
BUNGA LAUTAN: Teguh Prasodjo menyelam untuk mengobservasi terumbu karang yang tumbuh di gading kapal SS Bengal.
Terumbu umumnya hidup di tempat yang terpapar cahaya matahari hingga kedalaman 50 meter. Karena itu, banyak terumbu karang yang ditemukan di perairan tropis seperti Bawean.
Heny menuturkan, berdasar hasil pengamatannya selama ini, sebagian terumbu karang di Bawean telah rusak akibat eksploitasi besar-besaran. Salah satu penyebabnya, penggunaan potasium untuk mendapatkan ikan dan lobster. Cairan kimia tersebut disemprotkan ke sela-sela karang. Ikan yang bersembunyi seketika itu pingsan dan mudah ditangkap.
Cara seperti itu bakal lebih merusak ketimbang penggunaan bom ikan. Saat diledakkan, karang-karang memang bakal hancur. Namun, serpihan tersebut bisa tumbuh kembali. Sementara itu, potasium bakal tertumpuk di lautan dan mematikan karang yang disemprot.
***
Kasi Purbakala dan Kesejarahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gresik Iling Kairil Anwar menyatakan, perlindungan terhadap karang SS Bengal telah diupayakan dalam bentuk penetapan benda cagar budaya. Nantinya, ada SK bupati yang bakal mengesahkan penetapannya. ”Saat ini masih proses di pemkab,” jelasnya.
Setelah aturan tersebut ditetapkan, SS Bengal bakal menjadi salah satu cagar budaya bawah laut pertama yang ditetapkan di Indonesia. Setelah itu, akan dilakukan penelitian lanjutan oleh tim cagar budaya Gresik.
Lalu, untuk tujuan apa cagar budaya bawah air tersebut? Salah satu opsinya, pariwisata. Iling mengungkapkan, selama 10 tahun terakhir, kualitas terumbu karang Bawean menurun drastis.
Banyak wisatawan yang kecewa saat mencoba menikmati wisata bawah laut Bawean. Nah, dengan adanya terumbu di SS Bengal yang terawat, kekecewaan itu mungkin bisa terobati.
Masyarakat Bawean harus ikut serta dalam menjaga kelestarian tersebut. Nelayan yang dulu memakai potasium harus segera diedukasi. Mereka lalu digandeng untuk memajukan sektor pariwisata. ”Penghasilan mencari ikan bisa digantikan dengan mengantar wisatawan,” ujar pria asal Sangkapura itu.
Bila memang benar-benar digunakan untuk wisata, kawasan SS Bengal harus ditandai dengan buoy atau bola pelampung. Itu menandakan bahwa zona tersebut dilindungi.
Selain itu, perlu ditentukan titik parkir bagi perahu pengantar. Sebab, haram hukumnya untuk melempar jangkar di karang-karang di sekitar SS Bengal. Jangkar tersebut bisa merusak terumbu karang yang tumbuh labat selama puluhan tahun hingga ratusan tahun. (*/c20/git)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
