Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Januari 2025 | 00.25 WIB

Orang Malas yang Berhasil Menaiki Tangga Perusahaan Biasanya Menampilkan 5 Perilaku Ini, Salah Satunya Ternyata Memprioritaskan Tugas

Ilustrasi orang yang sukses, tapi tidak bahagia. (Freepik)

JawaPos.com - Ada kepercayaan umum bahwa hanya orang yang paling bersemangat dan ambisius yang dapat menaiki tangga perusahaan. Tapi coba tebak? Bahkan mereka yang dianggap 'malas' pun bisa mencapai puncak. Kedengarannya mengejutkan, bukan? Yah, itu benar. Orang-orang yang disebut pemalas ini tidak serta merta lepas dari etos kerja atau ambisi. Mereka hanya memiliki pendekatan yang berbeda untuk bekerja, dan secara mengejutkan berhasil untuk mereka!

Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi 5 perilaku berbeda yang sering ditunjukkan oleh orang-orang 'malas' untuk berhasil meningkatkan karier mereka. Mereka mungkin tidak seperti yang Anda harapkan, tetapi sifat-sifat ini bisa menjadi rahasia kesuksesan mereka. Dikutip dari geediting pada Selasa (21/1), berikut 5 perilakunya;

1) Mereka memprioritaskan tugas

Anehnya, mereka yang dianggap 'malas' seringkali hebat dalam menaiki tangga perusahaan karena mereka memprioritaskan apa yang benar-benar penting. Orang-orang ini memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi tugas mana yang akan memberikan hasil paling banyak. Alih-alih mencoba melakukan semuanya sekaligus, mereka fokus pada apa yang benar-benar membutuhkan perhatian mereka. Dengan cara ini, mereka dapat mengalokasikan energinya secara efektif. Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak sebagai kemalasan.

Namun kenyataannya, ini adalah strategi cerdas untuk menghindari kejenuhan dan mencapai lebih banyak dengan sedikit usaha. Tentu, mereka mungkin bukan yang pertama di kantor atau yang terakhir pergi. Tetapi ketika datang untuk memberikan hasil dan membuat dampak? Mereka sudah menutupinya. Kemampuan unik untuk memprioritaskan dan fokus pada tugas berdampak tinggi inilah yang membedakan mereka dan membantu mereka menaiki tangga perusahaan. Tapi ingat, ini bukan alasan untuk mengendur atau mengabaikan tanggung jawab. Ini tentang kerja cerdas, bukan hanya kerja keras.

2) Mereka adalah ahli delegasi 

Anda tahu, ketika saya pertama kali memulai karir saya, saya sangat ingin membuktikan diri. Saya mengerjakan setiap tugas yang menghadang saya, berpikir bahwa melakukan semuanya sendiri adalah kunci kesuksesan. Namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa pendekatan ini tidak hanya melelahkan tetapi juga kontraproduktif. Saat itulah saya mengamati seorang rekan saya. Dia dianggap 'malas' menurut standar konvensional, tetapi yang menarik, dia naik pangkat lebih cepat daripada siapa pun. Bagaimana? Dia menguasai seni delegasi. Dia memiliki pemahaman yang jelas tentang kekuatan dan kelemahannya dan tidak malu mendelegasikan tugas yang dapat dilakukan orang lain dengan lebih baik atau lebih cepat. Pendekatan 'malas' ini memungkinkannya untuk memfokuskan energinya pada inisiatif strategis yang benar-benar penting bagi perusahaan.

Saat itulah saya menyadari nilai pendelegasian. Ini bukan tentang melalaikan tanggung jawab, tetapi memaksimalkan efisiensi dan produktivitas. Jadi, jika Anda ingin naik seperti orang-orang' malas ' ini, belajarlah mendelegasikan secara efektif. Ini memungkinkan Anda untuk fokus pada apa yang Anda lakukan terbaik sambil memastikan pekerjaan dilakukan dengan benar.

3) Mereka memanfaatkan waktu henti secara kreatif

Sementara gagasan yang populer adalah bahwa orang-orang' malas ' menghabiskan waktu senggang mereka untuk bersantai, kenyataannya sangat berbeda jika menyangkut mereka yang menaiki tangga perusahaan. Orang-orang ini menggunakan waktu henti mereka dengan cara yang secara langsung atau tidak langsung berkontribusi pada pertumbuhan profesional mereka. 

Misalnya, mereka dapat menggunakan waktu ini untuk mempelajari keterampilan baru, bertukar pikiran tentang ide-ide inovatif, atau sekadar mengisi ulang baterai mental mereka. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology menemukan bahwa karyawan yang melepaskan diri dari pekerjaan selama jam kerja mereka lebih terlibat dan produktif ketika mereka kembali. Ini bukan tentang menjadi malas.

Sebaliknya, ini tentang menyadari pentingnya memutuskan hubungan dari pekerjaan dan menggunakan waktu itu secara produktif untuk kembali segar dan siap menghadapi tantangan baru. Jadi, jangan meremehkan kekuatan waktu henti yang dihabiskan dengan baik; itu bisa menjadi senjata rahasia Anda untuk menaiki tangga perusahaan.

4) Mereka tahu kapan harus mengatakan 'tidak' 

Ada seni untuk mengatakan 'tidak' yang secara mengejutkan dikuasai oleh banyak orang 'malas'. Ini bukan tentang menghindari pekerjaan, tetapi tentang menetapkan batasan untuk memastikan mereka dapat melakukan yang terbaik. Sementara beberapa orang mungkin memandang orang-orang ini sebagai orang yang kurang berkomitmen karena sesekali menolak untuk melakukan tugas tambahan, kenyataannya sangat berbeda. Mereka memahami batasan mereka dan tidak takut untuk menyuarakannya.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore