alexametrics

Mati Perlahan di Pangkuan Negara

17 Juli 2021, 15:06:13 WIB

Lima puluh ribu lebih pertambahan kasus harian. Enam puluh sembilan ribu lebih nyawa hilang. Rumah sakit penuh. Oksigen langka. Banyak yang isolasi mandiri, lalu mati sendirian. Vaksinasi masih jauh dari yang seharusnya. Negara sudah gagal?

KETIKA bulan April lalu novelis India peraih Booker Prize, Arundhati Roy, menyebut apa yang sedang terjadi di negaranya sebagai kejahatan kemanusiaan, sama sekali tak terlintas dalam pikiran saya bahwa hal serupa akan terjadi di Indonesia. Betapa pun buruknya penanganan pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 hingga April 2021, masih tersimpan kepercayaan bahwa pemerintah Indonesia akan bisa diandalkan untuk melindungi rakyatnya. Apalagi sudah ada pergantian menteri kesehatan, sudah terbongkar kasus korupsi bantuan pandemi, sudah melalui setahun kegegabahan yang telah menelan puluhan ribu nyawa.

Ternyata memang pemerintah tidak belajar dari kegagalan. Bahkan mereka tak merasa perlu untuk melakukan evaluasi, untuk mengoreksi dan mengakui kesalahan, meminta maaf, lalu menyusun strategi terbaik untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.

Saat artikel ini ditulis, pertambahan kasus harian di Indonesia telah menjadi yang tertinggi di dunia sekaligus menempatkan Indonesia sebagai pusat persebaran (epicenter) Covid-19 di dunia. Di luar angka, dengan kasatmata kita bisa melihat rumah sakit kewalahan menerima pasien, permintaan informasi ketersediaan ICU atau sekadar tempat tidur rumah sakit bermunculan tiada henti di media sosial, silih berganti dengan permintaan tabung oksigen dan donor plasma konvalesen. Bahkan direktur utama RS Sardjito di Jogjakarta sampai menulis surat resmi menyampaikan bahwa persediaan oksigen segera habis yang itu artinya puluhan nyawa manusia yang sedang dirawat di rumah sakit itu sedang dipertaruhkan. Syahdan, permintaan oksigen tetap tak dipenuhi dan 63 orang meninggal dalam sehari. Walaupun kemudian muncul klarifikasi bahwa 63 orang yang meninggal itu bukan akibat dari habisnya oksigen, tak menghilangkan fakta bahwa sebuah rumah sakit besar rujukan penanganan Covid-19 kehabisan oksigen, padahal ada banyak nyawa yang tergantung pada ketersediaan oksigen.

Dalam Leviathan yang terbit pertengahan abad ke-17, Thomas Hobbes sudah menggambarkan masyarakat tanpa pemerintahan hanya akan menjadi kawanan serigala, penuh kekacauan, tanpa tatanan, bahkan bisa saling memangsa satu sama lain. Karena itulah setiap masyarakat perlu pemerintah. Agar ada tatanan, ada perlindungan, ada jaminan atas keselamatan. Fungsi dan tugas negara yang paling mendasar adalah melindungi warganya. Melindungi dari kekerasan, dari serangan pihak luar, dari kelaparan, dari segala hal yang merampas nyawa, termasuk wabah penyakit menular, apalagi ketika jelas-jelas wabah itu bermula dari negara asing.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads