
Ilustrasi Warga Jaga Warga dengan warna Brave Pink dan Hero Green sebagai simbol protes masyarakat Indonesia di platform digital. (Istimewa)
JawaPos.com-Di jalanan maupun di layar ponsel, warna sering lebih lantang berbicara daripada kata-kata. Kini, di Indonesia, dua warna yakni Brave Pink dan Hero Green, sedang ramai dipakai warganet sebagai simbol protes terhadap pemerintah.
Mereka muncul di avatar media sosial, unggahan kreatif, hingga filter TikTok, menjadi bendera virtual yang menyatukan keresahan publik terhadap kondisi bangsa belakangan ini. Elite politik dan penguasa yang tak peka, tutup mata, tutup telinga terhadap persoalan-persoalan bangsa dan masyarakat.
Namun demikian, melansir berbagai sumber, ternyata fenomena ini bukan hal baru. Sejarah mencatat, dunia penuh dengan kisah warna yang menjelma jadi bahasa perlawanan.
Seperti misalnya di Georgia pada 2003, ribuan orang turun ke jalan membawa mawar, menuntut mundurnya rezim korup. Gerakan itu kemudian dikenal sebagai Revolusi Mawar.
Setahun berselang, Ukraina menyusul dengan lautan massa berpakaian oranye di Lapangan Kemerdekaan Kyiv, memaksa pemilu ulang lewat Revolusi Oranye.
Tak lama, Iran menghadirkan Gerakan Hijau (2009), ketika warga mengenakan syal, pita, dan gelang hijau sebagai simbol demokrasi. Sementara di Myanmar, jubah safron para biksu pada 2007 menjadi ikon moral melawan junta militer.
Asia Tenggara pun punya kisah serupa. Filipina pada 1986 menjadikan pita kuning sebagai lambang People Power yang menggulingkan rezim Marcos.
Di Malaysia, massa Bersih berpakaian kuning menuntut pemilu yang lebih jujur. Dan di Hongkong, payung kuning pada 2014 menjadi simbol perlindungan dari gas air mata, sekaligus lambang perlawanan damai.
Simbolisme warna juga hadir dalam bentuk paling personal. Di Argentina, ibu-ibu korban penghilangan paksa mengenakan selendang putih di Plaza de Mayo, popok bayi yang dijadikan penutup kepala, sebuah tanda cinta yang berubah menjadi ikon global keadilan.
Apa yang membuat warna begitu kuat? Menurut Museum of Protest, warna begitu kuat karena kesederhanaannya. Semua orang bisa ikut serta, cukup mengenakan pakaian, mengikat pita, atau mengganti avatar media sosial.
Warna juga sulit dibungkam. Pemerintah mungkin bisa menyensor slogan, tetapi mustahil melarang satu warna begitu saja.
Kini, Brave Pink dan Hero Green mengambil peran itu di Indonesia. Pink dimaknai sebagai keberanian bersuara, sementara hijau membawa semangat solidaritas dan harapan.
Dari ruang digital, keduanya meluas menjadi narasi bersama, perlawanan tak selalu berbentuk teriakan, kadang hanya butuh keserentakan warna.
Seperti lautan oranye di Ukraina, pita kuning di Filipina, atau payung kuning di Hong Kong, warna kembali membuktikan diri sebagai bahasa politik yang lintas zaman dan lintas batas.
Dan di Indonesia hari ini, Brave Pink serta Hero Green menandai bahwa generasi muda sedang menulis bab baru dari sejarah panjang protes simbolik dunia.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
