Logo JawaPos
Author avatar - Image
03 September 2025, 18.01 WIB

Dari Revolusi Oranye hingga Brave Pink: Ini Negara yang Pernah Menggunakan Warna sebagai Simbol Perlawanan

Ilustrasi Warga Jaga Warga dengan warna Brave Pink dan Hero Green sebagai simbol protes masyarakat Indonesia di platform digital. (Istimewa) - Image

Ilustrasi Warga Jaga Warga dengan warna Brave Pink dan Hero Green sebagai simbol protes masyarakat Indonesia di platform digital. (Istimewa)

JawaPos.com-Di jalanan maupun di layar ponsel, warna sering lebih lantang berbicara daripada kata-kata. Kini, di Indonesia, dua warna yakni Brave Pink dan Hero Green, sedang ramai dipakai warganet sebagai simbol protes terhadap pemerintah. 

Mereka muncul di avatar media sosial, unggahan kreatif, hingga filter TikTok, menjadi bendera virtual yang menyatukan keresahan publik terhadap kondisi bangsa belakangan ini. Elite politik dan penguasa yang tak peka, tutup mata, tutup telinga terhadap persoalan-persoalan bangsa dan masyarakat.

Namun demikian, melansir berbagai sumber, ternyata fenomena ini bukan hal baru. Sejarah mencatat, dunia penuh dengan kisah warna yang menjelma jadi bahasa perlawanan.

Seperti misalnya di Georgia pada 2003, ribuan orang turun ke jalan membawa mawar, menuntut mundurnya rezim korup. Gerakan itu kemudian dikenal sebagai Revolusi Mawar. 

Setahun berselang, Ukraina menyusul dengan lautan massa berpakaian oranye di Lapangan Kemerdekaan Kyiv, memaksa pemilu ulang lewat Revolusi Oranye.

Tak lama, Iran menghadirkan Gerakan Hijau (2009), ketika warga mengenakan syal, pita, dan gelang hijau sebagai simbol demokrasi. Sementara di Myanmar, jubah safron para biksu pada 2007 menjadi ikon moral melawan junta militer.

Asia Tenggara pun punya kisah serupa. Filipina pada 1986 menjadikan pita kuning sebagai lambang People Power yang menggulingkan rezim Marcos. 

Di Malaysia, massa Bersih berpakaian kuning menuntut pemilu yang lebih jujur. Dan di Hongkong, payung kuning pada 2014 menjadi simbol perlindungan dari gas air mata, sekaligus lambang perlawanan damai.

Simbolisme warna juga hadir dalam bentuk paling personal. Di Argentina, ibu-ibu korban penghilangan paksa mengenakan selendang putih di Plaza de Mayo, popok bayi yang dijadikan penutup kepala, sebuah tanda cinta yang berubah menjadi ikon global keadilan. 

Apa yang membuat warna begitu kuat? Menurut Museum of Protest, warna begitu kuat karena kesederhanaannya. Semua orang bisa ikut serta, cukup mengenakan pakaian, mengikat pita, atau mengganti avatar media sosial. 

Warna juga sulit dibungkam. Pemerintah mungkin bisa menyensor slogan, tetapi mustahil melarang satu warna begitu saja.

Kini, Brave Pink dan Hero Green mengambil peran itu di Indonesia. Pink dimaknai sebagai keberanian bersuara, sementara hijau membawa semangat solidaritas dan harapan. 

Dari ruang digital, keduanya meluas menjadi narasi bersama, perlawanan tak selalu berbentuk teriakan, kadang hanya butuh keserentakan warna.

Seperti lautan oranye di Ukraina, pita kuning di Filipina, atau payung kuning di Hong Kong, warna kembali membuktikan diri sebagai bahasa politik yang lintas zaman dan lintas batas. 

Dan di Indonesia hari ini, Brave Pink serta Hero Green menandai bahwa generasi muda sedang menulis bab baru dari sejarah panjang protes simbolik dunia.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore