

Isolasi

Isolasi ada perbaikan, dari awal isolasi mandiri hingga di sejumlah tempat yang disediakan pemerintah. Di Sumatera Barat, kata dia, bahkan lokasi isolasi disediakan oleh pemerintah dari awal. Di provinsi lain mulai dilakukan oleh pemerintah baru sejak September. "Padahal harusnya dari awal memang disediakan oleh pemerintah," katanya.

Karantina

Karantina dinilai tak dibuat ketat peraturannya. Lalu bagi seseorang yang kontak erat dengan kasus Covid-19 hanya diswab tanpa dikarantina. "Ada swab kontak erat tapi tak ada karantina. Harusnya dibuat peraturannya. Baik itu pemerintah, perda harus dibuat," tegas Tri Yunis.

Tracing

Pada April 2020, kemampuan kontak tracing Indonesia yakni 20-30 orang. Lalu sekarang setelah setahun, justru makin menurun ke angka 4-10. "Itu salah. Makin sekarang makin turun," jelasnya.

Hal itu membuat temuan kasus turun karena banyak orang yang tak bergejala tapi tidak diswab. Dia menenggarai masih banyak OTG di Indonesia,

"Jelas tracing kurang akan menurunkan jumlah kasus temuan. Karena berdasarkan hasil kontak tracing kasus bisa ditemukan. Jika begini, OTG kemungkinan masih banyak, karena tak diperiksa," tegasnya.

Engagement Community

Physical distancing dan social distancing dinilai tak berjalan efektif. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tak maksimal. Hanya PSBB I dan II saja yang masih dilakukan dengan ketat. Setelah itu PSBB dilakukan sedang ke arah ringan. "Sampai sekarang PPKM RW pun sedang ke arah ringan," tegasnya.

Hanya beberapa daerah secara parsial yang masih dengan ketat melakukan pembatasan. Dia mencontohkan Bogor masih memberlakukan jam malam serta pemberlakuan ganjil genap bagi kendaraan. Begitu juga dengan Karawang.

"Tak ada jam malam, mal tetap buka saja sampai malam, hanya daerah-daerah tertentu yang masih melaksanakan, selebihnya tak efektif," tegasnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/REvI8sljBdw

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore