Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 19 Juli 2026 | 23.48 WIB

Foufo: Film Komedi Fiksi Ilmiah Berlatar Budaya Madura yang Syarat Pesan Moral

Film Foufo arahan sutradara Bayu Skak. (istimewa) - Image

Film Foufo arahan sutradara Bayu Skak. (istimewa)

JawaPos.com - Pada era 1990-an, film bergenre komedi sudah banyak diputar di layar tancap atau video yang mengunakan format Betamax atau VHS, saat ada orang kaya menggelar hajatan.

Saat itu, ada dua pemain utama yang merajai film komedi di Indonesia, yaitu film Warkop DKI yang dibintangi Dono (almarhum), Kasino (almarhum), dan Indro, serta film komedi yang dibintangi Doyok dan Kadir.  

Film-film itu biasanya akan diputar paling awal untuk mengocok perut para penonton agar tetap bertahan di lokasi, sebelum film-film aksi seperti ‘Rambo’ atau ‘James Bond’ akan diputar di waktu dini hari. 

Kini, hampir 3 dekade kemudian, kebangkitan film komedi kembali terasa. Hal ini setelah flm-film komedi seperti ‘Yo Wis Ben ‘, Guru-guru Gokil’, ‘Agak Laen’, dan film komedi lainnya, banyak bermunculan baik di layar kaca, maupun layar bioskop yang diputar di seluruh Indonesia. 

Mengikuti tren pasar, komedian sekaligus sutrada film Bayu Eko Moektito alias Bayu Skak, membuat gebrakan baru agar filmnya tetap dilirik para penonton.

Dalam film terbarunya yang bertajuk ‘Foufo’, dia melakukan terobosan baru dengan cara menyatukan unsur komedi dengan fiksi ilmiah. 

“Kalau horor komedi lagi, nampaknya akan monoton, sehingga kita harus buat yang berbeda. Oleh karena itu munculah ide, untuk membuat sesuatu yang berbeda, namun tetap in line (sejalan) pada konsep komedi ala kami,” kata Bayu saat berbincang dengan JawaPos.com, usai Nobar bersama para pemeran film Foufo, di XXI Kota Kasabalanka, Sabtu (17/7) malam.

Bayu berharap, dengan sentuhan beda pada film terbarunya, penonton bisa melupakan sejenak beban hidup yang dipikulnya setiap hari dalam menghadapi realitas kehidupan.

“Orang kan sekarang pergi ke bioskop inginnya cara senang. Dengan kita menyuguhkan komedi, alangkah baiknya itu bisa jadi tontonan dan mereka pulang happy,” harapnya.

Terkait dipilihanya budaya Suku Madura dalam sentuhan film terbarunya, pria kelahiran Malang 33 tahun yang silam tersebut menegaskan, dipilihnya Madura bukanlah upaya untuk mengagungkan unsur primordialisme. Namun lebih kepada filosofis orang Madura yang dikenal tangguh.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore