Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Maret 2022 | 20.32 WIB

Batik Blitar Sasar Warga Negara Asing

PEMANTIK: Foto ini yang Justin unggah dengan ikon bendera Indonesia di Instagram. (INSTAGRAM JUSTIN HOLIDAY) - Image

PEMANTIK: Foto ini yang Justin unggah dengan ikon bendera Indonesia di Instagram. (INSTAGRAM JUSTIN HOLIDAY)

KEBERHASILAN Yogi Rosdianta dan Santika Mawar membawa batik Blitar ke panggung NBA tidak dicapai dalam 1–2 hari. Juga, bukan hanya dari September 2021 saat kali pertama Yogi menjangkau Justin Holiday via medsos.

Yogi dan Santika adalah pelaku ekonomi kreatif yang gigih. Pasangan suami istri itu rajin menjajaki peluang. Mulai berdiskusi dengan kedutaan besar RI di banyak negara serta dengan para duta besar (Dubes)-nya. Keduanya bersafari secara virtual dengan perwakilan resmi RI di negara-negara Asia dan Eropa.

Jauh sebelum itu, Yogi dan Santika juga mengambil pilihan yang tak mudah. Fokus pada batik. Misinya, memperkenalkan batik ke kancah internasional. Mereka menyebut idealisme itu sebagai diplomasi batik. Praktis, sejak 2019, keduanya menggeluti batik dengan lebih serius. Yogi yang awalnya bekerja di bidang audio visual dan Santika yang berkecimpung di perbankan akhirnya putar haluan.

"Karena ibu meninggal, kami akhirnya belajar (batik) untuk melanjutkan (usahanya)," ujar Yogi tentang mertuanya yang berpulang pada 2019. Tekad tersebut diwujudkan dengan terjun langsung ke galeri peninggalan ibunda Santika. Galeri yang dibangun pada 2004 itu semula hanya menjadi lokasi pelatihan membatik buat ibu-ibu.

Pada 2015, batik buatan ibunda Santika resmi punya nama. Namanya Batik Mawar Putih. "Dulu ya nggak ada namanya," kata Yogi. Kini, galeri di Jalan Tanjung Nomor 160, Kota Blitar, itu menjadi bengkel bagi Yogi dan Santika untuk berkreasi.

Photo

Batik Blitar karya Yogi dan Santika. (NUR FRIZAL/JAWA POS)

Kerja keras Yogi dan Santika mulai membuahkan hasil. Orderan melimpah. Terutama jenis batik tulis. Bahkan, mereka sering kali harus lembur untuk menyelesaikan pesanan. Batik Mawar Putih merambah Inggris, Malaysia, dan Singapura.

Istimewanya, target pasar Yogi dan Santika bukan WNI yang tinggal di sana, melainkan warga negara setempat. Seperti Justin, kata Yogi, banyak warga negara asing yang tertarik pada batik. Bahkan, mereka rela mengeluarkan biaya lebih banyak. Terkadang ongkos kirim justru lebih mahal dari harga produk batik yang dipesan. (omy/c18/hep)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore