Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 2 Februari 2022 | 01.46 WIB

PeduliLindungi Lacak Kasus Covid-19, Kontak Erat Terima SMS Blast

TAAT ATURAN: Jemaat Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, Surabaya, memindai QR code PeduliLindungi di depan gereja, Kamis (23/12). Pemerintah Kota Surabaya mewajibkan setiap gereja yang akan buka saat perayaan Natal memasang QR code PeduliLindung - Image

TAAT ATURAN: Jemaat Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, Surabaya, memindai QR code PeduliLindungi di depan gereja, Kamis (23/12). Pemerintah Kota Surabaya mewajibkan setiap gereja yang akan buka saat perayaan Natal memasang QR code PeduliLindung

JawaPos.com - Sejak hadirnya aplikasi PeduliLindungi, setiap kali seseorang masuk ke fasilitas layanan publik, harus melakukan scan QR Code sebagai bentuk rekam riwayat kunjungan atau perjalanan. Tujuannya tentu untuk menjadi alat lacak, deteksi, atau menelusuri kasus Covid-19. Sementara ketika kasus sudah terdeteksi, maka kontak eratnya akan mendapatkan notifikasi atau pemberitahuan lewat SMS blast.

Hal itu diungkapkan oleh Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi. Seseorang akan diberitahu lewat SMS blast ketika mereka kontak erat dengan pasien Covid-19. Dan penelusurannya dibantu dengan PeduliLindungi.

"(History) ini bisa dilihat dari tampilan awal situasi Covid-19 di PL. Setelah itu (menerima) SMS blast ya," katanya kepada JawaPos.com, Selasa (1/2).

PeduliLindungi, kata dia, digunakan untuk mengecek history perjalanan di suatu tempat. Kontak erat akan mendapatkan SMS blast.

"Tak di cek (di PeduliLindungi) tapi dari SMS blast kalau kita kontak erat," katanya.

Teknologi Harus Jadi Andalan

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman mendorong penggunaan aplikasi PeduliLindungi harus lebih optimal untuk menelusuri kontak erat pasien Covid-19. Menurutnya, semestinya teknogi digital dimanfaatkan secara masif di tengah populasi Indonesia yang begitu luas dan besar.

"Tentang ini sudah saya singgung sejak awal pandemi harus adanya satu aplikasi yang bisa bantu proses tracing dan tracking. Ketika angka infeksi sudah di atas 200 itu akan sulit dilakukan manual. Harus ada teknologi aplikasi yang membantu. Karena banyaknya orang yang dimonitor dan tingginya mobilitas tak bisa upaya konvensional atau manual," tegas Dicky kepada JawaPos.com.

Menurutnya Indonesia semestinya bisa belajar dari Singapura yang menggunakan aplikasi TraceTogether di mana mereka memberikan notifikasi bagi kontak erat pasien Covid-19. Dan Singapura selalu mengumumkan lokasi mana saja yang sempat dikunjungi oleh pasien Covid-19.

"Tahun 2021 dalam beberapa diskusi sudah saya sampaikan ketika pemerintah tetapkan PeduliLindungi dan barcode, salah satunya adalah dalam mentracing. Misalnya di negara-negara maju seperti Singapura, saya masuk dalam status kontak, ada notifikasi," ungkap Dicky.

Sehingga aplikasi tersebut, kata Dicky, semestinya memberi kabar bahwa kontak erat harus menjalani karantina. Menurut Dicky, jika dimanfaatkan dengan optimal, aplikasi tersebut bisa memberikan fasilitas karantina rumah atau home quarantine bagi masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh wilayah yang luas.

"Jadi seharusnya ada notifikasi kapan seseorang harus datang ke faskes. Aplikasi PeduliLindungi harus bermanfaat untuk monitoring ketika jalani isoman, semacam absen lah. Sulit kalau manual dan sayang kalau tak dimanfaatkan," katanya.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore