Ilustrasi seorang perempuan yang sedang menyantap mie instan pakai nasi putih (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Mie instan adalah produk pangan olahan yang dibuat untuk mudah dimasak dan cepat disajikan. Produk ini dirancang untuk dikonsumsi dengan cara diseduh atau dimasak singkat menggunakan air panas.
Harga mie instan yang tergolong murah juga menjadi alasan tambahan mengapa produk ini menjadi pilihan utama yang dipilih di berbagai situasi, terutama saat membutuhkan hidangan yang cepat dan mudah. Namun, konsumsi mie instan sangat perlu untuk dibatasi agar tidak menyebabkan masalah kesehatan.
Risiko Kesehatan Akibat Kebiasaan Makan Mie Instan Pakai Nasi
Mie instan kerap dianggap sebagai pilihan makanan yang kurang sehat karena mengandung karbohidrat, lemak, dan natrium dalam jumlah tinggi. Sementara kadar zat yang bermanfaat seperti protein, serat, dan vitaminnya justru relatif rendah.
Terlebih lagi kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia yang mengonsumsi mie instan bersama dengan nasi. Dikutip dari Halodoc, berikut adalah lima risiko kesehatan yang mengintai akibat kebiasaan mencampur mie instan dengan nasi:
Baca Juga: Tak Kalah dari Salmon, Intip 4 Manfaat Ikan Kembung yang Layak Jadi Menu Andalan Sehari-hari
1. Konsumsi Karbohidrat Berlebih
Mie dan nasi sama-sama mengandung karbohidrat yang tinggi, sehingga ketika kamu mengonsumsinya keduanya akan menimbulkan rasa kenyang lebih cepat. Dampaknya, asupan zat gizi penting selain karbohidrat, seperti protein, lemak, serta mineral, menjadi kurang terpenuhi.
2. Risiko Terkena Diabetes
Mengonsumsi mie instan yang dipadukan dengan nasi dapat menyumbang sekitar 750 kalori hanya dari karbohidrat, sehingga kurang baik bagi kesehatan. Asupan karbohidrat yang berlebihan akan dipecah menjadi gula dan memicu peningkatan hormon insulin. Jika jumlah gula terlalu banyak, kerja insulin menjadi tidak optimal, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes.
3. Memicu Kondisi Obesitas
Kebiasaan mengonsumsi mie instan yang dicampur nasi secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas. Hal ini terjadi akibat asupan karbohidrat yang terlalu tinggi dan kemudian diubah menjadi lemak.
Jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup, penumpukan lemak akan memicu kenaikan berat badan. Kondisi berat badan berlebih ini diketahui berperan besar dalam meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, seperti diabetes, penyakit jantung, dan obstructive sleep apnea.
4. Menyebabkan Tekanan Darah Tinggi

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
