Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 27 Mei 2017 | 03.37 WIB

Sambut Ramadan, Tenteng Apem dan Pisang

PENJAGA BUDAYA: Setelah menunaikan salat Magrib di Masjid Rahmat, warga berdoa bersama, lalu menikmati hidangan megengan. - Image

PENJAGA BUDAYA: Setelah menunaikan salat Magrib di Masjid Rahmat, warga berdoa bersama, lalu menikmati hidangan megengan.


JawaPos.com – Berbagai tradisi dilaksanakan untuk menyambut Ramadan yang segera datang. Salah satunya diadakan di Masjid Rahmat pada Kamis (25/5).



Sejak pukul 5 sore, warga berdatangan dengan menenteng beraneka makanan. Mulai apem, pisang, hingga nasi lengkap dengan lauknya. Tidak ada batasan berapa yang harus dibawa. Semua seikhlasnya saja.



Saat petang, azan Magrib berkumandang. Para jamaah bergegas melaksanakan salat. Sehabis beribadah, jamaah melaksanakan kirim doa agar ibadah puasa diberi kelancaran. Itulah yang disebut megengan.



Megengan memiliki arti mengagungkan bulan suci yang akan datang. Bulan tersebut harus disambut sukacita oleh umat Islam. ”Megengan itu berasal dari kata mengagungkan. Karena orang Jawa moh ribet, akhirnya disebut megengan,” ujar Ahmad Murtadji, takmir dan imam rawatib di Masjid Rahmat.



Setelah kirim doa dan tahlilan, warga bergegas duduk melingkar di serambi masjid. Satu per satu apem, pisang, dan makanan yang dibawa oleh warga disajikan. Ahmad pun memimpin doa di hadapan puluhan warga yang sepertinya sudah tidak sabar menyantap hidangan yang ada. ”Ini merupakan bentuk syukur kita. Belum tentu kita dipertemukan dengan Ramadan tahun depan,” ujarnya singkat.



Setelah berdoa bersama, warga langsung mengambil makanan yang tersedia. Maklum saja, itu merupakan agenda tahunan yang sudah jarang terlihat di Surabaya.



Ahmad menjelaskan, masing-masing makanan yang dibawa bukan sekadar penganan. Di balik itu, ada makna yang tersimpan. Misalnya saja apem. Apem diambil dari bahasa Arab afwan yang artinya ampunan. ”Warga yang memberi apem itu berarti bersedekah dengan apem. Mereka memohon ampunan bagi leluhur yang telah mendahului,” terangnya.



Begitu juga buah pisang. Pisang memiliki falsafah pinusunge tiyang gesang. Artinya, dalam kehidupan harus mencontoh pohon pisang. ”Pohon pisang kalau belum berbuah biarpun dipotong akan tetap tumbuh. Berbeda jika sudah berbuah, akan mati dengan sendirinya. Begitu juga manusia. Harus bermanfaat bagi orang lain,” katanya.



Suasana ramai juga tampak di makam Dukuh Gendong. Dukuh di ujung barat Surabaya itu mengadakan megengan. Sejak pukul 3 sore, warga berduyun-duyun ke makam desa. Beralas tikar, warga melaksanakan tahlilan dan mengirim doa. Tidak lupa, suguhan kue apem dan pisang.



Setelah tahlilan, kegiatan dialihkan ke masjid. Di sana mereka mengadakan syukuran dengan makan bersama. ”Ini dalam rangka megengan. Memang tradisi tiap tahun kalau di sini,” terang Seno, ketua RW Dukuh Gendong.



Megengan pun membawa rezeki. Salah satunya bagi Sumiatun. Dia menjadi pengusaha dadakan. Sumiatun memang terkenal dengan kemampuannya membuat apem. Alhasil, warga Bulak Setro itu ketiban rezeki. Kemarin dia mendapat pesanan ribuan kue apem. Per kue dijual seharga Rp 1.200. Karena keterbatasan tenaga, dia mengajak anggota keluarganya. ”Kewalahan pesanan banyak. Ini saya ngajak adik saya,” terang Sumiatun. (gal/c6/git)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore