Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 8 Agustus 2024 | 14.14 WIB

Sulit Bertanggung Jawab, 6 Perilaku Ini Menunjukkan Seseorang Terjebak dalam Mentalitas Korban Menurut Psikologi

Ilustrasi perempuan yang terjebak dalam mentalitas korban (freepik) - Image

Ilustrasi perempuan yang terjebak dalam mentalitas korban (freepik)

JawaPos.com – Kita semua tentu pernah mengalami suka dan duka, tetapi sebagian orang tampaknya terjebak dalam siklus menyalahkan dan mengasihani diri sendiri.

Pola pikir menyalahkan dan mengasihani diri sendiri, ternyata dikenal sebagai mentalitas korban.

Pasalnya pola pikir benar-benar dapat menghambat mereka menjalani kehidupan terbaiknya.

Bahkan mempunyai pola pikir ini juga dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan pribadi, menciptakan hambatan yang menghalangi individu tersebut yang menghalangi individu tersebut dalam bertanggung jawab atas tindakannya.

Lantas bagaimana cara kita mengenali bahwa seseorang telah terjebak dalam mentalitas korban?

Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai beberapa perilaku yang menunjukkan seseorang terjebak dalam mentalitas korban menurut psikologi sebagaimana dilansir dari laman The Vessel, Kamis (8/8) sebagai berikut. 

  1. Mereka terus-menerus menyalahkan orang lain

Salah satu tanda orang-orang yang terjebak dalam mentalitas korban adalah terus-menerus menyalahkan orang lain. Perilaku ini memang tidak selalu terlihat jelas seperti menunjuk jari dan meneriakkan tuduhan.

Namun sebagai bentuk pola yang tidak Anda sadari hingga mendapati diri Anda terperangkap dalam jaringan rasa bersalah dan tanggung jawab atas situasi yang bukan disebabkan oleh Anda.

Intinya, menyalahkan orang lain atau faktor eksternal secara terus-menerus merupakan cara mereka membela diri dari kenyataan bahwa pilihan dan tindakan mereka memiliki konsekuensi. Mereka lebih suka menyalahkan orang lain daripada menerimanya.

  1. Mereka membesar-besarkan masalah mereka

Seseorang yang mentalitas korban sering kali melihat masalah mereka sebagai gunung yang tidak dapat diatasi bukannya rintangan yang dapat dikelola.

Ini bukan berarti masalah mereka tidak nyata atau signifikan tetapi cara mereka memandangkan dan menyampaikan masalah tersebut sering kali lebih berat daripada tingkat keparahannya yang sebenarnya.

Pada dasarnya, kecenderungan membesar-besarkan masalah ini berasal dari kebutuhan mereka untuk mendapatkan simpati dan perhatian dari orang lain.

Hal ini membuat mereka tetap berada dalam zona nyaman sebagai korban sehingga tidak dapat mengambil langkah-langkah untuk mengatasi dan menyelesaikan masalah mereka.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore