Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 23 Desember 2024 | 23.38 WIB

Jika Anak Lelaki Sering Direndahkan Ayahnya, 7 Prilaku Menyedihkan ini yang akan Tumbuh di kemudian Hari

 

Ilustrasi anak laki-laki yang terlihat sedih dan depresi karena tumbuh tanpa sosok ayah.

 
JawaPos.com - Jika Anda pernah merasa sering direndahkan oleh ayah Anda saat masih kecil, ketahuilah bahwa Anda tidak sendiri. 
 
Banyak pria tumbuh dengan pengalaman serupa, dan ini dapat memengaruhi pola perilaku mereka di masa dewasa.
 
Pengalaman semacam ini memiliki dampak besar pada harga diri, kesehatan emosional, hingga cara seseorang menjalin hubungan.
 
Dikutip dari Parent From Heart, berikut adalah tujuh perilaku yang sering terlihat pada pria yang sering direndahkan ayah mereka menurut psikologi. 
 
1. Rendahnya Rasa Percaya Diri
 
Sering dikritik oleh ayah dapat menanamkan rasa tidak percaya diri yang bertahan hingga dewasa. Anda mungkin merasa tidak cukup baik atau terus-menerus meragukan kemampuan sendiri. 
 
 
Bentuk rendahnya rasa percaya diri uni bisa terlihat dalam bentuk perfeksionisme, kecenderungan menyenangkan orang lain, ketakutan akan kegagalan, hingga pikiran negatif terhadap diri sendiri.
 
2. Sulit Mengekspresikan Emosi
 
Pria yang dibesarkan oleh ayah yang kritis seringkali belajar untuk menekan emosinya agar tidak semakin disalahkan. 
 
Hal ini menyebabkan mereka jadi kesulitan berkomunikasi secara emosional di kemudian hari. Imbasnya, dapat memengaruhi hubungan dan menciptakan stres berlebih.
 
3. Cenderung Mengisolasi Diri
 
Kritik berulang bisa membuat Anda merasa bahwa orang lain akan memperlakukan Anda dengan cara yang sama. 
 
Akibatnya, Anda mungkin memilih untuk menjaga jarak, baik secara fisik maupun emosional. Sayangnya, isolasi ini sering kali memperkuat perasaan kesepian dan rendah diri.
 
4. Sikap Defensif Berlebihan
 
Pengalaman dikritik tanpa henti dapat membuat Anda menjadi sangat sensitif terhadap masukan, bahkan yang bersifat membangun. 
 
Akibatnya, Anda mungkin terlihat defensif atau cenderung salah memahami kritik sebagai serangan pribadi.
 
5. Kesulitan dengan Figur Otoritas
 
Ayah yang kritis seringkali bersikap otoriter. Hal ini bisa membuat Anda merasa tidak nyaman dengan figur otoritas lain, seperti atasan di tempat kerja. 
 
 
Perasaan ini dapat memicu sikap pemberontakan atau kesulitan mengikuti aturan.
 
6. Pola Sabotase Diri
 
Sering merasa tidak cukup baik dapat membuat seseorang tanpa sadar merusak peluang kesuksesannya sendiri. 
 
Sabotase diri ini bisa berupa penundaan, membuat keputusan buruk, atau menjauh dari orang-orang yang sebenarnya peduli.
 
7. Hipersensitif terhadap Kritik
 
Pengalaman masa kecil yang penuh kritik sering kali membuat Anda terlalu sensitif terhadap umpan balik.
 
Bahkan saran yang positif pun bisa terasa seperti serangan, yang berujung pada rasa malu atau kemarahan.
 
Langkah Menuju Pemulihan
 
Jika Anda mengenali perilaku ini, penting untuk menyadari bahwa masa lalu tidak harus menentukan masa depan Anda. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa membantu:
 
1. Akui Dampak Masa Lalu: Pahami bagaimana pengalaman masa kecil membentuk diri Anda. Ini bukan soal menyalahkan, tetapi menyadari akar dari perilaku tertentu.
 
2. Latih Kasih Sayang pada Diri Sendiri: Terimalah bahwa Anda tidak sempurna, hargai kelebihan Anda, dan perlakukan diri dengan lebih lembut.
 
3. Dapatkan Bantuan Profesional: Konseling atau terapi dapat memberikan strategi yang bermanfaat untuk mengatasi tantangan ini dan membangun pola pikir yang lebih sehat.
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore