Ilustrasi gaya hidup slow living (freepik)
JawaPos.com - Dalam dunia yang serba cepat ini, mudah untuk terjebak dalam kesibukan. Namun, bagaimana jika ada cara yang lebih baik? Ini tentang memilih kualitas daripada kuantitas, dan menghargai hal-hal kecil.
Slow living bukan berarti melakukan segala sesuatu dengan sangat lambat, tetapi lebih kepada membuat keputusan yang sadar tentang bagaimana kita menghabiskan waktu. Ini tentang meninggalkan kebiasaan tertentu yang menyebabkan stres dan kekacauan dalam hidup kita.
Jika Anda penasaran, JawaPos.com telah malansir dari laman Hack Spirit, Minggu (2/2), tujuh kebiasaan yang harus ditinggalkan untuk kehidupan yang lebih tenang dan tidak terlalu stres. Mari baca hingga akhir untuk wawasan yang lebih mendalam.
1. Melakukan banyak tugas secara bersamaan atau multitasking
Dalam dunia yang serba cepat ini, kemampuan untuk mengerjakan banyak tugas sekaligus sering kali dianggap sebagai keterampilan yang berharga. Ini adalah hal yang lumrah, terutama dalam kehidupan kerja kita.
Namun, apakah multitasking benar-benar membantu kita? Atau justru menambah stres kita? Penelitian menunjukkan bahwa mengerjakan banyak tugas sekaligus dapat mengurangi produktivitas hingga 40 persen.
Hal ini karena otak kita tidak dirancang untuk fokus pada lebih dari satu hal dalam satu waktu. Alih-alih benar-benar mengerjakan banyak tugas sekaligus, kita sebenarnya hanya berpindah-pindah tugas dengan cepat.
Perpindahan tugas yang terus-menerus ini dapat menyebabkan peningkatan kesalahan dan tingkat stres. Menerapkan gaya hidup slow living berarti mengucapkan selamat tinggal pada mitos mengerjakan banyak tugas sekaligus. Sebaliknya, fokuslah pada satu tugas dalam satu waktu.
Berikan perhatian penuh. Anda mungkin akan menemukan bahwa Anda tidak hanya lebih produktif tetapi juga lebih sedikit stres. Hidup lambat bukan berarti melakukan lebih sedikit. Melainkan melakukan segala sesuatu dengan sengaja dan sepenuhnya.
2. Komitmen yang berlebihan
Kita semua pernah mengalaminya. Kalender kita penuh, daftar tugas kita panjang, dan selalu ada hal lain yang harus dilakukan. Anda mungkin berpikir bahwa kesibukan berarti produktivitas dan kesuksesan.
Namun pada kenyataannya, yang terjadi adalah Anda merasa kewalahan dan kelelahan. Slow living adalah tentang memahami batasan Anda dan menghargai waktu dan energi Anda. Ini berarti membuat keputusan sulit tentang komitmen mana yang benar-benar penting dan sepadan dengan waktu Anda.
Hasilnya? Lebih banyak waktu dan energi untuk hal-hal yang benar-benar penting. Lebih sedikit stres, lebih tenang. Komitmen berlebihan adalah kebiasaan yang harus kita tinggalkan. Ingat, ini bukan tentang kemalasan atau ketidakpedulian. Ini tentang membuat pilihan sadar tentang di mana kita menginvestasikan waktu dan energi kita.
3. Konektivitas yang konstan

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
