alexametrics

Jenderal Buta Hurup

Cerpen Adam Gottar Parra
9 Februari 2020, 19:56:31 WIB

SEPERTI botek aku menyelinap masuk ke dalam rongga sebatang pohon saat terdengar tembakan, disusul teriakan dan jerit-tangis perempuan dan anak-anak. Bunyi tembakan itu terdengar tak putus-putus, mirip letupan biji jagung yang digoreng di tungku tanah. Karena takut, aku memejamkan mata. Tapi, suara-suara itu terus terdengar, membuatku cemas. Pikiranku tertuju kepada orang tua dan saudara-saudaraku di rumah.

Dengan terpaksa aku melongok ke luar, memandang ke lembah melalui celah batang pohon: Astagaaa…! Di antara garis-garis pematang sawah yang dihiasi sisa jerami, orang-orang berlari lintang pukang mencari tempat berlindung di bawah pematang, di balik rumpun pisang, atau di bekas kubangan kerbau. Beberapa orang terlihat berguling-guling, menggerakkan tangan dan kaki seperti katak, lalu diam membeku seperti onggokan bebatuan di sekitarnya.

Di antara mereka tampak si buntung, Kimin, menyeret-nyeret pahanya di atas bongkahan tanah tegalan, tempat ia mencari iwong ubi, sisa panen. (Sewaktu aku naik ke bukit tadi, aku memang melihat Kimin sedang menggali sisa ubi di ladang).

Saat angin berembus menggerakkan sulur-sulur pepohonan, dari celahnya terlihat sederet orang berseragam loreng di lereng bukit, menembakkan senjata ke orang-orang di lembah, disusul kepulan asap tipis di udara.

Sesungguhnya aku tak paham apa yang terjadi pagi itu. Usiaku masih terlalu muda untuk memahami persoalan dunia seperti perang, politik, terorisme, dan lain-lain. Setahuku, perang hanya ada di televisi dan potongan surat kabar yang sesekali nyasar ke kampungku sebagai bungkus terasi atau garam yang dibawa ibu dari pasar. Tidak pernah terlintas di benakku bahwa kebiadaban semacam itu akan memorak-porandakan kampung kami, apalagi sampai berwindu-windu.

Pagi itu, seperti biasa, kalau aku bolos sekolah –karena takut pada pelajaran membaca–, ibu akan menyuruhku mencari buah labu liar di lereng bukit. ”Daripada kamu sibuk main layangan, lebih baik pergi cari bahan sayuran di bukit.” katanya. Karena saban aku turun dari bukit, ibu akan tersenyum semringah melihat isi keranjang di punggungku. Tak hanya labu liar dan pepaya muda, tapi juga seikat kuling. Pernah juga aku kembali dari bukit sambil menggendong anak babi yang masih merah, hingga aku dihujani pujian oleh orang sekampung.

Kendati di sekolah aku sering tidak naik kelas, di mata orang sekampung aku adalah anak yang hebat karena sejak kecil sudah bisa membantu orang tua. Mengenai kelebihanku, Pu Ranggot, dukun beranak yang membantu persalinanku, meramalkan bahwa kelak aku akan menjadi orang besar (meskipun sampai sekarang aku belum paham maksud ramalannya, yang menurutku terlalu mengada-ada).

Suara tembakan terus terdengar siang-malam. Rasa takut meremas batang zakarku hingga aku tak berani keluar dari rongga batang kenari. Lapar berbaur ngantuk membuatku tertidur sambil berjongkok di atas serpihan kayu lapuk. Tetapi, setiap hendak memejamkan mata, aku akan selalu dikagetkan oleh suara tembakan di lembah. Akibatnya, sepanjang malam aku hanya duduk berjongkok di dalam batang pohon sambil mendengarkan suara-suara malam yang ditingkahi ratapan burung kuokuo di dahan kenari. Dalam keadaan ngantuk, semua itu seolah terjadi di alam mimpi.

Saat terjaga di pagi hari, aku nekat keluar dari lubang pohon, lalu memanjat pohon pepaya dan memetik buahnya yang geroak dimakan codot. Sambil mengupas pepaya dengan golok yang selalu menemani setiap ke bukit (kelak dengan golok itu aku menikam beberapa tentara musuh), aku berharap ada orang kampung yang naik ke bukit. Tapi, hingga menjelang petang berikutnya, tak seorang pun yang datang. Sementara suara tembakan terus terdengar susul-menyusul dalam tempo hitungan menit. Aku juga melihat kobaran api dari bangunan-bangunan yang terbakar, termasuk rumahku, yang di pagi hari tinggal tumpukan abu. Keadaan di bawah itu membuatku memutuskan untuk tidak kembali lagi ke kampung. Terlalu berisiko. Lagi pula, hendak pulang ke mana, rumah sudah jadi abu. Keberadaan keluarga juga tidak jelas, masih hidup atau mati. Di mana mereka sekarang?

