
MENANTI SOLUSI: SDN Sidokare 2 menjadi langganan banjir setiap kali hujan deras mengguyur.
JawaPos.com- Hujan yang terus mengguyur Sidoarjo Selasa (6/12) kembali merendam sejumlah kawasan. Jalan Kutuk Sidokare lagi-lagi menjadi wilayah yang paling mengenaskan. Ketinggian air mencapai 30–50 sentimeter. Anak-anak sekolah terpaksa belajar di tengah kepungan air.
Berdasar pantauan Jawa Pos, genangan air terlihat di ujung Jalan Kutuk. Pengendara yang masuk dari arah Jalan Raya Taman Pinang Indah (TPI) harus mengurangi kecepatan. Ketinggian air mencapai 30 sentimeter. Puluhan kursi kayu tampak diletakkan memanjang di jalan sebagai penanda bagi pengendara untuk berhati-hati.
Begitu masuk ke Jalan Kutuk, permukaan air semakin tinggi. Misalnya, di depan Perumahan Pondok Sidokare Asri. Aspal jalan tidak lagi terlihat. Tertutup genangan air yang berwarna kecokelatan. Pengendara roda dua harus menuntun kendaraan. Kalau dipaksa, mesin motor jelas akan mati.
Banjir juga memaksa siswa pulang dengan menenteng sepatu. Misalnya, empat pelajar SDN Sidokare 2, Rafika Putri, Amelia Dinda, Reskia Elza, dan Maria Ifana. Kemarin siswa kelas VI pulang setelah menjalani ujian akhir semester (UAS). Mereka berjalan hati-hati lantaran khawatir salah melangkah. Permukaan jalan sudah tertutup air. Rok merah yang mereka kenakan dibiarkan basah. ”Air masuk sampai ke kelas. Namun, ujian sekolah tetap berjalan,” kata Rafika.
Wali Kelas IV SDN Sidokare 2 Susiana menyatakan, hujan deras terjadi pada Senin (5/12). Nah, kemarin merupakan hari pertama para siswa menjalani UAS dalam kondisi banjir. Siswa kelas I, II, dan III terpaksa diliburkan. Sementara itu, kelas IV, V, dan VI tetap masuk. ”Kami tidak berani menanggung risiko kalau siswa kelas I, II, dan III tetap masuk. Mereka kan masih sangat kecil. Takut sakit,” terangnya.
Sejatinya, lanjut dia, pihak sekolah ingin meliburkan seluruh siswa. Namun, lantaran UAS, siswa kelas IV, V, dan VI tetap masuk. ”Kalau kami liburkan, khawatir ada bocoran soal UAS. Jadi, ya mereka terpaksa mengerjakan UAS dalam kondisi kebanjiran,” ungkapnya.
Siswa yang diliburkan tetap mendapatkan tugas di rumah. Kemudian, tugas tersebut dibahas bersama pada saat masuk sekolah. Siswa kelas I hingga III itu diliburkan sampai kondisi banjir mulai surut. ”Siswa kelas IV, V, dan VI masuk hingga Sabtu (10/12). UAS kan sampai Sabtu,” ujarnya.
Kemarin Kepala Bidang TK/SD Dinas Pendidikan (Dispendik) Sidoarjo Djoko Supriyadi turun untuk memantau kondisi banjir di SDN Sidokare 2. Dia menuturkan, SDN Sidokare 2 dan 3 memang selalu menjadi langganan banjir ketika hujan deras. Kondisi SDN Sidokare 2 termasuk yang paling parah. ”Ada beberapa sekolah yang banjir hanya sesaat. Hujan deras, menggenang, lalu surut. Tanpa mengganggu aktivitas belajar. Berbeda dengan Sidokare,” tuturnya.
Karena itu, lanjut dia, SDN Sidokare 2 menjadi prioritas dispendik dalam program rehabilitasi gedung sekolah rusak berat. Dispendik mengalokasikan anggaran untuk pembangunan dua lantai dan peninggian gedung 1 meter. ”Sekolah tersebut butuh ruang kelas baru. Banyak kondisi bangunan yang kurang layak,” tandasnya.
Djoko mengaku, jumlah 500 siswa tidak seimbang dengan ruang kelas. Selama ini satu ruang dimanfaatkan untuk tiga kelas. Sistem masuk sekolah dilakukan secara sif. Dengan pembangunan gedung dua lantai dan peninggian gedung, kondisi sekolah diharapkan semakin baik. ”SDN Sidokare 2 kami prioritaskan tahun depan lantaran sudah mendesak,” tegasnya.
Rehabilitasi gedung SDN Sidokare 2 membutuhkan alokasi anggaran Rp 1,5 miliar. Masing-masing kelas diperkirakan butuh Rp 190 juta. Tahun depan dibangun empat kelas. Dibutuhkan sekitar Rp 800 juta. Nah, sisanya diperuntukkan kebutuhan peninggian gedung. ”Kalau anggaran lewat APBD masih kurang, kami punya mekanisme melalui dana alokasi khusus (DAK) atau minta bantuan sosial kepada pusat,” tandasnya.
Selain menggenangi jalan dan sekolah, banjir membuat warga setempat tidak bisa beraktivitas. Menurut Nur Saliman, dirinya tidak masuk kerja karena khawatir permukaan air semakin tinggi dan masuk ke rumah. ”Saya izin tidak masuk kantor,” jelasnya.
Saliman menjelaskan, sejak Senin malam (5/12), air menggenangi jalan. Pukul 21.00 tinggi air berkisar 30 sentimeter. Ketinggiannya bertambah karena hujan terus tumpah. ”Banjir menjadi langganan di sini,” ucapnya.
Sejumlah jalur protokol tergenang. Di antaranya, Jalan Diponegoro, tepatnya sebelum pintu masuk stasiun. Ketinggian air mencapai 20 sentimeter. Lalu, di Jalan Raden Patah, air menggenangi halaman MTs NU Walisongo. Sekolah itu menjadi langganan banjir. Pada Oktober lalu, air menggenangi sepuluh kelas sekolah tersebut. Sekolah diliburkan. Genangan juga terlihat di Jalan Pasar Ikan. Air masuk sampai ke Tri Dharma Tjong Hok Kiong. Tingginya berkisar 30 sentimeter.
Kepala Bidang Operasional Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Agus Hidayat menjelaskan, banjir terjadi karena curah hujan sangat tinggi. Berdasar data yang dihimpun dinas PU pengairan, curah hujan tinggi terdapat di tiga wilayah. Yakni, Desa Sumput 95ml/detik, Desa Durungbedug 89 ml/detik, dan Desa Grogol 93 ml/detik.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
