Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 29 Agustus 2017 | 01.56 WIB

Jejak-Jejak Literasi, Benda Kuno di Balik Untaian Kata

WAKTU KE WAKTU: Krisnita melihat media untuk menulis zaman dulu yang dipamerkan di Museum House of Sampoerna. Ada sabak dan pena dengan bulu angsa. - Image

WAKTU KE WAKTU: Krisnita melihat media untuk menulis zaman dulu yang dipamerkan di Museum House of Sampoerna. Ada sabak dan pena dengan bulu angsa.

JawaPos.com – Aksara menjadi bagian penting dalam literasi. Ia berkembang menjadi huruf. Rangkaian huruf menjadi kalimat. Pembeda nyata dalam runtutan periode perkembangan sebuah peradaban.


Menutur Kisah di Balik Untaian Kata, pameran yang digelar di Museum House of Sampoerna (HOS) mulai Jumat (25/8), memperlihatkan benda-benda kuno yang berkaitan dengan literasi. Jumlahnya ada 20. Semuanya menarik karena menjadi bagian penting perjalanan literasi di Indonesia.


Ada benda yang dipamerkan yang berjudul Replika Kakawin Sutasoma. Isinya mengenai syair karangan Empu Tantular pada 1350–1389. Dalam bahasa Jawa Kuno, bagian pupuh 139 bait ke-5 dari kakawin itu berisi tentang semboyan Indonesia, yakni Bhinneka Tunggal Ika.


Aksara ditulis dalam lembaran lontar. Ada juga gambar yang mengisahkan cerita tulisan di bagian bawah lembaran lontar tersebut. Gambarnya bagus. Tulisan pun terlihat jelas. ”Ini membuktikan bahwa literasi sudah berkembang dari sebelum peradaban,” ujar Manager Museum & Marketing Rani Anggraini.


Beralih dari sana, ada pula alat tulis berupa sabak dan grip. Ada tiga sabak dengan ukuran berbeda-beda. Sabak terbuat dari lempengan baru karbon berwarna hitam. Sama halnya yang digunakan pada grip (mirip pensil).


Sabak menjadi alat tulis yang digunakan siswa di Indonesia pada era 1960-an sebelum buku tulis terbuat dari kertas. Sabak bukanlah peranti menyimpan bekas yang permanen. Setelah tulisan penuh, langsung dihapus untuk kembali digunakan. Jadi, siswa saat itu dituntut menghafal materi yang dituliskan dalam sabak tersebut.


Benda itu terbilang langka. ”Kalau sekarang kan, orang nulis bisa pakai komputer maupun gadget,” katanya. Meski begitu, sabak dianggap penting dalam perkembangan alat tulis di Indonesia. Kalau tidak ada sabak, belum tentu muncul buku seperti saat ini.


Di samping sabak dan grip, bertengger pena bulu angsa dan tempat tinta dari kuningan. Benda tersebut menandakan masuknya tinta ke Indonesia sekitar awal abad ke-19. Bentuknya mirip pena yang digunakan Harry Potter yang tergambar dalam film. Hanya, ia tidak memiliki sihir.


Selain itu, sepuluh mesin ketik jadul tak kalah menarik perhatian dalam pameran. Tiap mesin memiliki sisi unik. ”Masih dapat digunakan, lho,” ucapnya. Pameran mesin ketik tersebut juga menggambarkan perjalanan sejarah yang begitu cepat. Dari tahun ke tahun, ada saja perubahan dan perkembangan mesin dengan fungsi yang lebih canggih.


Mesin ketik paling tua dalam pameran itu terbuat pada 1901. Namanya, Underwood 5. Ia berwarna hitam dengan tombol huruf berbentuk lingkaran. Terdiri atas 84 karakter. Selain itu, ada mesin ketik braille buatan 1980. Mesin ketik panjang buatan 1960 ikut dipamerkan. Bagian cetaknya memiliki panjang 80 sentimeter. ”Ini untuk mencetak lembaran kertas yang besar,” jelasnya.


Pameran yang berlangsung hingga 10 September tersebut bekerja sama dengan Bentara Budaya Jogjakarta dan Museum Negeri Provinsi Jawa Timur Mpu Tantular. ”Kami berharap dengan pameran ini, masyarakat lebih peduli tentang literasi,” ungkapnya.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore