Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 4 Juni 2023 | 15.24 WIB

Tarik Tunai

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Ia mengangguk dan kembali tersenyum.

”Coba kamu buka surah Asy-Syu’ara ayat 224–227.”

Ia menggeser tempat duduknya dan ia sudah mulai tidak nyaman.

”Penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat, dungu. Pengikutnya saja sesat, kamu malah milih jadi pemimpinnya. Hidup di dunia ini nggak lama, bertobatlah.”

”Neraka tidak menerima orang yang perutnya kosong, Pak.”

”Mas, lagi puasa?”

Tanpa menjawab, ia meninggalkan masjid di tengah cuaca yang terik dan tenggorokan yang kering. Memang akhir-akhir ini matahari lebih menyengat dari biasanya. Sebelum ke tempat parkir, ia membuka keran depan masjid, membasuh wajah dan kepalanya yang pening oleh panas dan dakwaan orang yang baru dikenalnya. Di masjid ia berharap mendapat kedamaian, termasuk para pengunjungnya yang saleh-salihah, namun ia justru mendapat kabar buruk. Ia pergi dengan perut kosong menuju parkiran masjid. Ia melihat puntung rokok sisa setengah tergeletak di depan pintu gerbang masjid. Ia menghentikan motornya sejenak, menepikannya, lalu mengambil puntung rokok itu dan membakarnya. Kemudian ia membuka ponselnya, lalu mengetik sebuah puisi berjudul ”Puntung Rokok”.

Yang mati

Mesti dinyalakan lagi

Meski kotor dan seperti tak punya arti.

Ketika selesai mengetik puisi, bara rokok di jarinya nyaris membakar pembatas filter. Lalu ia mengisapnya sekali dan melemparnya ke jalan. ”Karena untuk satu bungkus rokok membutuhkan satu puisi,” gerutunya kemudian. Ia kembali mengengkol motornya dan pergi dari tempat itu.

Puisi ”Puntung Rokok” adalah satu dari tiga puisi yang dimuat media online yang honornya baru saja ia nikmati empat hari sebelumnya. Honor puisi seratus lima puluh ribu itu –dengan dikurangi potongan bulanan dari bank, hanya bisa diambil seratus ribu saja dan sekarang di rekeningnya hanya tersisa tiga puluh tujuh ribu rupiah. Kini, untuk mengisi perutnya dan membakar sebatang rokok ia harus pergi ke ATM pecahan dua puluh ribu di pusat kota.

Di sepanjang jalan ia selalu membayangkan buku puisi perdananya dapat meraih penghargaan. Ia berkeinginan menabung untuk hari pernikahannya kelak. Entah kapan. Ia masih mengalami trauma setelah ditinggal pacarnya. Bahkan ia mempunyai ketakutan untuk mencintai seseorang. Ia mempuyai ketakutan pada sesuatu yang bahkan belum terjadi. Ia menyadari bahwa ia telah kalah oleh kata-katanya sendiri. Bahkan ia merasa telah banyak menabung kemurungan di dalam puisi-puisinya. Padahal semasa kuliah S-1 ia mempunyai rasa percaya diri yang besar, bahwa ia akan menjadi penulis besar, seperti cita-cita teman penulisnya yang lain. Kini beberapa temannya sudah menjadi dosen dan kawin, sudah mempunyai momongan dan rumah. Sebagian lagi menjadi pengusaha penerbitan buku. Sementara ia masih jomblo, yang untuk memenuhi kebutuhan perutnya saja masih ngos-ngosan.

Ia memarkir motornya, lalu menuju mesin ATM pecahan dua puluh ribu. Ketika uang dua puluh ribu keluar dari mesin ATM, ada pancaran kebahagiaan di wajahnya. Di kepalanya langsung terbayang tempe garit dan sambal bawang Mbok Badar. Ia mengambilnya, lantas bergegas menuju parkiran. Tapi sebelum ia mengengkol motornya, tukang parkir datang mendekati motornya.

”Maaf, Mas. Nggak ada receh.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore