Ilustrasi anak yang sulit fokus, Salah satu gejala gangguan ADHD. (Freepik)
JawaPos.com-- Hari ini, kita hidup dalam dunia yang tak pernah sepi dari hiburan. Video, TV, film, musik, podcast, dan yang paling merusak: notifikasi tanpa henti.
Semua itu membanjiri indera kita, merangsang otak kita terus-menerus. Akibatnya, kita kehilangan kemampuan paling mendasar: fokus.
Ini bukan sekadar perasaan pribadi. Penelitian pun menunjukkan bahwa rentang perhatian manusia kini menurun drastis. Mudah menyalahkan internet, tapi sebenarnya masalah ini jauh lebih tua.
Internet hanya memperparahnya. Untuk memahami dan mengatasi ini, kita perlu membedah akar masalahnya.
Dilansir dari YouTube Jared Henderson, mari kita mulai dari awal: pergeseran dari budaya baca ke budaya layar.
Dari Buku ke Televisi: Awal Perubahan Besar
Pada 1980-an, Neil Postman menulis buku legendaris Amusing Ourselves to Death. Ia mengkritik dampak pergeseran dari budaya baca ke media massa, terutama televisi.
Postman menyoroti bagaimana cara kita menyampaikan informasi, bukan hanya isinya, telah mengubah cara kita berpikir. Ia mengutip Marshall McLuhan yang terkenal dengan frasa: "the medium is the message": media itu sendiri membentuk pesan dan cara berpikir kita.
Zaman dulu, ketika buku menjadi alat utama penyebaran informasi, orang terbiasa membaca dan berpikir panjang. Contohnya, debat Lincoln-Douglas tahun 1858.
Debat ini bisa berlangsung tiga jam, dengan pidato pembuka 60 menit dari tiap kandidat. Penonton saat itu, yang sebagian besar adalah pembaca buku, sanggup mengikuti argumen kompleks yang panjang. Mereka terlatih untuk fokus.
Bandingkan dengan debat Kennedy-Nixon tahun 1960, debat politik pertama yang ditayangkan televisi. Waktunya dipangkas drastis: satu jam saja, dengan pidato pembuka 8 menit.
Format televisi tidak membutuhkan fokus panjang. Yang penting adalah impresi visual. Orang lebih ingat bahwa Nixon "terlihat sakit", bukan isi argumennya. Televisi mengubah cara kita memilih pemimpin.
Televisi melatih kita untuk mengonsumsi potongan informasi pendek. Akibatnya, kita tak lagi terbiasa berpikir dalam jangka panjang. Kita menjadi pemirsa pasif, bukan pemikir aktif.
Dari Televisi ke Internet: Era Kekacauan Digital

Sudah Terima Kompensasi Rp 5 Juta, Pengontrak di Surabaya Diberi Waktu 1 Bulan untuk Pindah
Analisis Prediksi Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Kans Besar Three Lions Lolos ke Semifinal!
Prediksi Susunan Pemain Norwegia vs Inggris di Piala Dunia 2026: Lomba Sihir Erling Haaland dan Harry Kane ke Semifinal!
Prediksi Bursa Taruhan Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: La Roja Dijagokan Melaju ke Semifinal
Tak Singgung Pengunduran Diri, Ini 6 Poin Pernyataan Jampidsus Febrie Adriansyah Usai Rumahnya Digeledah Polisi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Spanyol vs Belgia di Piala Dunia 2026: Tembok Tebal La Roja Bakal Sulitkan Setan Merah!
Rekor 12 Pertemuan Norwegia vs Inggris: Three Lions Superior, Mampukah Erling Haaland Cs Mematahkan Dominasi?
Sepak Bola Indonesia Berduka, Tokoh Suporter Persebaya Surabaya Andie Peci Meninggal Dunia
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