Sejak itulah aku memutuskan untuk tinggal di hutan dan mulai menjadi ”siluman” yang hanya keluar di malam hari.

Lambat laun aku telah tumbuh jadi orang liar, hidup dengan buah-buahan liar dan binatang liar seperti kadal, tokek, codot, biawak, ular, dan lain-lain. Atau mencuri makanan ke kampung yang kini dikuasai tentara penjajah. Dari seorang bocah liar, secara cepat aku berubah menjadi seorang pemberontak. Membunuh demi serantang nasi atau sebongkah roti untuk menyambung hidup di dalam hutan yang tak layak dihuni manusia.

Mula-mula aku membunuh tentara yang memergokiku saat mencuri nasi di dapur. Kemudian seorang sersan yang sedang piket serta beberapa tentara lainnya di tempat dan waktu yang berbeda. Karena aku masih kecil, bocah 12 tahun, mereka tak menaruh kecurigaan. Oleh karenanya, ketika mereka lengah, aku langsung mengambil kesempatan, menikam perut atau leher mereka dari belakang dengan golok yang telah kuasah di permukaan batu. Setelah mereka tergeletak tidak berdaya dalam keadaan bersimbah darah, aku pun merampas senjata dan barang-barang yang melekat di tubuh mereka, termasuk tanda pangkat di pundak. Hingga di dalam lubang pohon yang kini mirip ”gudang senjata” itu terdapat puluhan senjata berbagai jenis, juga benda-benda lain seperti arloji, cincin, kacamata, korek gas, dan lain-lain. Termasuk, setumpuk tanda pangkat.

Lima atau enam tahun kemudian, aku mulai memiliki anak buah. Orang-orang kampung yang tidak lagi memiliki rumah dan hidup telantar di jalan-jalan mulai ikut bergabung denganku. Kami pun membentuk gerakan bawah tanah. Pada waktu-waktu tertentu kami akan melakukan penyerangan ke markas tentara. Selain membunuh musuh, kami akan merampas senjata dan merampok gudang logistik. Hal itu kami lakukan setiap ada kesempatan, saat mereka lengah.

Belakangan orang-orang telah mengenalku sebagai pemimpin pemberontak. Kalangan tentara musuh menyebutku sebagai Jenderal ”Kancil” karena usiaku yang masih belia, 16 tahun. Sedangkan orang-orang sekampung, termasuk bekas teman-teman sekolahku, menyebutku ”Jenderal Buta Hurup” karena mereka tahu aku tidak bisa membaca. Selama lima tahun di SD, aku lebih sering tidak naik kelas sehingga tetap bertahan di kelas II hingga pecah perang.

***

Puluhan tahun kemudian, di sela-sela kesibukan menggarap sawah dan ladang untuk keperluan penjajah, orang-orang kampung akan bercakap-cakap lirih tentang Tugil, yang kini lebih dikenal sebagai Jenderal Buta Hurup. Setiap menyebut nama Tugil alias Jenderal Buta Hurup, hati mereka akan berdebar-debar. Sebab, dari tengah mereka telah lahir seorang pemimpin yang akan membebaskan mereka dari perbudakan. Mereka merasa bangga dan dada mereka akan membusung manakala menyebut nama Tugil, yang dikabarkan hilang di hari penyerbuan itu. Intinya, Jenderal Buta Hurup telah menumbuhkan rasa percaya diri mereka yang selama ini hidup tertindas.

Jenderal Buta Hurup sangat ditakuti tentara musuh, kendati persenjataan mereka supercanggih. Di mata tentara pendudukan, Jenderal Buta Hurup ibarat ”hantu” yang keberadaannya sulit diterka. Sebab, ia akan tiba-tiba menyerang di waktu yang tak terduga. Kadang-kadang siang hari, di saat tentara pendudukan istirahat makan siang. Dan yang membuat mereka selalu waswas, setiap Jenderal Buta Hurup menyerang dengan pasukan silumannya, korbannya tak pernah sedikit, selalu di atas seratus orang. Sehingga di kalangan mereka terkenal sekali pendapat, ”Jenderal Buta Hurup tak akan menyerang kalau korbannya di bawah seratus.” Akibat serangan-serangan telak Jenderal Buta Hurup, tak kurang dari tiga komandan dan lima jenderal telah jadi korban. Sedangkan perwira menengah sekelas kolonel dan kapten sudah tak terhitung jumlahnya.

