Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 April 2026 | 02.39 WIB

Urgency Culture Menghambat Kemampuan Hidup Berkualitas: Saat Kesibukan Mengaburkan Arah Hidup

Ilustrasi Urgency Culture (Freepik) - Image

Ilustrasi Urgency Culture (Freepik)

JawaPos.com - Dalam kehidupan modern, ritme aktivitas semakin cepat dan menuntut respons instan. 

Pesan singkat, surel, hingga notifikasi media digital datang tanpa henti dan seolah harus segera ditanggapi. 

Tanpa disadari, kebiasaan ini membentuk pola hidup yang lebih menekankan kecepatan daripada makna.

Fenomena tersebut dikenal sebagai budaya serba mendesak atau urgency culture

Dalam kondisi ini, seseorang cenderung bereaksi terhadap setiap tuntutan yang muncul tanpa mempertimbangkan apakah hal tersebut benar-benar penting. 

Akibatnya, aktivitas meningkat, tetapi arah hidup menjadi kabur.

Padahal, hidup yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat seseorang bertindak, melainkan oleh ketepatan dalam memilih prioritas. 

Oleh karena itu, memahami perbedaan antara hal yang mendesak dan yang penting menjadi langkah awal untuk keluar dari jebakan kesibukan tanpa makna.

Ketika Kesibukan Disalahartikan sebagai Kemajuan

Banyak orang menjalani hari dengan berpindah dari satu tugas ke tugas lain secara terus-menerus. 

Kalender dipenuhi jadwal, notifikasi berdatangan, dan tenggat waktu silih berganti. 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore