
Alex Marquez dan Marc Marquez. (Instagram @marcmarquez93)
JawaPos.com – Alex Marquez mengalami cedera saat Grand Prix Belanda yang mengurangi peluangnya dalam perburuan gelar dunia MotoGP 2025.
Cedera tersebut semakin menambah jarak dengan kakaknya, Marc Marquez, yang kini unggul 68 poin menjelang balapan di Sachsenring, sirkuit favoritnya.
Namun, perbincangan di paddock dan media sosial bukan hanya soal cedera, tetapi juga soal kontroversi balapan sprint Assen.
Dilansir dari laman Paddock pada Rabu (2/7), dalam balapan sprint tersebut, Marc memimpin sejak awal dan adiknya, Alex, mengikuti di belakang dengan kecepatan kompetitif.
Banyak pengamat menilai Alex seharusnya bisa menyalip, tetapi tidak pernah melakukannya hingga Marc meraih kemenangan kesembilan dari sepuluh balapan.
Beberapa pihak mulai bertanya-tanya, apakah Alex menahan diri untuk tidak mengalahkan saudaranya sendiri?
Berdasarkan analisis, sulit menyatakan Alex sengaja memberi kemenangan kepada Marc, tetapi terlihat jelas bahwa cara balapnya melawan Marc berbeda dibanding pembalap lain.
Sirkuit Assen yang sempit dan cepat memang menyulitkan upaya menyalip, tetapi Alex tak pernah terlihat benar-benar mencoba. Ia cepat, tapi tidak di tempat yang tepat untuk menyalip. Ini menimbulkan persepsi bahwa ia bersikap lunak terhadap kakaknya.
Fakta bahwa Alex Marquez pernah meraih dua gelar dunia di kelas Moto3 dan Moto2 menunjukkan bahwa ia bukan pembalap pasif. Ia dikenal agresif dan sering melakukan manuver berani terhadap pembalap lain seperti Pedro Acosta dan Pecco Bagnaia.
Oleh karena itu, ketika ia terlihat pasif terhadap Marc, wajar bila publik mempertanyakan integritas persaingan di antara saudara kandung itu.
Komentar dari para pihak pun menambah keruh suasana. Joan Mir, mantan juara dunia, secara terbuka menyebut Alex tampak menahan diri.
Sementara itu, Marc Marquez mencoba membela saudaranya dengan menyebut orang-orang yang mempertanyakan integritas Alex tidak memahami MotoGP.
Pembelaan ini dianggap kurang tepat karena sejarah olahraga selalu membuka ruang bagi pertanyaan soal keadilan kompetisi.
Meski tidak dapat dibuktikan bahwa Alex sengaja membiarkan Marc menang, perbedaan gaya menyerangnya terhadap saudaranya dibanding lawan lain terlihat mencolok.
Ini menjadi isu yang patut dicermati karena menyangkut kredibilitas kompetisi. Jika memang ada pendekatan berbeda terhadap rival yang juga keluarga, setidaknya publik layak tahu dan menilai secara terbuka.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
