Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Juni 2017 | 08.54 WIB

Napak Tilas Jejak sang Proklamator, Cangkruknya di Seberang Kos-kosan

GANG JALAN PANDEAN: Di gang tersebut, ada rumah yang menjadi tempat kelahiran Soekarno pada 6 Juni 1901. Rumah berukuran 6 x 14 meter ini berdekatan dengan rumah H.O.S Tjokroaminoto. Hanya, saat ini dimiliki pihak swasta. Namun, Seokarno tidak tinggal lam - Image

GANG JALAN PANDEAN: Di gang tersebut, ada rumah yang menjadi tempat kelahiran Soekarno pada 6 Juni 1901. Rumah berukuran 6 x 14 meter ini berdekatan dengan rumah H.O.S Tjokroaminoto. Hanya, saat ini dimiliki pihak swasta. Namun, Seokarno tidak tinggal lam



Sementara itu, kelahirannya di Jalan Pandean IV Nomor 40 tersebut dikutip dari penelitian sejarawan dari LIPI Nurinwa Ki S. Hendrowinoto.



Adrian menambahkan, ada dua bukti yang menyatakan Soekarno lahir di Surabaya. Pertama, akte kelahiran yang digunakan untuk mendaftar ke THS (nama lama ITB). Kedua, buku biografi besutan Im Yang Tjoe yang ditulis pada 1933. Pada buku berjudul Soekarno sebagai Manoesia tersebut dituliskan bahwa ayah Soekarno lantas pindah ke Surabaya setelah mempersunting Ida Ayu Nyoman Rai.



Adrian menceritakan bahwa waktu itu ayah Soekarno mengajar di sekitar Peneleh. ”Untuk menyenangkan ibunya, ayah Soekarno mencari rumah di daerah Lawang Seketeng yang banyak dihuni orang Bali,” tuturnya. Lawang Seketeng kini bernama Pandean dan Peneleh.



Setelah lahir di Surabaya, Soekarno memang pindah ke beberapa kota sebelum akhirnya kembali lagi ke Surabaya saat bersekolah di HBS. Antara lain, Tulungagung, Jombang, dan Mojokerto. ”Saat ngekos di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, orang tua Soekarno masih di Mojokerto,” ungkap Peter.



Menurut dia, Soekarno memang dikenal dengan sosok yang patut diteladani sejak kecil. Dia rajin belajar. ”Dia ingin seperti orang Belanda. Jadi, dia banyak belajar bahasa,” jelasnya. Soekarno juga suka menirukan cara berpidato H.O.S. Tjokroaminoto.



Sebelum kemerdekaan pun, Soekarno sempat kembali ke tanah kelahirannya. Setelah keluar dari penjara karena pembacaan Indonesia Menggugat, pidato pembelaan Bung Karno pada 1930, dia diundang anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) ke Surabaya untuk berorasi. ”Saat di Stasiun Gubeng itu, dia disambut ribuan warga walaupun saat itu dirinya adalah residivis yang ditakuti,” jelas Adrian. (bri/lyn/c25/jan)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore