Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 Mei 2024 | 18.57 WIB

7 Perilaku Ini Menunjukkan Dampak Negatif dari Orang Dewasa yang Semasa Kecilnya Sering Dimanja, Apa Saja?

ILUSTRASI: Dua orang sedang berargumen, dampak negatif dimanja di masa kecil. (Pexels) - Image

ILUSTRASI: Dua orang sedang berargumen, dampak negatif dimanja di masa kecil. (Pexels)

JawaPos.com – Memanjakan anan, sering kali dianggap menjadi salah satu bentuk cinta dan kasih sayang orang tua terhadap anak.
 
Namun, jika terlalu memanjakan anak-anak di masa kecil atau di masa pertumbuhan, hal ini dapat berdampak buruk ketika mereka dewasa.
 
Dalam perkembangan seorang anak menuju dewasa, peran orang tua tentunya penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak-anak.
 
Alhasil, pola asuh yang salah dapat membuat mereka menjadi pribadi yang dinilai negatif oleh masyarakat, salah satunya dengan pola asuh yang terlalu memanjakan si kecil.
 
Mengutip laman Global English Editing, Senin (27/5), berikut adalah 7 perilaku atau sikap negatif dari orang dewasa yang semasa kecilnya sering kali dimanja orang tuanya.
 
 
1. Sulit menerima penolakan
 
Hal ini terjadi bisa terjadi karena dalam perjalanan menuju dewasa, mereka sering kali terlindung dari kekecewaan dan selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan.
 
Sebagai orang dewasa, hal ini dianggap sebagai ketidakmampuan untuk mengatasi situasi ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai rencana.
 
Orang-orang seperti itu biasanya kesulitan memahami bahwa hidup tidak selalu tentang menang atau mendapatkan apa yang diinginkan.
 
2. Merasa berhak atau istimewa untuk mendapat segalanya
 
Perilaku ini bermula dari masa kecil dimana mereka sering diberikan apa pun yang mereka inginkan.
 
Akibatnya, mereka tumbuh dengan harapan bahwa dunia akan memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka.
 
Mereka mungkin juga kurang menghargai upaya orang lain karena mereka berharap dilayani tanpa imbalan.
 
Perilaku ini dapat menimbulkan konflik dalam hubungan pribadi dan lingkungan profesional yang mengutamakan kerja sama dan saling menghormati.
 
 
3. Kurangnya tanggung jawab
 
Karena telah dilayani sepanjang masa kecilnya, mereka sering kali tidak memahami konsep mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka.
 
Mereka dapat dengan cepat menyalahkan orang lain atas kesalahan atau kegagalan mereka, serta tidak mengakui peran mereka sendiri dalam hal tersebut.
 
Penghindaran tanggung jawab ini dapat merugikan, baik dalam lingkungan pribadi maupun kerja.
 
Hal ini dapat menghambat pertumbuhan dan pembelajaran mereka, karena mengakui kesalahan adalah kunci pengembangan dan peningkatan pribadi.
 
4. Obsesi terhadap harta benda
 
Perilaku ini dapat ditelusuri kembali ke masa kecil ketika mereka secara teratur dihujani hadiah sebagai sarana untuk menenangkan atau menunjukkan cinta.
 
Akibatnya, mereka mulai menyamakan harta benda dengan kebahagiaan dan kesuksesan.
 
Obsesi ini sering kali membuat mereka terus mencari barang yang lebih mahal, mencari kepuasan dengan memamerkan kekayaannya, serta mengukur nilainya berdasarkan apa yang dimilikinya.
 
 
5. Kesulitan dalam berkompromi
 
Saat tumbuh dewasa, mereka terbiasa memenuhi keinginannya tanpa mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Bahkan, sering kali menutupi perasaan orang-orang di sekitar mereka.
 
Keengganan untuk berkompromi dapat membebani hubungan, baik pribadi maupun kerja. Mereka berisiko dicap sebagai orang yang egois atau tidak kooperatif, sehingga menyebabkan keterasingan sosial atau konflik di tempat kerja.
 
6. Keterampilan manajemen keuangan yang buruk
 
Karena mereka sering kali diberikan apa yang mereka inginkan tanpa memahami nilai uang, mereka sering kesulitan dalam membuat anggaran dan membuat keputusan keuangan yang baik di masa dewasa.
 
Mereka mungkin sering mengeluarkan uang terlalu banyak, hidup di luar kemampuan mereka, atau bergantung pada orang lain untuk mendapatkan dukungan finansial.
 
Mereka mungkin juga kesulitan memahami pentingnya menabung dan berinvestasi untuk masa depan.
 
Kurangnya literasi keuangan dapat menyebabkan siklus utang hingga ketidakstabilan
keuangan.
 
 
7. Kesulitan dalam menjaga hubungan jangka panjang
 
Perjuangan ini sering kali merupakan akibat dari perilaku-perilaku yang telah dibahas sebelumnya, seperti kurangnya kompromi, merasa berhak atau istimewa, dan ketidakmampuan mengambil tanggung jawab.
 
Sifat-sifat ini dapat menyulitkan mereka untuk mengembangkan hubungan yang bermakna dan langgeng.
 
Mereka mungkin memiliki ekspektasi yang tidak realistis dari pasangan atau temannya, kesulitan menyelesaikan konflik, atau gagal mempertimbangkan kebutuhan dan perasaan orang lain.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore