Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 November 2017 | 03.24 WIB

Uang Jajan Rp 30 Ribu Habis untuk Beli Sabu-Sabu

CURHAT: Burhan saat menjalani assessment di ruang konseling BNNK Surabaya Senin petang (20/11) - Image

CURHAT: Burhan saat menjalani assessment di ruang konseling BNNK Surabaya Senin petang (20/11)

JawaPos.com - Cuaca di langit Surabaya, Senin petang (20/11) mulai mendung. Di kantor Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya, hiruk-pikuk masih terasa. Terutama di ruang konseling yang dijadikan tempat assessment bagi para pecandu narkoba yang menjalani proses rehabilitasi.


Di salah satu meja, ada seorang pelajar kelas IX SMP yang duduk anteng. Sebut saja namanya Burhan. Sudah keempat kali ini, remaja berusia 16 tahun itu manjalani program assessment. Sesekali tangan kirinya memegang bolpen yang berada di sudut meja.


Meskipun anteng, Burhan tampak gugup dan gelisah. Ini terlihat dari gaya bicaranya saat menjawab pertanyaan dari konselor BNNK Surabaya, Ika Nur Widayati. ”Jadi kamu masih merokok ya, Dek? Hayo ngaku,” tanya Ika dengan sabar.


Ujung bolpen itu diplintir-plintir oleh Burhan. Dia bingung mau menjawab. Seolah dalam batinnya timbul pergolakan. Menjawab jujur takut kena marah. Kalau bohong, bisa-bisa dapat masalah lainnya. ”Udah jawab aja nggak papa. Nggak dimarahin kok,” ujar Ika, seakan-akan tahu jalan pikiran Burhan.


”Enggak kok. Sudah nggak merokok bu,” jawab Burhan. Dia lalu melanjutkan ceritanya, bahwa saat ini dia berhenti merokok. Semua pengakuannya sudah ditulis di atas secarik kertas.


Sebelum menjalani assessment, Burhan memang mendapat pekerjaan rumah (PR). Dia diminta untuk menulis tentang bahaya rokok. PR itu adalah salah satu metode yang digunakan konselor BNNK Surabaya agar pelajar yang kecanduan narkoba punya kesibukan.


Sebelum mengenal narkoba, Burhan memang akrab dengan rokok dan minuman keras. Dia terbiasa mengonsumsi dua benda itu di sebuah rumah kosong di kawasan Sidonipah, Surabaya, tak jauh dari rumahnya.


Kepada JawaPos.com, Burhan mengaku bahwa dia pakai sabu-sabu menjelang kenaikan kelas. “Seminggu sekali pakai bareng temen-temen, Mas. Tiga orang,” akunya.


Awalnya Burhan disuruh mencicipi sabu-sabu oleh temannya. Dia pun tak menolak. Rasa penasarannya begitu besar. ”Kepingin aja, Mas. Coba-coba. Makai sama enggak sama aja, sama-sama dimarahi bapak,” ungkapnya.


Bungsu dari tiga bersaudara itu kemudian menceritakan hubungan dengan ayahnya yang tidak harmonis. Sejak kecil, Burhan kerap dihajar oleh sang ayah. Ayahnya memang sosok yang tempramental. Burhan mengaku tidak pernah ngobrol dengan ayahnya kalau bukan karena dimarahi.


Saat tumbuh menjadi remaja, Burhan juga tetap diberlakukan kasar. ”Nggak ngurus bapak. Selama ini yang ngasih uang ya ibu,” kata ABG yang gemar main playstation itu.


Orang tua Burhan mendapat penghasilan dari berjualan ayam potong. Dari pendapatan itu, Burhan mendapat uang saku sebesar Rp 30 ribu. Uang sebesar itu bisa habis dalam sehari.


Burhan mengaku uangnya kadang juga dipakai untuk membeli rokok dan miras. ”Beli sabu-sabu juga kadang urunan dari uang jajan itu,” bebernya polos.


Jalan hidup Burhan sebenarnya bisa dibilang beruntung. Andai saja BNNK Surabaya tidak menggelar tes urine di sekolahnya, mungkin dia masih jadi pemadat.


Tes urine tersebut diadakan bulan lalu. Saat itu, BNNK mendapati lima siswa yang mengonsumsi narkoba di sekolah yang terletak di kawasan Simokerto, Surabaya, tersebut.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore