alexametrics

Siapa Yang Menutup Telinga?

19 September 2021, 08:42:38 WIB

Apa yang jauh lebih berbahaya dibanding sekelompok santri penghafal Alquran yang menutup telinga karena tak mau mendengar suara musik? Mereka yang terus menutup telinga atas suara kritik, yang tak mau mendengar segala masukan, keluhan, dan kemarahan.

LIHAT saja bagaimana 56 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK) akhirnya dipecat mulai 30 September 2021. Segala kritik, masukan, dan kemarahan publik terhadap TWK –yang dalam kolom di Jawa Pos saya pelesetkan sebagai tes wawasan kebangsatan– sama sekali tak didengar.

Padahal, bulan Mei lalu, Presiden Jokowi telah mengatakan bahwa TWK tak bisa jadi dasar pemberhentian pegawai KPK. Apakah presiden hanya sedang bermain kata (lip service) sebagaimana yang dikatakan BEM UI? Ataukah presiden tak paham apa yang ia katakan? Atau tak paham masalah yang dihadapi? Atau memang apa pun yang dikatakan presiden sudah tidak didengar oleh semua orang yang memegang jabatan?

Ini adalah contoh nyata dari apa yang disebut sosiolog Syed Hussein Alatas sebagai bebalisma dalam bukunya, Intellectuals in Developing Societies, yang terbit kali pertama tahun 1977. Konsep bebalisma merujuk pada situasi yang lebih dari sekadar bodoh. Bebalisma adalah perpaduan antara kebodohan, penolakan pada fakta dan realitas, tidak adanya tanggung jawab, inkompetensi, malas, tidak bisa dan tidak mau mendengar. Orang-orang bebal seperti hidup dalam realitasnya sendiri. Sekeras apa pun teriakan tak akan bisa menjangkau pendengaran mereka.

Konsep bebalisma ini dibangun oleh Syed Hussein Alatas dengan berpijak pada terminologi Oblomovism yang lebih dulu populer di Rusia. Oblomovism terinspirasi dari novel karangan Ivan Goncharov yang memiliki karakter utama bernama Oblomov. Oblomov adalah seseorang yang memiliki kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun modal, tapi tak pernah bisa membuat keputusan yang tepat.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads