
Mall Atrium Senen yang menempati kawasan Segitiga Senen. (Dok JawaPos.com)
JawaPos.com - Mal Atrium Senen yang ada di Jalan Senen Raya Jakarta Pusat, sebelum menjadi sebuah pusat perbelanjaan dan toko-toko mewah merupakan sebuah bangunan rumah yang dipenuhi oleh warga Tionghoa. Tidak hanya itu, sampai saat ini ada julukan khusus yang masih melekat disebagian orang untuk kawasan itu. Yakni Segitiga Senen.
Selain segitiga emas yang terkenal di daerah Thamrin, Sudirman, Gatot Subroto, Rasuna Said, dan KH Mas Mansyur, segitiga emas lainnya yang berada di Jakarta Pusat adalah Segitiga Senen.
Julukan itu tidak timbul begitu saja. Menurut salah seorang sejarawan bernama Yahya Andi Sahputra, nama Segitiga Senen berasal dari masyarakat yang ingin mempermudah menemukan sebuah lokasi.
"Karena dahulu kan banyak nama julukan di daerah itu. Seperti Tanah Tinggi, Jalan Kwini, macam-macam. Sehingga nama Segitiga Senen ini muncul untuk mempermudah orang mencari sebuah alamat atau patokan," katanya saat dihubungi JawaPos.com, Sabtu (7/4).
Nama awalan segitiga, lanjut Yahya, juga bisa dilihat dari bentuk jalan atau daerah Atrium Senen yang membentuk sebuah gambar segitiga apabila dilihat dari atas.
Sebelum adanya pertokoan, kawasan Segitiga Senen disinggahi oleh warga etnis Tionghoa. Sehingga pada zaman dahulu, rumah-rumah bergaya Tionghoa mendominasi daerah tersebut. Pun para pedagang juga didominasi oleh warga Tionghoa.
"Barulah sekitar tahun 70-an pasar-pasar itu mendominasi di kawasan Segitiga Senen," singkat Yahya.
Dikabarkan pula pada zamannya, Segitiga Senen memiliki seniman-seniman jalanan yang berkumpul di kawasan itu. Akan tetapi Yahya menjelaskan jika lokasi seniman tersebut bukanlah tepat di segitiga emas.
"Mereka itu berada di Planet Senen. Kalau sekarang itu ya dekat dengan Stasiun Pasar Senen itu. Nah sebenarnya seniman itu tidak terlalu memengaruhi perihal Segitiga Senen. Hanya karena dekat dengan daerah itu, maka seniman ini sering disebutkan," jelas Yahya.
Kini Segitiga Senen tidak ada lagi rumah-rumah bergaya Tionghoa. Segitiga Senen ini menjelma menjadi sebuah gedung pertokoan bertingkat, serta kantor-kantor merah dengan hotel bintang limanya. Seperti Hotel Oasis Amir, Allson Residence Jakarta, Cowel Tower, dan masih banyak lagi.
Menurut Yahya tidak ada peristiwa yang menonjol di kawasan ini. Namun kala itu banyak laskar-laskar Jakarta yang terbentuk untuk mengusir para preman atau kumpeni belanda.
Selain itu menurut buku 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Dulu karya Zaenuddin MH, nama senen muncul diyakini berasal dari nama pasar pada masa kolonial Belanda. Sebab semula kawasan senen itu berupa rawa dan belukar saja, kemudian menjadi tanah pertanian yang subur dan melimpah. Justinus Vinck tertarik dengan komoditas tersebut.
Maka kemudian dia mendirikan pasar di ujung selatan Jalan Gunung Sahari pada 30 Agustus 1735. Orang-orang Belanda menyebutnya Vinckpasser (Pasar Vink). Akan tetapi masyarakat pribumi lebih mengenalnya sebagai Pasar Senen karena hanya buka setiap hari Senin.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Tumbang, Andika Kangen Band Minta Doa untuk Kesembuhannya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Prediksi Skor Arsenal vs Dortmund di Emirates Cup 2026: Mikel Arteta Punya Misi Bangkit di Emirates
