Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 Juli 2024 | 03.05 WIB

Jika Anda Ingin Bahagia, Ucapkan Selamat Tinggal pada 7 Kebiasaan Buruk Ini, Salah Satunya Overthinking

Ilustrasi seseorang yang masalah masa kecilnya belum terselesaikan.(Pexels) - Image

Ilustrasi seseorang yang masalah masa kecilnya belum terselesaikan.(Pexels)

JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa sulit mendapat kebahagiaan belakangan ini? Rasanya sesuatu yang bernama kebahagiaan itu tak terjangkau dan jauh sekali. Jika Anda merasa sulit mendapat kebahagiaan, bisa jadi ada masalah pada kebiasaan-kebiasaan yang Anda lakukan.

Kebiasaan-kebiasaan buruk yang membuat kebahagiaan seolah tak pernah menghampiri Anda, padahal sebenarnya dekat saja. Hanya saja, kebiasaan-kebiasaan buruk itu menghalangi kebahagiaan menelusup ke hati Anda.

Oleh karena itu, jika ingin bahagia, evaluasi dan tinggalkan 7 kebiasaan berikut ini, dikutip dari Ideapod, Minggu (14/7).

1. Overthinking

Pernahkah Anda mendapati diri terjebak dalam siklus pikiran yang tak berujung tentang satu peristiwa, situasi, atau keputusan? Itu dia overthinking. Percayalah, itu bisa membunuh kebahagiaan.

Overthinking tidak menyelesaikan masalah, tetapi justru menciptakannya. Berpikir berlebihan memperparah ketakutan kita, memperbesar kecemasan kita, dan secara umum membesar-besarkan masalah kecil. Maka, ketika Anda mendapati diri Anda terjerumus ke jurang pemikiran berlebihan, arahkan pikiran Anda kembali ke masa kini dengan lembut.

2. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain

Media sosial adalah cuplikan momen terbaik. Orang-orang hanya mengunggah momen terbaik mereka, bukan perjuangan atau rasa tidak aman mereka. Jadi apa yang saya lakukan?

Saya berhenti membandingkan apa yang saya lakukan di balik layar dengan apa yang orang lain lakukan. Saya mulai menghargai perjalanan dan pertumbuhan saya sendiri. Dan tahukah Anda? Itu membebaskan. Perbandingan adalah pencuri kegembiraan. Fokuslah pada jalanmu, kemajuanmu. Karena pada akhirnya, itulah yang benar-benar penting.

3. Menyimpan dendam

Kita semua pernah terluka. Dikhianati oleh seorang teman, dibohongi oleh orang yang kita cintai, dikecewakan oleh seseorang yang kita hormati. Rasa sakit itu nyata, dan terkadang, lebih mudah menyimpan dendam daripada melupakannya.

Anda lihat, menyimpan dendam menghalangi kebahagiaan kita. Lebih dari itu, hal itu tidak membantu siapa pun, apalagi diri kita sendiri.

Seperti yang dikatakan oleh orang-orang di Healthline, "Menyimpan kemarahan dan dendam terhadap orang lain atas kesalahan yang nyata atau yang dirasakan hanya akan menyakiti Anda, bahkan ketika orang itu menyebabkan kerugian yang nyata atau yang dirasakan."

Memaafkan bukan berarti melupakan atau memaafkan kesalahan yang dilakukan kepada Anda. Memaafkan berarti membebaskan diri dari beban amarah dan kepahitan. Apakah Anda menyimpan dendam? Mungkin sudah waktunya untuk melepaskan rasa dendam dan meringankan beban Anda. Memang tidak mudah, tetapi hasilnya akan sepadan.

4. Mengabaikan perawatan diri sendiri

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore