Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 27 April 2018 | 01.23 WIB

Ini Penjelasan Dokter Soal Efek Miras Oplosan

Dokter penanggung jawab penyakit dalam RSUD dr. Soetomo, dr. Hermawan Susanto SpPd. - Image

Dokter penanggung jawab penyakit dalam RSUD dr. Soetomo, dr. Hermawan Susanto SpPd.

JawaPos.com - Kepolisian belum mengeluarkan data rinci terkait jumlah pasti korban miras oplosan di Surabaya hingga Kamis (26/4). Mereka masih menggali informasi dari sejumlah rumah sakit.


Sebelumnya, Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin meminta media jernih dalam memberitakan miras oplosan. Machfud berharap agar media tidak salah mengidentifikasi korban miras oplosan.


"Susah kalau sudah beberapa hari kemudian. Tidak bareng-bareng meninggal. Kemudian diidentifikasi bahwa ini miras. Siapa tahu kena penyakit lain. Paru-paru, jantung," ucap Machfud.


Terkait pernyataan itu, RSUD dr. Soetomo memberikan penjelasan dari sisi medis. Miras memang bisa memicu penyakit kronis.


Dokter penanggung jawab penyakit dalam RSUD dr. Soetomo dr. Hermawan Susanto SpPd memaparkan, pada dasarnya ada bermacam-macam jenis zat yang terkandung di dalam alkohol. "Tapi yang sering kita dengar itu etanol dan metanol. Metanol ini orang awam nyebutnya spiritus," papar Hermawan.


Metanol dan etanol memiliki aroma dan rasa yang sama. Metanol lebih banyak dipakai untuk industri. Namun banyak orang menyalahgunakannya untuk meracik miras oplosan. "Dua-duanya sama-sama racun," tambah Herman.


Hermawan melanjutkan, efek metanol lebih bahaya daripada etanol. Jika keracunan etanol cukup bisa segera dipulihkan dengan penanganan awal. Misalnya dengan meminum obat Namun jika mengkonsumsi metanol, bisa menimbulkan gejala-gejala berat. Mulai mata kabur, sakit kepala hebat, sesak nafas hingga step.


Untuk memasuki fase step bisa sampai rentang waktu 72 jam. "Ini yang kadang-kadang dipikir mabuk biasa. Sehingga terlambat dibawa," ungkap Hermawan.


Ada suatu kasus di mana korban diduga meminum etanol. Kemudian korban mengalami kegagalan organ failure. Sama seperti yang disebabkan metanol. Hal ini terjadi karena korban sudah memiliki riwayat penyakit lain.


Etanol sendiri bisa menyebabkan gangguan di liver. Liver diselimuti lemak, chirrhosis jika korbannya memang punya kelainan metabilis. "Alkohol adalah faktor risiko yang memperberat itu," tegasnya.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore