
BERANTAKAN: Seorang warga korban puting beliung membersihkan atap dari genting yang berserakan.
JawaPos.com – Pemkab harus bertindak cepat dalam memulihkan kembali dua desa yang rusak dihantam bencana puting beliung Rabu lalu (15/2). Caranya, segera menyerahkan bantuan dana kepada ratusan warga terdampak. Bantuan itu sangat dinanti warga untuk membangun kembali rumah mereka yang porak-poranda.
Salah satu warga yang berharap bantuan segera cair adalah Suwatin. Rumah warga Dusun Kanigoro, Desa Keboharan, itu hancur. Angin menerbangkan seluruh genting rumahnya. Bukan hanya itu, bambu yang digunakan sebagai penyangga genting pun rusak. Kini sinar matahari leluasa menembus rumahnya. Saat hujan, air pun langsung menggerojok tempat tinggalnya. ’’Rusak semua rumah saya,’’ ungkapnya memelas.
Hingga kini, Suwatin masih mendapatkan bantuan terpal dan konsumsi tiga kali sehari. Terpal dipasang untuk menutup musala rumahnya yang gentingnya amblas. ’’Sebenarnya saya berharap disumbang genting,’’ tuturnya.
Lantaran tidak kunjung mendapatkan bantuan untuk memperbaiki rumah, perempuan berusia 53 tahun tersebut terpaksa berutang. Dia memutuskan mengambil asbes dari toko bangunan Sabtu (18/2) di dekat rumahnya. ’’Bayarnya bisa belakangan,’’ katanya.
Angin kencang itu juga menghancurkan sejumlah rumah di RT 10, RW 3, Dusun Kanigoro. Kerusakan paling parah dialami rumah milik keluarga Harun Al Rasyid. Atap rumahnya hilang entah ke mana. Genting dan kayu penyangga nyaris tidak tersisa. Tembok kamar depan ambrol. Ditambah lagi, sejumlah perabot rumahnya seperti kulkas, lemari, dan kasur tidak bisa digunakan lagi.
Harun melanjutkan membersihkan rumahnya. Dibantu relawan, dia tampak mengangkat lemari es keluar rumah. Di dalam rumah tersisa meja rias. Kacanya sudah berantakan. ’’Rumah milik orang tua saya ini yang paling parah,’’ jelasnya.
Pria berusia 40 tahun itu belum berpikir akan membangun kembali rumah orang tuanya. Keterbatasan dana menjadi masalah utama. Untuk sementara, orang tuanya diungsikan ke rumahnya. ’’Mudah-mudahan dapat bantuan,’’ ucapnya.
Bukan hanya rumah, amukan angin itu juga meluluhlantakkan tempat ibadah. Musala Sabilun Najah di Dusun Kanigoro hancur. Temboknya jebol. Yang tersisa hanya tempat wudu dan cungkup musala. ’’Perabotan rusak semua. Mulai pengeras suara, kipas angin, dan lemari,’’ ucap Lukman Ansyori, takmir Musala Sabilun Najah.
Lukman menyatakan, kini pihaknya hanya berharap uluran tangan dari pemkab dan warga Sidoarjo. Menurut dia, rumah ibadah itu mau tidak mau harus dibangun ulang. Perkiraan anggaran yang dibutuhkan Rp 150 juta. ’’Kami berharap sumbangan,’’ paparnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo Dwijo Prawito mengakui, saat ini bantuan dari pemkab belum cair. Pihaknya masih memvalidasi data warga terdampak. Menurut Dwijo, setelah dicek, jumlah warga terdampak berkurang. Awalnya ada 449 rumah, kini menjadi 418 rumah. Perinciannya, 243 rumah di Desa Terung Kulon dan 172 rumah di Desa Keboharan. ’’Dulu pas data ada yang dobel,’’ ucapnya.
Data itu nantinya dirapatkan lagi. Tujuannya, menentukan besaran yang didapatkan warga. Misalnya, rusak ringan akan mendapatkan anggaran berapa dari pemkab. Warga yang rumahnya rusak ringan maksimal mendapatkan bantuan Rp 5 juta, rusak sedang Rp 10 juta, dan rusak berat Rp 20 juta. Jika hancur total, warga mendapatkan Rp 30 juta. ’’Namun, masih kami rapatkan lagi,’’ jelasnya.
Dwijo berharap pihak desa bisa segera mengoordinasikan warganya. Misalnya, mendata warga yang belum memiliki ATM atau rekening bank. Sebab, bantuan uang nantinya tidak diberikan secara langsung, melainkan melalui sistem transfer. ’’Semakin cepat data kami peroleh, semakin cepat bantuan cair,’’ tuturnya.
Ketua DPRD Sidoarjo Sulamul Hadi Nurmawan akhir pekan itu berkunjung ke lokasi bencana. Wakil rakyat asal PKB itu berdialog dengan salah seorang warga, Siti Khodijah. Bencana angin kencang tersebut membuat warung bakso milik Siti hancur tidak berbekas. Setelah berdialog dengan warga, pria yang akrab disapa Wawan itu meminta BPBD Sidoarjo segera mencairkan bantuan keuangan untuk warga. Dia juga berharap besaran bantuan itu manusiawi. ’’Jangan sampai besarnya terlalu kecil,’’ katanya.
Wawan menambahkan, dewan berencana menambah biaya tidak terduga (BTT). Dia mengatakan, dana yang tersedia saat ini sangat kecil. Jumlahnya hanya Rp 6 miliar. ’’PAK akan kami tambah minimal Rp 10 miliar,’’ tuturnya. (aph/c15/hud/sep/JPG)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
