Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Juni 2017 | 08.54 WIB

Napak Tilas Jejak sang Proklamator, Cangkruknya di Seberang Kos-kosan

GANG JALAN PANDEAN: Di gang tersebut, ada rumah yang menjadi tempat kelahiran Soekarno pada 6 Juni 1901. Rumah berukuran 6 x 14 meter ini berdekatan dengan rumah H.O.S Tjokroaminoto. Hanya, saat ini dimiliki pihak swasta. Namun, Seokarno tidak tinggal lam - Image

GANG JALAN PANDEAN: Di gang tersebut, ada rumah yang menjadi tempat kelahiran Soekarno pada 6 Juni 1901. Rumah berukuran 6 x 14 meter ini berdekatan dengan rumah H.O.S Tjokroaminoto. Hanya, saat ini dimiliki pihak swasta. Namun, Seokarno tidak tinggal lam


Selasa, 6 Juni adalah hari kelahiran Koesno Sosrodihardjo atau lebih dikenal Soekarno. Presiden pertama RI tersebut lahir dan menghabiskan sebagian masa remajanya di Surabaya. Hingga kini, masih ada ”jejak-jejak” sang proklamator di sini.





GANG Peneleh VII, Kecamatan Genteng, begitu spesial dengan adanya penanda rumah H.O.S. Tjokroaminoto di bagian depan. Sebuah jalan yang padat dengan rumah penduduk, tapi memiliki kenangan kehidupan pahlawan negeri ini.



Beberapa tokoh nasional berkaitan dengan gang tersebut. Termasuk masa remaja Soekarno. Di rumah H.O.S. Tjokroaminoto itulah, Soekarno pernah tinggal selama lima tahun. Dia ngekos di rumah berukuran 12 x 22 meter tersebut pada 1915–1920. Rumah itu saat ini memang banyak mengalami perubahan. Perabot-perabotnya juga. Hanya bentuk rumah khas kolonial Belanda yang masih dipertahankan.



Ciri khas rumah kolonial terletak pada atap menjulang tinggi. Bagian atap sering dimanfaatkan sebagai kamar maupun gudang. Begitu juga di rumah milik pemimpin Sarekat Islam tersebut. Bagian lotengnya dimanfaatkan sebagai kamar. ”Dulu di atas itu ada enam kamar yang terbagi berdasar sekat-sekat,” ungkap Achmad Yanuar Firmansyah, pemandu di rumah H.O.S. Tjokroaminoto. Soekarno menempati salah satu kamar itu.



Kondisi rumah tersebut sudah berubah. Loteng tetap ada. Tapi, sekat-sekat kamar sudah dihilangkan. ”Yang masih kuat bertahan itu yatangga besi ini. Tangga yang menghubungkan lantai satu ke loteng,” ungkap Yanuar.



Di ruang tamu, berjejer foto-foto yang dapat membuktikan Soekarno pernah tinggal di sana. Salah satunya, ada foto Soekarno bersama kawan-kawannya satu sekolah di Hogere Burgerschool (HBS) yang sekarang menjadi bangunan Kantor Pos Kebon Rejo Surabaya. Lokasi sekolah cukup dekat, sekitar 2 kilometer saja dari rumah Tjokroaminoto.



Soekarno dikenal banyak membangun jaringan di daerah kos-kosannya itu. Dia mulai aktif berorganisasi. Lokasi rumah kos tersebut memang sangat strategis. Dekat dengan pusat perdagangan, yakni aliran Sungai Kalimas. Dulu banyak kapal dan perahu perdagangan yang lalu-lalang di sana. ”Dari loteng, dari kamar Soekarno, bisa lihat ke arah sungai,” ucapnya.



Di rumah H.O.S. Tjokroaminoto ini juga, Soekarno menemukan jodoh. Dia menikah dengan Oetari, putri H.O.S. Tjokroaminoto, sebelum pindah ke Bandung untuk melanjutkan sekolah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sana mereka juga bertemu dengan Kartosuwiryo, Semaun, serta Muso. Walaupun lebih senior, ketiganya juga memengaruhi kehidupan sang proklamator.



Staf pengajar Departemen Ilmu Sejarah Unair Adrian Perkasa juga menegaskan bahwa Tjokroaminoto cukup bangga dengan Soekarno muda. Beberapa kali dia diajak ikut rapat terbuka Sarekat Islam, organisasi yang digeluti Tjokroaminoto. ”Orang dulu kan harus ngeger (mengabdi, Red) dengan siapa dia dititipkan. Untung, Soekarno ini dititipkan pada Tjokroaminoto. Tjokroaminoto pun melihat bahwa Soekarno muda memiliki benih mencintai rakyat,” ucap Adrian.



Ada toko buku Peneleh yang tak kalah menarik perhatian di Gang Peneleh VIII. Tempatnya berada di seberang rumah H.O.S. Tjokroaminoto. Di toko buku itulah, Soekarno sering menghabiskan waktu untuk membaca buku. Dia sering mengadakan rapat atau sekadar cangkruk dengan temannya di toko buku tersebut. ”Paling suka baca buku pengetahuan dan agama. Itu cerita yang saya dapatkan dari bapak saya,” ujar Nurul Dhucha yang kini usianya sekitar 80 tahun.



Seingat Nurul, dirinya lahir pada 1935. Dialah kini pemilik toko buku warisan sang ayah. Setelah menjadi presiden, Soekarno beberapa kali datang ke toko buku tersebut. Ada foto yang membuktikan hal itu. Foto tersebut dipasang Nurul tepat di sisi kiri pintu yang menghubungkan toko dan rumah bagian dalam. ”Itu foto Soekarno bersama bapak saya, Abdulatif Zain,” tambahnya.



Pakar sejarah Peter Apollonius Robi mengatakan, Soekarno memang memiliki keterikatan yang sangat kuat dengan Surabaya. Dia pernah melakukan beberapa penelitian berdasar sumber buku biografi Soekarno. Dia juga melakukan wawancara langsung dengan saksi yang berkaitan dengan kehidupan Soekarno pada masa lampau.



Peter menyebut orang tua Soekarno, Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai, datang ke Surabaya sekitar 1900. ”Saat itu ibunya hamil Soekarno tiga bulan,” kata pria 75 tahun tersebut.



Kemudian, Soekarno dilahirkan di rumahnya yang beralamat di Jalan Pandean IV No 40. ”Rumah itu saat ini jadi milik swasta,” tambahnya.



Catatan kelahiran Soekarno di Surabaya tersebut, lanjut dia, berdasar buku Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams. ”Ada tulisan jelas, Soekarno lahir di Surabaya,” ungkap Peter.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore