Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 April 2023 | 23.00 WIB

Khotbah Idul Fitri Terakhir di Kota Revolusi

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Mari buka koran mingguan Pesat edisi 19 Juli 1950. Satu peristiwa pada dua tempat berbeda berada dalam satu laporan Idul Fitri di Jogjakarta dan di Jakarta. Dua kota yang bertukar posisi saat Indonesia mengarungi tahun-tahun revolusi yang berdarah.

IDUL Fitri 1 Syawal 1369 Hijriah atau 16 Juli 1950 di Jogjakarta dipusatkan di Alun-Alun Utara. Sementara, di Jakarta digelar di Lapangan Banteng. Naskah resmi khotbah Id di Jogjakarta disampaikan Assaat. Di Lapangan Banteng, Soekarno tampil di mimbar sebagai pengkhotbah.

Assaat yang berkhotbah di Jogja adalah ”acting presiden” yang membawahkan wilayah yang kita kenal dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Jogjakarta dan Karesidenan Kedu. Sementara, Soekarno adalah presiden Republik Indonesia Serikat yang membawahkan banyak negara bagian.

Bagi Jogja, Id ’50 adalah Idul Fitri pemungkas sebagai ibu kota revolusi. Sementara, Id di Jakarta adalah permulaan Indonesia melayari apa yang disebut era politik liberal.

Id ’50 itu adalah jalur persimpangan yang sangat kritikal dan menentukan atas jalan sebuah negeri yang baru merdeka lima tahun silam atau Idul Fitri yang keenam. Revolusi membikin para elitenya mesti melakukan rotasi bentuk negara mengikuti perkembangan perang melawan kekuatan kolonial yang ingin berkuasa.

Jogjakarta adalah ibu kota revolusi yang menjadi saksi betapa melelahkannya jalan awal ini. Kekerasan itu membusukkan luka dan membikin semua-muanya mesti tawakal atas nyawa yang tiap saat direnggut.

Maka, tak salah bila pesan utama khotbah Assaat yang mewakili Jogja sebagai ibu kota NKRI dan khotbah Soekarno yang mewakili Jakarta sebagai ibu kota RIS berspirit sama, yakni semangat perdamaian. Kita semua sudah lelah dengan desing kekerasan.

Dengarkan khotbah Assaat: ”Justru pada hari jang mulia ini harus kita bermaaf-maafan dengan sesungguh-sungguhnja, membuang djauh rasa dendam kepada sesama bangsa kita terutama sesama ummat Islam. Dengan sikap begini akan lenjaplah segala sumber2 perpetjahan antara kita sama kita jang sangat menghambat dan melambatkan usaha pemerintah mengadakan konsolidasi dan rekonstruksi dewasa ini. Allohu Akbar 3x.”

Dengarkan khotbah Soekarno: ”Kini udara diluar gelap. Terdjadi pertentangan hebat antara bangsa dan bangsa. Tetapi djika bangsa Indonesia tidak suka bertentangan sendiri, atas dasar jang sutji, maka insja Allah, orang lain itulah jg akan tjelaka sendiri, dan bangsa Indonesia akan bahagia. Kita harus memegang tekad semula. Tekad menjelesaikan revolusi nasional dulu. Kita harus bersatu. Djangan bertengkar perkara jg ketjil2, sehingga merugikan revolusi nasional kita.”

Tetapi, realitas dalam khotbah keagamaan dan dinamika politik kerap lebih banyak tak sejalannya dengan realitas. Seruan agama yang besar diuji oleh apa yang disebut Soekarno dengan ”bertengkar perkara jg ketjil2”.

Agama membicarakan sesuatu yang relung dan memancing renungan, sementara politik menggaungkan yang remeh, bersifat harian, dan memancing ribut berkepanjangan.

Seusai Indonesia kembali mencoret kata ”Serikat” di Republik Indonesia pada 32 hari setelah khotbah Idul Fitri itu, keberisikan politik pun dimulai. Mohammad Natsir yang ditunjuk sebagai perdana menteri dari Masyumi tidak bisa bertahan sampai 200 hari.

Apa yang dibilang Soekarno sebagai ”udara diluar gelap” membentuk rasi pemberontakan yang digerakkan eksponen DI/TII, Andi Azis, Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), dan Republik Maluku Selatan (RMS).

Lihat, khotbah perdamaian Id ’50 langsung diuji politik liberal yang membikin kabinet jatuh lebih cepat. Spirit damai tak berdaya sama sekali di hadapan butho politik di mana Indonesia memang berada di titik gamang.

Revolusi memang selalu membuat gamang sebuah negeri. Yang sukses secara ekonomi dan mendapatkan jatah kemakmuran sebagai elite baru Republik berterima kasih kepada revolusi, sementara yang tersingkir akan menjadi paria, menjadi lumpen. Atau, dalam bahasa Emha Ainun Nadjib, menjadi ”gelandangan di kampung (negara) sendiri”.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore