
Wamenaker Immanuel Ebenezer Gerungan. (Zalzilatul Hikmia/Jawa Pos)
JawaPos.com – Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer punya pandangan berbeda terkait fenomena pengibaran bendera One Piece oleh sejumlah kalangan. Menurutnya, alih-alih langsung menjustifikasi tindakan tersebut dengan label perusakan kesakralan Bendera Merah Putih, ada baiknya dipahami dulu konteks dari fenomena tersebut.
Wamenaker mengatakan, anak muda Indonesia saat ini tumbuh dalam budaya populer yang sarat simbol dan cerita fiksi. Salah satunya One Piece. Yang mana, ada semangat kebebasan, persahabatan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang digambarkan di sana.
“Karenanya, ketika mereka pakai simbol itu, bukan berarti mereka benci Indonesia. Mereka hanya mencari cara menyampaikan perasaan mereka,” tutur pria yang akrab disapa Noel tersebut dalam keterangannya Selasa (5/8).
Dia meyakini, bahwa anak muda Indonesia tetap memandang Merah Putih sebagai lambang negara yang sakral dan tidak tergantikan. Aki pengibaran bendera One Piece pun bukan sebagai upaya untuk menyaingi simbol negara, tapi tanda keresahan yang ingin didengar.
“Yang mereka lakukan itu bukan pemberontakan. Mereka hanya ingin didengar. Sama seperti di One Piece, banyak karakter memberontak bukan karena benci, tapi karena kecewa dan ingin perubahan,” jelasnya.
Oleh sebab itu, Noel mengingatkan, bahwa tugas negara bukan hanya menegur, tetapi juga mendengar dan merangkul. Lalu apabila nilai persahabatan, keadilan, dan solidaritas hanya ditemukan anak muda dalam cerita fiksi maka itu pertanda negara perlu bercermin.
“Kalau anak-anak muda merasa nilai-nilai itu tidak ada dalam kehidupan nyata, itu artinya kita harus evaluasi cara kita hadir. Energi mereka jangan dimatikan, tapi diarahkan ke hal positif,” tegasnya.
Karenanya, dia menyoroti cara pandang sebagian pejabat yang langsung menganggap fenomena ini sebagai ancaman. Bahkan, menyebut aksi ini sebagai upaya menuju pemberoktakan. Dia menilai, justru langkah represif seperti itu yang akan memperlebar jarak antara negara dan generasi mudanya.
“Mereka bukan anti-negara. Mereka hormat pada Merah Putih, tapi kecewa pada cara pengurus negara bekerja. Itu wajar. Justru karena cinta itulah mereka ingin perubahan,” paparnya.
Noel pun mengajak semua pihak lebih bijak melihat dinamika generasi muda. Sebab, aksi mereka bukan soal bendera One Piece melawan Merah Putih. Ini aksi anak-anak muda yang mencari tempat di negeri mereka sendiri. “Kalau kita buru-buru memberi stigma, kita akan kehilangan mereka,” pungkasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
