Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 4 Maret 2025 | 22.41 WIB

Jika Anda Mengalami 4 Perubahan Kebiasaan Dasar Ini Maka Anda sedang Mengalami Depresi Berat, Apa Saja?

Ilustrasi seseorang yang mengalami perubahan kebiasaan karena depresi. (pexels) - Image

Ilustrasi seseorang yang mengalami perubahan kebiasaan karena depresi. (pexels)

JawaPos.com – Tidak ada seorang pun yang memilih untuk mengalami depresi. Namun, itu tidak berarti jika Anda tidak memiliki kendali atas gangguan kesehatan yang serius dan terkadang melemahkan ini yang memengaruhi gaya hidup anda.

Sama seperti seseorang yang dapat membantu memperbaiki kondisi dengan olahraga, terapi kognitif hingga pengobatan agar menjalani hidup yang lebih baik. Setiap orang yang mengalami depresi akan mengalami perubahan kebiasaan dalam menerapkan gaya hidupnya.

Dilansir dari laman YourTango, berikut 4 perubahan kebiasaan dasar yang menandakan seseorang mengalami depresi berat.

  1. Perubahan pada pola makan

Terdapat salah satu penelitian meyakini bahwa komposisi mikrobioma, komunitas mikroorganisme yang hidup dalam sistem pencernaan, memengaruhi kesehatan mental. Hal ini menunjukkan seseorang yang memperbaiki pola makan dapat membantu meredakan gejala psikologis.

Makanan menyediakan nutrisi yang dibutuhkan otak untuk memproduksi neurotransmitter, yaitu zat kimia yang mengatur suasana hati, seperti serotonin, dopamin, dan norepinefrin.

Makanan yang mengandung olahan, gula, dan lemak trans dapat menyebabkan peradangan dalam tubuh, termasuk otak, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko depresi dan kecemasan.

Sedangkan usus juga memiliki peran penting dalam kesehatan mental. Mikrobioma usus yang sehat, yang didukung oleh makanan kaya serat, dapat memengaruhi produksi neurotransmitter dan mengurangi peradangan.

  1. Perubahan pada jam tidur

Perubahan pola tidur memiliki dampak yang signifikan terhadap kesehatan mental. Tidur yang cukup dan berkualitas sangat penting untuk menjaga keseimbangan emosional, kognitif, dan fisik.

Sebaliknya, perubahan pola tidur yang negatif, seperti kurang tidur atau gangguan tidur, dapat memicu atau memperburuk berbagai masalah kesehatan mental. Kurang tidur dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan mental seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Gangguan tidur juga dapat memperburuk gejala gangguan mental yang sudah ada. Kurang tidur dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang drastis, seperti mudah marah, sedih, cemas, atau frustrasi.

Hal ini juga dapat menyebabkan kesulitan dalam mengendalikan emosi dan meningkatkan reaktivitas terhadap stres.

  1. Sering menggunakan media sosial

Media sosial tidak selalu menjadi hiburan yang menyenangkanbanyak bukti yang menghubungkan depresi dengan aktivitas digital yang berlebihan, seperti mengirim pesan teks, menonton klip video, bermain gim video, mengobrol, mengirim email, dan penggunaan media lainnya.

Jika media sosial lebih banyak membuat sseseorang kecewa daripada senang, berhentilah menggunakan media sosial untuk sementara waktu dan ingatlah bahwa kebanyakan orang hanya memposting tentang hal-hal baik dalam hidup mereka.

  1. Menyikapi cuaca

Salah satu penelitian membuktikan bahwa menunjukkan bahwa sebagian orang cenderung merasa lesu di musim dingin saat cahaya matahari lebih sedikit.

Korelasi dengan perubahan musim telah diketahui terkait depresi dan lamanya waktu siang hari. Karena sinar matahari tidak memerlukan resep dokter, tidak ada salahnya untuk mendapatkan banyak sinar matahari jika itu dapat meningkatkan suasana hati Anda.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore