: Tim SAR Gabungan melakukan evakuasi korban tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, Kamis (3/7). (Dokumentasi SAR Surabaya)
JawaPos.com - Cuaca Ekstrem di perairan Selat Bali yang menjadi lokasi tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya, menjadi tantangan tersendiri dalam proses pencarian dan evakuasi korban.
Prakirawan BMKG Banyuwangi, Yustoto Windiarto mengatakan bahwa cuaca ekstrem terjadi karena ada aktivitas dinamika atmosfer MJO (Osilasi Madden-Julian), sehingga ada potensi turun hujan ringan hingga sedang.
"Ini fenomena atmosfer yang ditandai dengan pergerakan gelombang aktivitas konveksi (awan dan hujan) dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik di wilayah ekuatorial dalam periode sekitar 30-60 hari," ujar Yustoto, Kamis (3/7).
Fenomena MJO dapat memengaruhi curah hujan dan cuaca tropis. Yustoto menyebut angin kencang juga masih mungkin terjadi dan memicu gelombang tinggi di Perairan Banyuwangi maupun selat Bali.
"Itu lah yang menjadi penyebab masih terjadinya cuaca ekstrem yang tidak menentu, padahal wilayah Banyuwangi sendiri seharusnya masuk di musim kemarau. Untuk angin kencang masih bisa terjadi karena fenomena MJO," imbuhnya.
Yustoto mengimbau masyarakat sekitar pesisir Banyuwangi, termasuk yang akan melakukan aktivitas penyeberangan agar mempertimbangkan kembali kondisi cuaca sebelum beraktivitas.
"Kami harap masyarakat selalu memperhatikan update informasi cuaca dan gelombang dari BMKG. Masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di pesisir dimohon tetap waspada terhadap gelombang tinggi," seru Yustoto.
Sebelumnya, Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya dilaporkan tenggelam di Selat Bali saat menyeberang dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali, Rabu (2/7) pukul 23.35 WIB.
Kasi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli KSOP Tanjungwangi, Ni Putu Cahyani Negara mengatakan sebelum karam, kapal sempat mengirimkan sinyal darurat melalui radio sejak pukul 23.17 WITA.
Sinyal permintaan tolong juga diterima LCM Gilimanuk pada pukul 00.16 WITA. Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 00.19 WITA, kapal dilaporkan mengalami kebocoran mesin dan mati listrik total (black out) dan terbalik.
“Jumlah penumpang (KMP Tunu Pratama Jaya) sebanyak 53 orang, ditambah 12 kru kapal. Selain itu, ada 22 kendaraan yang juga ikut di atas kapal,” tutur Cahyani dikutip dari Radar Banyuwangi, Kamis (3/7).
Cahyani menduga cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor penyebab KMP Tunu Pratama Jaya karam. Sebab dari informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gelombang laut di Selat Bali mencapai 2,5 meter.
Hal ini mempercepat proses masuknya air ke dalam kapal hingga akhirnya kapal kehilangan stabilitas dan tenggelam. Kapal dilaporkan hanyut ke arah selatan. Titik koordinat terakhir -08°09.371', 114°25, 1569.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
