Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Februari 2017 | 06.45 WIB

Mulai Berani Transaksi SS di Pasar, Polisi Pelototi Peredaran Narkoba di Kampung

Kawasan Rawan Peredaran Narkoba - Image

Kawasan Rawan Peredaran Narkoba

JawaPos.com – Peredaran narkoba di metropolis semakin masif. Para bandar kini membentuk pola jaringan pengedar yang tersebar di kampung-kampung. Dengan begitu, barang terlarang tersebut cepat laku dan menyebar ke banyak lokasi.


Temuan terbaru BNNK Surabaya menunjukkan bahwa jaringan narkoba tanpa tedeng aling-aling lagi dalam memasarkan barang haram tersebut. ’’Ada pengedar yang terang-terangan bertransaksi narkoba di Pasar Pesapen, Pabean Cantian,’’ tutur Kepala BNN Kota Surabaya AKBP Suparti Rabu (8/2).


Hal itu diketahui ketika lembaga antimadat tersebut punya target penangkapan di sana. Pelaku yang akan diringkus bernama M. Soleh. Dia sudah lama diincar. Sayang, dia masih bisa lolos. Pada operasi penangkapan terakhir bulan lalu, Soleh sempat dilindungi anak buahnya.


Ketika itu seksi berantas di BNNK sudah mengetahui keberadaan Soleh di Pasar Pesapen. Mereka lantas melakukan undercover buy. Di sana mereka bertemu dengan anak buah Soleh yang sudah siap memberikan sepoket sabu-sabu. Mereka membuat janji di sebuah warung kopi di dalam pasar. Namun, saat sabu-sabu (SS) belum di tangan petugas, Soleh keburu muncul.


Dengan masih mengenakan sarung, dia tahu bahwa yang bertransaksi dengan anak buahnya tersebut adalah orang BNN. Dia lantas lari menembus lapak pedagang dan kerumunan pembeli di pasar. Anak buahnya pun ikut meloloskan diri dari operasi itu. ’’Sayang, banyak warga di sana yang bungkam saat kami tanya keberadaan sasaran. Ini menjadi salah satu indikasi bahwa kawasan tersebut sangat rawan peredaran narkoba. Mereka seharusnya tidak boleh saling menutupi,’’ tambah mantan Kasubbaghumas Polrestabes Surabaya tersebut.


BNNK pun hanya bisa menggeledah rumah Soleh. Dia dan anak buahnya kini tidak pernah terlihat di Pasar Pesapen lagi. ’’Kami temukan airsoft gun dan kunci T di sana. Kemungkinan besar jaringan ini juga pencuri sepeda motor,’’ ungkap Suparti.


Polisi dengan dua melati di pundak itu melanjutkan, pihaknya kemudian memutuskan menuju titik lain. Yakni, di Rangkah, Kecamatan Tambaksari. Di lokasi itu ada dua pengedar lain yang masih satu jaringan dengan Soleh.


Bagi BNNK, lokasi tersebut merupakan titik baru yang terus dipelototi BNNK. Selama ini daerah yang sering masif peredarannya adalah Sawahan dan sekitarnya. Sebab, lokasi tersebut memang eks tempat prostitusi yang dijadikan tempat bersembunyi bagi para pengedar.


Kerawanan tersebut diukur dengan parameter tertentu. Suparti memaparkan, banyaknya pengedar tidak selalu dijadikan indikasi rawan. Namun, pihaknya juga harus mengetahui kepada siapa saja narkoba itu diedarkan. ’’Kalau diedarkan ke lingkungan sekitarnya, lalu ada satu kampung banyak yang mengonsumsi sabu-sabu, itu dikategorikan zona merah,’’ tutur mantan Kapolsek Wonocolo tersebut.


Indikator lain tentu seberapa sering penangkapan berlangsung di wilayah-wilayah itu. Selama banyak tersangka yang ditangkap berasal dari daerah yang sama, tentu pengaruh peredaran narkoba bisa dikatakan sudah demikian kuat.



BNNK sendiri hanya bisa membekuk seorang pengedar di kawasan Pabean Cantian. Namanya Haryanto. Dari tiga tempat itu, BNNK mengamankan 18,29 gram. ’’Kami fokus memutus mata rantai jaringan. Ini harus jadi musuh bersama,’’ jelasnya. (did/c15/git/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore