Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 25 Februari 2021 | 17.59 WIB

Program Pesantren Hijau Hemat 10–15 Persen Tagihan Listrik Bulanan

Konstruksi pembangunan PLTS Jakabaring rampung 100 persen. - Image

Konstruksi pembangunan PLTS Jakabaring rampung 100 persen.

JawaPos.com–Perusahaan pengembang lokal sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yaitu SUN Energy menggandeng Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) membuka kerja sama potensi pemanfaatan energi surya. Salah satunya untuk menyukseskan program pesantren hijau yang dicanangkan Lembaga Perubahan Iklim PBNU dengan Radesa Institute.

Hal tersebut merupakan awal diskusi dari kedua belah pihak untuk menjajaki seberapa besar manfaat yang bisa didapatkan baik dari sisi penghematan listrik. Selain itu, dari sisi ilmu pengetahuan tentang perkembangan teknologi PLTS di Indonesia.

Ketua Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Andhika Prastawa mengatakan, dalam pengelolaan energi nasional, pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No 79 Tahun 2014 (PP 79/2014) tentang Kebijakan Energi Nasional mencanangkan target bauran energi dengan kontribusi energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada 2025. Kebijakan itu diperkuat lagi dengan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional yang menargetkan energi nasional sebesar 23 persen dari energi baru terbarukan.

”Prospek pengembangan energi surya sangat besar. Dari potensi energi surya 207,8 GW, baru dimanfaatkan kurang dari 200 Mwp. Ini menunjukkan kesenjangan yang sangat besar. Ini tantangan tapi juga merupakan peluang berbagai pihak berpartisipasi untuk memanfaatkan energi surya,” ujar Andhika secara virtual, Kamis (24/2).

Andhika Prastawa menambahkan, dibanding dengan negara-negara di ASEAN, Indonesia masih tertinggal dalam pemanfaatan energi surya. Perlu upaya dan dorongan pemerintah serta pihak-pihak dalam memanfaatkan energi surya. Salah satunya adalah NU melalui pesantren-pesantren dan sekolah milik NU.

Menurut dia, penerapan energi surya di pesantren dengan menggunakan PLTS dapat mempercepat pencapaian target pemerintah untuk menciptakan 23 persen energi baru terbarukan pada 2025. Pemasangan PLTS atap juga sangat mudah, murah, tidak memerlukan area luas dan bisa dipasang di grup-grup kecil atau bangunan-bangunan yang tersebar.

”Pemanfaatan energi surya di pesantren umumnya digunakan untuk penerangan kegiatan belajar mengajar maupun untuk pompa air. Terlebih pada masa pandemi, PLTS atap cocok digunakan dalam penghematan pembayaran listrik PLN,” tutur Andhika.

Hal senada diungkapkan anggota komisi VII DPR Syaikhul Islam. Dia menyatakan, PLTS adalah solusi paling efektif untuk memenuhi target 23 persen bauran energi. Hal itu harus dikembangkan secara masif karena kemudahan, anugerah matahari yang sangat besar, tidak memerlukan investasi yang mahal, bisa dipasang di manapun tanpa melihat geografis. Termasuk pemasangan PLTS di pesantren.

”Pemanfaatan PLTS di pesantren sangat mendesak. Pesantren bisa menjadi agen perubahan mendorong masyarakat memanfaatkan energi surya. Alangkah lebih baik lagi apabila pada masa depan, pesantren-pesantren itu bisa badan usaha yang bisa menghasilkan listrik untuk dijual ke PLN, bukan hanya memanfaatkan energi surya untuk mencukupi kebutuhan listrik pesantren,” ungkap Syaikul Islam.

Head of Business Solution SUN Energy I Made Aditya Suryawidya mengatakan, makin banyak kebijakan pemerintah dalam mempermudah pemanfaatan energi surya. Meskipun masih ada tantangan dalam implementasi PLTS.

”Beberapa tantangan dalam pemasangan PLTS seperti investasi, teknis pemasangan, dan lain sebagainya. Di sinilah SUN Energy hadir dalam menciptakan energi surya. SUN Energy menyediakan investasi sebesar 0 persen bagi pesantren yang akan memasang PLTS atap,” ungkap Aditya.

Aditya menambahkan,  SUN Energy menerapkan skema pembayaran dan penyewaan PLTS. Pelanggan hanya membayar produksi listrik PLTS berdasar pemakaian berapa Kwh yang diproduksi PLTS atap. Dengan menggunakan PLTS atap, pesantren bisa menghemat sebesar 10–15 persen tagihan listrik bulanan.

Lembaga Perubahan Iklim PBNU Hijroatul Maghfiroh mengatakan, NU sangat concern terhadap masalah lingkungan karena lingkungan sangat berpengaruh kepada perubahan iklim.

”Kami telah cukup aktif untuk menerapkan program pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber air. Namun belum sempat mengembangkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT),” ucap Hijroatul Maghfiroh.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/rjT76r8WVeo

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore