Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Desember 2016 | 23.16 WIB

"Ayam Kampus" Masuk Ruang Privat, Penuh Kode-Kode Jual Lewat Chatting

PELACURAN DUNIA MAYA: Kabid Humas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera (dua dari kanan) menunjukkan barang bukti dan para tersangka di Mapolda Jatim, Selasa (20/12). - Image

PELACURAN DUNIA MAYA: Kabid Humas Polda Jatim Kombespol Frans Barung Mangera (dua dari kanan) menunjukkan barang bukti dan para tersangka di Mapolda Jatim, Selasa (20/12).



Identik dengan dunia esek-esek. Modus yang dijalankan pun, lanjut dia, bermacam-macam. Mereka membentuk peer group atau kelompok. Isinya perempuan pekerja seks.



Mereka saling menjual satu sama lain. Dari hasil menjual temannya itu, mereka dapat komisi. ’’Ini paling umum dilakukan. Banyak sekali modus seperti ini,’’ jelas pria 47 tahun tersebut.



Ada juga yang lebih profesional. Terdapat institusi yang menaungi. Persis seperti bentuk lokalisasi, tetapi di dunia maya. ’’Mereka bekerja lebih terorganisasi. Lebih rapi. Jadi sangat selektif,’’ ungkapnya.



Dalam kasus yang tengah ditangani Polda Jatim, AP yang masih berstatus mahasiswa di Surabaya kebagian mencari ’’ayam-ayam’’ itu. Mencarinya pun dengan cara sembunyi-sembunyi.



AP cukup selektif dalam memilih calon ’’ayam kampus’’. ’’Semuanya adalah teman-teman dekat sesama mahasiswa,’’ kata Barung. Untuk menambah nilai jual, mereka biasanya diembel-embeli profesi lain.



Misalnya, dancer atau sales promotion girl (SPG). Malah ada yang baru lulus SMA. ’’Dengan status dan identitas, mereka punya nilai jual. Yang paling mahal adalah seleb, pramugari, model, dan ’ayam kampus’,’’ ungkap Barung.



Untuk menaikkan status tersebut, para PSK itu kerap mencari-cari status. Misalnya, sengaja kuliah di kampus sepanjang mereka bisa mendapatkan status mahasiswi.



Dengan beraksi di jagat online, cakupan praktik itu menjadi sangat luas. Bukan hanya Surabaya, tetapi juga melayani Sidoarjo, Pasuruan, hingga Malang. Tarifnya cukup tinggi. Lebih tinggi jika lokasi booking berada di luar kota.



Menurut barang bukti berupa chatting yang dilakukan UY dengan salah seorang pembeli, sekali kencan dibanderol Rp 2 juta–Rp 3 juta. Harga itu sudah termasuk menemani kencan, minum, dan hubungan seks.



’’Menurut mereka, pelanggannya juga dari berbagai kalangan. Tapi masih belum bisa kami pastikan,’’ lanjut pria asal Kalimantan Timur tersebut.



Pembayaran juga lebih mudah. Bisa cash atau transfer bank. Yang jelas harus ada uang muka. Biasanya sekitar Rp 300 ribu–Rp 500 ribu.



Dua tersangka tersebut ternyata beraksi sejak dua tahun terakhir. Cukup lama untuk menjerat banyak lelaki nakal dan perempuan penjaja seks. Karena itu, polisi akan terus mengembangkan perkara tersebut.



Tidak tertutup kemungkinan ada tersangka baru. ’’Kalau ada perkembangan akan kami sampaikan,’’ jelasnya. Klien utama mereka adalah generasi yang masih melek teknologi.



Menurut Yuyung, remaja dan para pekerja kantor masih menjadi target utama. Terutama mereka yang sering masuk ke tempat-tempat hiburan. ’’Karena mereka ini mayoritas sudah paham dengan kode-kode yang digunakan,’’ paparnya.



Namun, Yuyung mengingatkan bahwa tidak semua yang ditawarkan itu benar. Banyak juga yang berniat menipu. Biasanya orang-orang yang mengirimkan gambar stagnan.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore