Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 September 2025 | 02.46 WIB

Musik Klasik Tingkatkan Konsentrasi? Begini Fakta, Pendapat Ahli, dan Tren di Media Sosial

ILustrasi seseorang yang mendengarkan musik

JawaPos.com – Musik dan otak manusia sudah lama menjadi topik penelitian menarik. Salah satu bahasan yang kembali populer di media sosial adalah hubungan musik klasik dengan tingkat konsentrasi. Banyak warganet membagikan pengalaman pribadi mereka, menyebut musik klasik efektif membantu fokus saat belajar atau bekerja. Namun, benarkah klaim ini memiliki dasar ilmiah?

Fenomena ini bisa dilihat dari berbagai unggahan di TikTok dan YouTube. Akun @productivityboii misalnya, membagikan tips belajar produktif dengan mendengarkan musik klasik sebagai latar. Ia menekankan bahwa musik dengan tempo stabil dan minim lirik membantu otak lebih fokus mengerjakan tugas. Video tersebut mendapat ribuan interaksi, terutama dari mahasiswa yang mengaku terbantu menjaga konsentrasi saat menghadapi deadline.

Hal serupa juga ditunjukkan dalam video YouTube Kok Bisa? yang membahas hubungan musik dengan kinerja otak. Dalam penjelasannya, musik klasik memiliki pola harmonis yang dapat menstimulasi area otak terkait memori dan konsentrasi. Beberapa penelitian disebutkan mendukung hipotesis ini, meski hasilnya tidak selalu konsisten pada setiap individu.

Di sisi lain, warganet di akun TikTok @gabriellagata_ membagikan pengalamannya saat mendengarkan karya Mozart untuk menemani sesi belajar. Ia merasa lebih mudah memahami materi yang kompleks. Unggahan ini menegaskan bahwa musik klasik sering dipilih karena tidak mengandung distraksi verbal sehingga otak lebih leluasa menyerap informasi.

Meski begitu, tren ini juga menimbulkan perdebatan. Beberapa konten, seperti yang dibagikan akun @romancedeprived, justru mempertanyakan efektivitas musik klasik. Menurutnya, fokus belajar sangat bergantung pada preferensi individu. Ada yang lebih terbantu dengan musik instrumental, namun ada pula yang lebih nyaman dalam suasana sunyi. Konten ini membuka ruang diskusi di kolom komentar, memperlihatkan bahwa tidak ada formula tunggal untuk meningkatkan konsentrasi.

Selain itu, akun @dencma1 menyoroti konsep Mozart Effect, yakni keyakinan bahwa mendengarkan musik Mozart mampu meningkatkan kecerdasan dan fokus. Meski sempat populer, sejumlah penelitian terbaru menyebut efek ini lebih banyak dipengaruhi faktor mood atau suasana hati, bukan semata-mata karena musik klasik itu sendiri.

Namun, tak bisa dipungkiri bahwa musik klasik memang menawarkan ketenangan yang bisa membantu mengurangi kecemasan. Akun @bohopannaofficial bahkan menyebut musik klasik efektif untuk relaksasi sebelum tidur. Efek menenangkan inilah yang kemudian secara tidak langsung mendukung konsentrasi saat kembali beraktivitas.

Lalu, bagaimana sebaiknya memahami fenomena ini? Pakar psikologi kognitif dalam berbagai kajian menegaskan bahwa manfaat musik klasik tidak bersifat universal. Setiap orang memiliki preferensi dan sensitivitas berbeda terhadap rangsangan suara. Bagi sebagian orang, musik klasik bisa menjadi pendukung produktivitas. Namun, bagi lainnya, justru bisa menjadi distraksi.

Artinya, musik klasik memang dapat membantu meningkatkan konsentrasi, tetapi efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh kondisi individu, suasana hati, dan jenis pekerjaan yang dilakukan. Jika pekerjaan membutuhkan konsentrasi mendalam seperti menulis atau menghitung, musik instrumental dengan ritme stabil cenderung lebih membantu dibanding musik dengan lirik.

Fenomena ramainya pembahasan musik klasik di TikTok dan YouTube menunjukkan bagaimana budaya digital memengaruhi cara masyarakat mencari solusi atas tantangan sehari-hari. Musik bukan hanya hiburan, tetapi juga dianggap sebagai alat bantu produktivitas. Meskipun belum ada kesimpulan ilmiah yang seragam, tren ini tetap memberikan ruang eksplorasi bagi setiap individu untuk menemukan cara belajar yang paling sesuai.

Dengan demikian, musik klasik bisa dijadikan pilihan untuk meningkatkan konsentrasi, asalkan digunakan secara tepat. Pada akhirnya, kunci fokus tetap terletak pada pengelolaan waktu, lingkungan belajar yang kondusif, serta kondisi mental yang sehat.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore