
INISIATIF PBNU: Presiden Joko Widodo didampingi Yahya Cholil Staquf saat membuka ASEAN Intercultural and Interreligious Dialogue Conference (IIDC) 2023 di Jakarta, Senin (7/8).
JawaPos.com – Pertemuan sehari para tokoh agama negara-negara ASEAN di Jakarta kemarin (7/8) menghasilkan Deklarasi Jakarta. Salah satu poin pentingnya adalah penguatan peran pemuda dan perempuan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis.
Hasil pertemuan itu disampaikan Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf selaku inisiator acara. Dia menjelaskan, forum mengakui perlunya kolaborasi people-to-people dan dukungan pemerintah masing-masing. Di antara yang disepakati adalah mendorong pemerintah memperkuat pendidikan karakter lewat kurikulum nasional masing-masing. Dengan demikian, anak muda bisa beradaptasi dengan dunia modern saat ini.
"Supaya anak-anak muda ini bisa menghadapi dampak negatif modernisasi dan globalisasi," katanya. Gus Yahya menuturkan, banyak gejala dari pengaruh negatif modernisasi yang dialami generasi muda. Di antaranya, dislokasi sosiokultural. Kemudian, keterasingan atau alienasi anak-anak dari keluarga dan lingkungan masyarakat.
Selain itu, anak-anak muda mengalami keterasingan dari agama. "Agama dianggap urusan orang-orang sepuh saja," jelasnya. Gus Yahya menegaskan, para tokoh agama sepakat bahwa anak muda harus berperan dan bisa mengamalkan nilai-nilai agamanya. Ketika anak muda dekat dengan agama, mereka bisa dibentengi dari dampak negatif lain seperti radikalisme, terorisme, narkoba, dan penyakit kejiwaan ala pemuda lainnya.
Gus Yahya juga menyampaikan bahwa peran perempuan perlu ditingkatkan. Sebab, perempuan adalah madrasah pertama bagi anak. Perempuan harus bisa menanamkan nilai-nilai positif untuk anak-anak atau keluarganya. "Peran perempuan harus vital," jelasnya.
Dia juga mengatakan, pertemuan tersebut menyinggung konflik bernuansa agama di Myanmar. Pertemuan itu, kata Gus Yahya, menjadi titik awal untuk mencari solusi mengakhiri konflik di Myanmar. Dia menegaskan, wujud teknis penyelesaian konflik Rohingya masih panjang. Tapi, dia bersyukur sudah ada titik awal di kalangan pemuka agama, termasuk dari tokoh agama Buddha Myanmar, untuk mencari solusi bersama.
Forum ASEAN Intercultural and Interreligious Dialogue Conference 2023 itu dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo. Dia menyampaikan perkembangan situasi global. "Kita tahu dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja," katanya.
Jokowi mencontohkan, menurut data Global Peace Index 2023, konflik global semakin marak. Pada 2008, ada 58 negara yang terlibat konflik. Kemudian, saat ini angkanya naik menjadi 91 negara yang terlibat konflik. Banyaknya negara yang terlibat konflik itu membuat jumlah korban juga bertambah. Angka kematian akibat konflik global meningkat menjadi 238 ribu jiwa.
"Di sisi lain di bidang keagamaan, masyarakat dunia mulai semakin tidak religius," kata Jokowi.
Berdasar survei dari IPSOS Global Religion 2023 terhadap 19.731 orang dari 26 negara di dunia, sekitar 29 persen responden menyatakan bahwa mereka agnostik dan ateis. (wan/c6/oni)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