Konon, menurut data intelijen pemerintah jajahan, sebagian anggota pasukan Jenderal Buta Hurup berpakaian compang-camping dengan rambut awut-awutan mirip bakeq-beraq penghuni hutan. Selain berpenampilan seperti gembel, mereka juga buta hurup, tapi kemampuan mereka melebihi tentara profesional yang telah mengikuti berbagai latihan. Mereka terbiasa berjalan dalam gelap dan mengenal medan seperti mengenal urat tangan sendiri. Seorang anggota pasukan Jenderal Buta Hurup yang berhasil terpantau kamera pengintai malah ada yang bermata picek. Tapi, soal kemampuannya berlari dalam gelap, jangan diragukan. Kakinya seakan punya mata sehingga tak pernah tergelincir di lubang. Mereka juga akan dengan mudah muncul dan menghilang di balik sebatang pohon atau selembar daun jati.

Tentang kemampuan mereka berlari dalam gelap ini, memang sudah disebutkan dalam naskah lontar orang Bukit. Menurut naskah lontar tersebut, leluhur orang Bukit adalah para perampok. Tradisi merampok itu berlaku secara turun-temurun hingga ribuan tahun kemudian. Sebelum seorang anak laki-laki diajak merampok, ia akan dilatih berlari dalam gelap di rawa-rawa, di atas batu berlumut di sungai, dan lain-lain. Selain itu, mereka juga bisa menghilang di tempat terang seperti bayangan.

Kemampuan itulah yang membuat tentara musuh sering merasa kewalahan ketika berhadapan dengan tentara pemberontak yang bersembunyi di gua-gua di sepanjang Pegunungan Megusang. Ilmu leluhur itulah yang membuat pasukan Jenderal Buta Hurup sangat disegani.

Cerita-cerita tentang kesaktian Jenderal Buta Hurup itu menjadi kebanggaan orang-orang Bukit. Mereka akan menceritakan kisah itu secara berulang-ulang kepada anak-anaknya. Seorang anak yang sedang menangis akan langsung terdiam ketika ayahnya mulai bercerita tentang Jenderal Buta Hurup. Hingga lambat laun kisah Jenderal Buta Hurup mulai menjadi cerita pelipur lara di tengah kesengsaraan. Mirip mitos Ratu Adil atau Mesias.

***

Pada suatu malam, dua atau tiga puluh tahun kemudian, Kopral Siwur, yang matanya picek, datang tergopoh-gopoh. Semula orang-orang mengira ada tentara musuh yang datang menuju markas mereka di tengah hutan.

”Malam, Komandan…” Siwur memberi hormat.

”Malam…”

”Lapor…! Ada wanita tua yang diusung pakai tandu naik ke bukit…” kata Siwur, lalu menyerahkan teropong ke tangan sang jenderal.

Jenderal Buta Hurup mengarahkan lensa teropong melalui celah pepohonan. Tetapi, karena terhalang daun-daun dan bayangan mendung, matanya tak bisa melihat dengan jelas objek samar-samar yang bergerak di bawah cahaya bulan yang juga samar-samar. Beberapa jam lalu Jenderal Buta Hurup memang memerintahkan Regu Kancil yang berjumlah tujuh orang untuk menyergap tentara musuh yang sedang memperbaiki pembangkit listrik.

”Malam, Dan…” Kapten Dagul yang muncul dari kegelapan memberi hormat.

”Ya, ada apa, Gul…?”

”Lapor…! Kami membawa ibunda komandan…”

Kata-kata Kapten Dagul terdengar bagai mukjizat di telinga Jenderal Buta Hurup. ”Bagaimana mungkin orang tua yang telah kuperkirakan hilang berpuluh-puluh tahun silam kini ternyata masih hidup?” pikir Jenderal Buta Hurup yang langsung melompat-lompat seperti botek, menyongsong ibunya yang tengah ditandu melewati terowongan di bawah hutan kaktus.

”Inaaaak…!” pekiknya seraya menangkap tubuh ibunya dari tandu, kemudian memeluknya.

”Tugil…” seru wanita itu dengan suara lirih, lalu meraba wajah anaknya yang dipenuhi bekas luka.

Malam itu juga dilangsungkan upacara kenaikan pangkat kepada tujuh anggota Regu Kancil yang sukses dalam operasi kilat. Jenderal Buta Hurup dengan pakaian kebesaran keluar dari lubang pohon, disambut hormat senjata oleh anak buahnya.

Mata wanita itu berkaca-kaca menyaksikan anaknya yang buta hurup menjadi jenderal. (*)

Mataram, 2019–2020

CATATAN:
botek = anak monyet
iwong = tunas dari ubi yang tersisa setelah dipanen
kuling = jamur yang menempel di pohon mati
bakeq-beraq = hantu, penunggu hutan


Adam Gottar Parra

Lahir 12 September 1967 di Praya, Lombok Tengah. Menulis cerita pendek di sejumlah media cetak. Karyanya juga dimuat dalam beberapa buku kumpulan cerpen bersama.

Editor : Ilham Safutra


Close Ads