
Photo
JawaPos.com – Tangan dalang Ki Abbas mengangkat tokoh yang berciri khas busana kebesaran berupa Kutang Antakusuma. Kisah kesatria sakti mandraguna tersebut sukses menyedot perhatian para penonton. Gatotkaca menjadi lakon utama dalam pergelaran wayang berjudul Temurune Wahyu Sudi Tomo di Desa Modong, Tulangan, Sabtu (20/5) malam.
Penonton yang memenuhi Balai Desa Modong malam itu bukan hanya masyarakat desa setempat. Warga dari berbagai desa yang ingin melihat pertunjukan tersebut pun berduyun-duyun datang. Ada yang dari wilayah Kecamatan Tulangan. Banyak pula yang dari Krembung dan Wonoayu.
Tokoh Gatotkaca yang dimainkan Ki Abbas mampu menyihir para penikmat wayang. Salah satunya, Lukman Amirullah, warga Desa Kepatihan, Tulangan. Pria 25 tahun itu mengatakan menyukai pertunjukan wayang. ’’Teman seusia saya ya bisa dihitung yang masih suka (wayang). Tapi, menurut saya, wayang itu kebudayaan yang berharga,’’ tuturnya. Lukman selalu penasaran dengan tokoh utama di setiap pertunjukan wayang. ’’Biasanya dikisahkan sesuai dengan penggambaran sebuah daerah di momen tertentu,’’ katanya.
Pernyataan tersebut klik dengan pertunjukan wayang di Desa Modong waktu itu. Pergelaran wayang merupakan acara puncak dari rangkaian Ruwah Desa. Sempat vakum dua tahun, pergelaran wayang kembali dihadirkan ke tengah masyarakat tahun ini.
Kepala Desa Modong Masduqi menyatakan, alur cerita Gatotkaca menerima wahyu dari Betoro sengaja dipilih untuk menggambarkan jasa para leluhur desa. ’’Gatotkaca ini kan istilahnya manusia terpilih yang bisa membawa pengaruh baik ketika mendapat pesan dari Betoro. Ya seperti Ki Gede Modong Mbah Ibrahim dahulu,’’ paparnya. Dia berupaya menyampaikan pesan kepada masyarakatnya bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang menyebarkan kebaikan. ’’Kuat saja ndak cukup to ya,’’ lanjutnya.
Achmad Sholehuddin, Kasi Kesejahteraan Desa Modong, menambahkan bahwa kegiatan Ruwah Desa merupakan agenda wajib setiap tahun. Salah satu acara yang tidak pernah ketinggalan adalah mengadakan pengajian masal di makam Ki Gede Modong Mbah Ibrahim yang merupakan leluhur desa. ’’Tujuan utamanya dua. Merefleksikan kembali perjuangan sesepuh yang babat desa ke generasi sekarang dan berdoa supaya jauh dari bencana,’’ ucapnya.
Sebagai ketua pelaksana rangkaian acara, Sholehuddin juga tidak mau melewatkan momen bertajuk Malam Penuh Sholawat. Semalam suntuk ada penampilan salawat dan banjari dari 12 kelompok asal Tulangan dan Porong. ’’Biar desa diselimuti aura baik. Masyarakatnya aman dan sejahtera,’’ ungkapnya. Rangkaian Ruwah Desa Modong dihelat sejak Rabu-Sabtu (17-21/5). Seluruh acara berjalan lancar dan meriah. Semoga Desa Mondong menjadi berkah. (via/c15/ai)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
