
PENJAGA BUDAYA: Setelah menunaikan salat Magrib di Masjid Rahmat, warga berdoa bersama, lalu menikmati hidangan megengan.
JawaPos.com – Berbagai tradisi dilaksanakan untuk menyambut Ramadan yang segera datang. Salah satunya diadakan di Masjid Rahmat pada Kamis (25/5).
Sejak pukul 5 sore, warga berdatangan dengan menenteng beraneka makanan. Mulai apem, pisang, hingga nasi lengkap dengan lauknya. Tidak ada batasan berapa yang harus dibawa. Semua seikhlasnya saja.
Saat petang, azan Magrib berkumandang. Para jamaah bergegas melaksanakan salat. Sehabis beribadah, jamaah melaksanakan kirim doa agar ibadah puasa diberi kelancaran. Itulah yang disebut megengan.
Megengan memiliki arti mengagungkan bulan suci yang akan datang. Bulan tersebut harus disambut sukacita oleh umat Islam. ”Megengan itu berasal dari kata mengagungkan. Karena orang Jawa moh ribet, akhirnya disebut megengan,” ujar Ahmad Murtadji, takmir dan imam rawatib di Masjid Rahmat.
Setelah kirim doa dan tahlilan, warga bergegas duduk melingkar di serambi masjid. Satu per satu apem, pisang, dan makanan yang dibawa oleh warga disajikan. Ahmad pun memimpin doa di hadapan puluhan warga yang sepertinya sudah tidak sabar menyantap hidangan yang ada. ”Ini merupakan bentuk syukur kita. Belum tentu kita dipertemukan dengan Ramadan tahun depan,” ujarnya singkat.
Setelah berdoa bersama, warga langsung mengambil makanan yang tersedia. Maklum saja, itu merupakan agenda tahunan yang sudah jarang terlihat di Surabaya.
Ahmad menjelaskan, masing-masing makanan yang dibawa bukan sekadar penganan. Di balik itu, ada makna yang tersimpan. Misalnya saja apem. Apem diambil dari bahasa Arab afwan yang artinya ampunan. ”Warga yang memberi apem itu berarti bersedekah dengan apem. Mereka memohon ampunan bagi leluhur yang telah mendahului,” terangnya.
Begitu juga buah pisang. Pisang memiliki falsafah pinusunge tiyang gesang. Artinya, dalam kehidupan harus mencontoh pohon pisang. ”Pohon pisang kalau belum berbuah biarpun dipotong akan tetap tumbuh. Berbeda jika sudah berbuah, akan mati dengan sendirinya. Begitu juga manusia. Harus bermanfaat bagi orang lain,” katanya.
Suasana ramai juga tampak di makam Dukuh Gendong. Dukuh di ujung barat Surabaya itu mengadakan megengan. Sejak pukul 3 sore, warga berduyun-duyun ke makam desa. Beralas tikar, warga melaksanakan tahlilan dan mengirim doa. Tidak lupa, suguhan kue apem dan pisang.
Setelah tahlilan, kegiatan dialihkan ke masjid. Di sana mereka mengadakan syukuran dengan makan bersama. ”Ini dalam rangka megengan. Memang tradisi tiap tahun kalau di sini,” terang Seno, ketua RW Dukuh Gendong.
Megengan pun membawa rezeki. Salah satunya bagi Sumiatun. Dia menjadi pengusaha dadakan. Sumiatun memang terkenal dengan kemampuannya membuat apem. Alhasil, warga Bulak Setro itu ketiban rezeki. Kemarin dia mendapat pesanan ribuan kue apem. Per kue dijual seharga Rp 1.200. Karena keterbatasan tenaga, dia mengajak anggota keluarganya. ”Kewalahan pesanan banyak. Ini saya ngajak adik saya,” terang Sumiatun. (gal/c6/git)

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Kasus Korupsi Sritex, Mantan Dirut Bank Jateng Dituntut 10 Tahun
Sisa 6 Laga Tersisa, Ini Jadwal Persib, Borneo FC, dan Persija di Super League! Siapa yang Jadi Juara
