Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 5 Januari 2026 | 18.54 WIB

Jika Anak-Anak Anda yang Sudah Dewasa Jarang Berkunjung, Anda Mungkin Menunjukkan 7 Perilaku Ini Tanpa Menyadarinya Menurut Psikologi

seseorang yang jarang dikunjungi oleh anak-anaknya. (Freepik/The Yuri Arcurs Collection) - Image

seseorang yang jarang dikunjungi oleh anak-anaknya. (Freepik/The Yuri Arcurs Collection)


JawaPos.com - Banyak orang tua merasa bingung dan terluka ketika anak-anak mereka yang sudah dewasa semakin jarang berkunjung, jarang menelepon, atau hanya datang saat ada keperluan tertentu. Pertanyaan yang sering muncul adalah, “Apakah aku gagal sebagai orang tua?” atau “Mengapa anakku berubah?”

Psikologi menunjukkan bahwa jaraknya hubungan orang tua dan anak dewasa sering kali bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena dinamika emosional yang terbentuk secara perlahan dan tanpa disadari. Beberapa perilaku orang tua—yang sebenarnya diniatkan baik—justru dapat membuat anak merasa tidak nyaman untuk pulang atau berlama-lama.

Dilansir dari Geediting, terdapat 7 perilaku yang secara psikologis dapat membuat anak dewasa menjauh, agar hubungan bisa diperbaiki dengan lebih sadar dan dewasa.

1. Terlalu Sering Mengkritik, Meski Dibungkus “Nasihat”


Dalam pandangan orang tua, komentar seperti “Harusnya kamu bisa lebih baik” atau “Dulu seumuran kamu, Ayah/Ibu sudah…” terdengar sebagai bentuk kepedulian. Namun bagi anak dewasa, kritik yang terus-menerus bisa terasa melelahkan secara emosional.

Psikologi menyebut ini sebagai evaluative communication, di mana seseorang merasa dinilai, bukan diterima. Jika setiap kunjungan diakhiri dengan rasa kurang, anak akan cenderung menghindari situasi tersebut demi menjaga kesehatan mentalnya.

2. Sulit Menghormati Batasan Pribadi Anak


Anak yang sudah dewasa membutuhkan ruang otonomi: cara hidup, pilihan pasangan, pola asuh, hingga keputusan karier. Ketika orang tua terus mencampuri dengan alasan “lebih tahu”, anak bisa merasa tidak dipercaya.

Menurut psikologi relasional, pelanggaran batas (boundary violation) adalah salah satu penyebab utama renggangnya hubungan keluarga. Anak mungkin tetap mencintai orang tuanya, tetapi memilih menjaga jarak agar tidak terus-menerus merasa dikontrol.

3. Selalu Mengungkit Masa Lalu


Mengingat kenangan memang manusiawi. Namun ketika orang tua sering mengungkit kesalahan lama, pengorbanan yang telah dilakukan, atau luka masa lalu, anak dewasa bisa merasa terjebak dalam identitas lama yang tidak lagi mencerminkan dirinya sekarang.

Psikologi perkembangan menekankan bahwa manusia butuh pengakuan atas pertumbuhan. Jika anak merasa terus diperlakukan sebagai “anak kecil yang salah”, kunjungan ke rumah orang tua bisa terasa seperti kembali ke masa yang tidak ingin diulang.

4. Menunjukkan Sikap Pasif-Agresif

Kalimat seperti “Ya sudah, Ibu sendirian saja” atau “Tidak apa-apa kok, sudah biasa” sering terdengar sepele. Namun secara psikologis, ini adalah bentuk emosional manipulatif tidak sadar yang memicu rasa bersalah.

Anak dewasa yang sering merasa bersalah setelah berkunjung justru akan memilih menjauh untuk melindungi diri. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena lelah secara emosional.

5. Tidak Pernah Benar-Benar Mendengarkan


Banyak orang tua mendengar untuk merespons, bukan untuk memahami. Saat anak bercerita, responsnya sering langsung berupa solusi, nasihat, atau pembandingan.

Psikologi komunikasi menyebut bahwa active listening adalah kunci kedekatan emosional. Ketika anak merasa suaranya tidak benar-benar didengar, rumah orang tua bukan lagi tempat aman untuk berbagi—melainkan tempat untuk diam.

6. Mengharapkan Anak Mengisi Kekosongan Emosional Orang Tua


Kesepian, kehilangan pasangan, atau perubahan fase hidup bisa membuat orang tua tanpa sadar menggantungkan kebahagiaan pada anak. Harapan agar anak sering datang, menemani, atau selalu ada bisa terasa seperti beban emosional.

Menurut psikologi keluarga, peran terbalik (role reversal) ini membuat anak merasa bertanggung jawab atas emosi orang tua—sesuatu yang berat dan tidak sehat dalam hubungan dewasa.

7. Sulit Mengakui Kesalahan dan Meminta Maaf


Banyak orang tua dibesarkan dengan keyakinan bahwa orang tua harus selalu benar. Namun bagi anak dewasa, ketidakmampuan orang tua untuk mengakui kesalahan menciptakan jarak emosional.

Psikologi menunjukkan bahwa kerendahan hati emosional justru memperkuat hubungan. Sebuah kalimat sederhana seperti “Mungkin Ibu salah” bisa menjadi jembatan yang selama ini hilang.

Kesimpulan

Ketika anak-anak dewasa jarang berkunjung, jawabannya jarang sesederhana “anak durhaka” atau “orang tua gagal”. Lebih sering, itu adalah sinyal adanya dinamika emosional yang belum terselesaikan.

Kabar baiknya, kesadaran adalah awal dari perubahan. Dengan mengurangi kritik, menghormati batasan, mendengarkan dengan empati, dan berani merendah, orang tua bisa kembali menjadi tempat pulang—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Hubungan orang tua dan anak dewasa bukan tentang mengontrol, melainkan tentang saling menghargai sebagai manusia yang sama-sama bertumbuh. Dan sering kali, satu perubahan kecil dari orang tua dapat membuka pintu yang selama ini tertutup perlahan.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore