Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 4 Juli 2020 | 14.37 WIB

Stigma Negatif Status Janda Lukai Hati Perempuan Korban Perceraian

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata 'janda' memiliki makna perempuan yang tidak bersuami lagi karena bercerai ataupun karena ditinggal mati suaminya. Namun, sayangnya buat beberapa pria di negara yang dominan dengan tatanan sosial patriarki, janda dianggap sebagai kata yang negatif. Bahkan stigma perempuan korban perceraian sering dipandang sebelah mata.

Praktisi Humas dan Aktivis Pemberdayaan Perempuan sekaligus salah satu pendiri komunitas Save Janda, yang memiliki 1713 follower di Instagram, Myrna Soeryo, menjelaskan kalimat-kalimat 'janda' dalam konteks bercanda menjadi sangat tidak lucu karena dilontarkan oleh para pria yang justru tidak menunjukkan rasa simpati. Mereka tidak merasakan susahnya seorang perempuan 'single' yang kerap dijauhi oleh perempuan-perempuan lain karena takut suaminya diambil orang.

"Dengan stigma pelakor (perebut laki orang) yang kerap dikaitkan dengan kata janda. Atau sulitnya seorang janda yang coba mencari penghasilan lewat barang dagangannya yang sulit laku karena tidak ada yang mau membelinya, hanya karena penjualnya adalah seorang janda," kata Myrna kepada wartawan baru-baru ini.

"Sungguh ironis, bukannya para perempuan ini dibantu dan dimotivasi untuk hidup berdaya, tetapi malah dijadikan bahan bercanda karena statusnya,” jelas Myrna.

Menurutnya, kata 'janda' sering dilekatkan dengan kata-kata yang berkonotasi negatif, sehingga timbul pembentukan opini di masyarakat bahwa kata janda bermakna negatif. Hal ini membuat seorang perempuan, khususnya yang menjadi korban akibat perceraian, menjadi malu bila dijuluki dengan kata janda.

"Seolah-olah kata janda adalah aib bagi masyarakat,” tambah Myrna.

Seorang politisi dan pemerhati isu pemberdayaan perempuan, Firliana Purwanti mengatakan seharusnya para perempuan akibat korban perceraian, justru merasa bangga. Menurutnya, pandangan yang salah jika menganggap bahwa janda cerai kurang terhormat daripada janda yang ditinggal meninggal oleh suaminya.

"Justru para janda cerai harus memberikan apresiasi kepada diri mereka sendiri karena berhasil dan berani keluar dari pernikahan toksik atau pernikahan yang kurang menyenangkan,” kata Firli.

Misalnya masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) atau faktor ekonomi. Tentu membuat posiis perempuan semakin lemah dan terjepit jika tetap mempertahankan rumah tangganya.

"Kerap dalam kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), 70 persen perempuan, memilih untuk kembali ke pernikahan toksik mereka. Mereka memilih untuk kembali berada di lingkaran setan tersebut, salah satunya karena takut diberi julukan janda, selain faktor lainnya seperti ekonomi,” tegas Firli.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=OafDhwmXnnU

https://www.youtube.com/watch?v=SKgu82vqmns

https://www.youtube.com/watch?v=oHUJ8W5OamE

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore